
“Itu ... itu ....” Liam sedikit gugup. Bingung harus menjawab apa.
“Apa orang Italia juga, Kak?” Nessia menatap Liam yang duduk di sebelahnya. Tatapannya menanti jawaban Liam.
“Wah ... jika orang Italia, artinya kalau menikah kita harus ke sana. Jauh juga.” Mami Neta mengomentari ucapan Nessia.
“Dia di sini, Kak. Jadi Kak Neta tidak perlu jauh-jauh ke sana.” Liam merasa tidak enak ketika Mami Neta berpikir akan sulit untuk datang ke pernikahannya. Ucapan itu spontan saja keluar dari mulutnya.
“Jadi calon istri Kak Liam tinggal di sini, bukan di luar negeri?” Loveta yang mendengar itu begitu antusias sekali. Karena dari kemarin Liam tidak bercerita sama sekali.
Sepertinya Liam memang terjebak dengan ucapannya sendiri. Semakin banyak berbohong, semakin dia terjebak.
“Iya.” Liam mengangguk. Karena memang sudah tidak bisa mengelak lagi, terpaksa dia mengiyakan.
“Siapa dia?” tanya Loveta semakin penasaran.
“Dia teman kecilku.” Sudah tertangkap basah. Tentu saja Liam memilih untuk mengatakan saja.
Mendapati jawaban Liam membuat Loveta berpikir keras. Entah kenapa, dia merasa jika yang dituju itu adalah dirinya. Karena hanya dirinya yang merupakan teman masa kecil Liam.
__ADS_1
Melihat Loveta yang menatap ke arahnya, membuat Liam bingung. Tak dapat menebak apa yang dipikirkan Loveta.
“Apa dia anak panti?” Mama Neta menebak. Karena jika teman masa kecil hanya anak panti yang mungkin merupakan calon istri Liam.
Saat mendapati Mami Neta mengatakan anak panti, Liam seperti menemukan secercah harapan. “Iya, Kak.” Liam membenarkan. Jika mengelak dengan membenarkan calon istrinya anak panti akan lebih aman.
“Wah ... ternyata kamu menemukan jodoh tidak jauh dari panti asuhan.” Mami Neta tersenyum senang. Dia turut bahagia ketika mendapati jika adiknya menyukai sesama anak panti asuhan.
Ternyata bukan aku.
Entah harus senang atau harus sedih ketika Liam membenarkan ucapan maminya. Saat Liam mengatakan jika calon istrinya adalah teman masa kecilnya, Loveta justru berharap teman masa kecil yang membuat Liam jatuh hati adalah dirinya. Namun, saat ternyata bukan dirinya. Ada rasa kecewa menghinggapi hatinya ketika mendapati kenyataan itu.
Kenapa aku berharap itu aku?
“Aku jadi berpikir siapa saja yang seumuran kamu dulu di panti.” Mami Neta justru semakin penasasaran siapa gerangan wanita yang beruntung itu. “Apa Indah? Apa Martina? Lulu? Itu adalah teman dekatmu sewaktu kecil.” Mami Neta menyebut nama yang menurutnya kemungkinan adalah calon istri Liam.
Mendengar nama-nama asing itu membuat Loveta merasa cemburu. Dari deretan nama itu, tidak ada namanya yang merupakan teman masa kecil Liam.
“Aku akan kenalkan jika nanti waktunya tepat, Kak.” Liam tersenyum pada Mami Neta.
__ADS_1
“Baiklah, dari pada aku main tebak-tebakan, kamu harus membawanya padaku.” Mami Neta tersenyum.
“Ya ... sayang sekali. Padahal Nessia mau dengan Kak Liam.” Nessia yang berada di sebelah Liam meluapkan kekecewaannya.
Liam langsung tertawa. “Sekolah dulu. Nanti kamu akan dapatkan orang yang lebih baik dari Kak Liam.” Liam mengusap rambut Nessia.
“Tapi, aku mau dapat pria yang seperti Kak Liam. Dewasa, baik, perhatian.” Nessia dengan polosnya memuji Liam.
Liam hanya menanggapi dengan tawa. Tidak menanggapi serius.
“Aku suka pria-pria yang lebih tua. Karena mereka biasanya lebih perhatian.” Nessia menatap Liam. Jaraknya sepuluh tahun dengan Liam membuatnya merasa pas sekali.
“Jika kamu suka pria tua, kamu menikah saja dengan kakek-kakek. Dia lebih tua dan akan lebih perhatian.” Danish menyindir kembaranya itu.
Nessia kesal sekali ketika mendengar hal itu. Dia langsung melempar bantal sofa pada saudaranya itu.
“Menyebalkan.”
Danish dapat dengan cepat menerima bantal tersebut. Dia menjulurkan lidah meledek Nessia.
__ADS_1
Liam hanya pasrah ketika berada di tengah-tengah dua anak yang bertengkar. Dia berusaha untuk menenangkan keduanya.
Loveta hanya terus menatap Liam. Sejenak dia mengingat apa yang dikatakan adiknya. Seperti adiknya, dia juga lebih suka pria-pria dewasa. Yang lebih perhatian tanpa harus memohon. Ada terselip rasa sakit ketika menyadari jika selama ini, dia selalu meminta perhatian.