Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 42


__ADS_3

Leo benar-benar berada di dalam dilema karena ternyata bukti yang dimiliki anak papanya begitu kuat. Hal itu jelas membuat Leo takut restoran akan diambil alih.


“Dengar, kita harus bisa mempertahankan restoran. Jangan sampai kita kalah. Sudah puluhan tahun kita kembangkan restoran.” Bella yang duduk di belakang berbicara.


“Jika dia punya bukti kuat, bagaimana bisa kita menang, Ma?” Leo gatal untuk mengomentari hal itu.


“Leo, kenapa kamu bicara seperti itu. Kamu harus yakin restoran akan menjadi punya kita.” Bella menegur sang anak.


Leo akhirnya memilih diam saja. Tak mau bicara sama sekali. Karena dia merasa jika mamanya pasti ingin restoran tetap menjadi milik keluarga.


Leo melihat papanya yang duduk di sebelahnya. Terlihat jelas jika sang papa diam saja. Leo yakin jika sang papa sedang memikirkan semua ini. Pastinya ada kegundahan yang dirasakannya. Melihat sang papa seperti itu membuat Leo  merasa tidak tega. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Usai mengantarkan kedua orang tuanya pulang, Leo memilih ke toko perhiasannya tempat Loveta bekerja. Selain masalah keluarga, dia harus menyelesaikan kisah percintaannya.


Saat sampai di toko, Leo segera menemui Loveta di ruangannya.


“Hai.” Leo langsung menyapa Loveta.


Loveta cukup terkejut dengan kedatangan Leo ke toko. Tidak pernah terjadi selama ini.


“Kamu ke sini?” tanya Loveta.

__ADS_1


“Aku ingin bicara denganmu.” Leo memang tidak mau masalah ini terus berlarut.


Loveta melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Waktu menunjukkan jam setengah dua belas. Sebentar lagi waktunya istirahat.


“Kita bicara di luar saja.” Loveta mengajak Leo untuk keluar. Karena tidak mungkin dia bicara di toko.


“Baiklah.” Leo mengangguk.


Akhirnya Leo dan Loveta segera keluar. Mereka menaiki mobil. Leo melajukan mobilnya menuju ke restoran miliknya.


Sepanjang jalan Loveta memilih diam. Tidak mau bicara apa-apa. Lagi pula Leo masih menyetir. Jadi dia tidak mau membuat konsentrasi Leo terganggu.


Sesampainya di restoran, mereka masuk ke ruangan privat. Sengaja Leo menggunakan ruangan itu agar leluasa untuk bicara dengan Loveta.


“Apa pertanyaan itu harus aku jawab?” Loveta justru balik bertanya.


Leo tahu jika Loveta masih marah padanya. Tentu saja tanpa Loveta menjawab semua sudah jelas.


Leo meraih tangan Loveta. “Aku tahu kamu masih marah, tapi bisakah kita selesaikan ini segera. Aku tidak suka berkonflik seperti ini.” Leo merasa sudah terlalu lama konflik yang terjadi antara dirinya dan sang kekasih.


Loveta juga sebenarnya tidak mau berkonflik seperti yang dikatakan Leo. Namun, Leo sendiri yang tidak mengerti dirinya.

__ADS_1


“Sekarang aku paham kenapa kamu kecewa dan kesal ketika aku tidak menghubungimu. Karena itu yang aku rasakan juga.” Leo menatap Loveta lekat. Mencoba meyakinkan Loveta.


Loveta yang tadinya malas melihat ke arah Leo, segera beralih ke arah Leo.


“Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?” tanya Loveta memastikan.


“Iya, aku tahu aku salah, tapi coba mengertilah alasanku juga. Aku tidak menghubungimu karena agar ada rasa rindu di antara kita. Kita selalu bersama. Pastinya aku tidak akan pernah merindukanmu. Saat jauh dan tidak berkomunikasi denganmu itu membuat aku rindu.” Leo mencoba menjelaskan dari sudut pandangnya.


Loveta memikirkan apa yang dikatakan Leo. Intensitas bertemu dengan Leo memang banyak. Jadi wajar jika mereka jarang merasakan rindu, dan saat jauhlah baru mereka merasa rindu.


“Aku paham bagaimana kesalnya kamu, tapi coba pahami aku juga.” Leo menatap Loveta lekat. Menatap penuh harap jika kekasihnya itu bisa mengerti dirinya.


Loveta mencoba memahami alasan Leo. Sebenarnya, tidak ada yang salah di antara mereka. Hanya saja mereka punya pikiran masing-masing. Hubungan mereka terjalin bukan sehari atau dua hari. Lagi pula karena masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan, mereka tidak harus bertengkar.  


“Tapi, aku tetap mau dihubungi. Aku juga ingin tahu keadaanmu saat jauh dari aku.” Loveta mengungkapkan isi hatinya. Tetap ada rasa sakit ketika tidak mendapati kabar dari Leo.


“Aku tahu. Lain waktu aku akan menghubungimu untuk memberikan kabar.” Leo menuruti apa yang diinginkan Loveta.


Mendapati jawaban Leo membuat Loveta segera menangis. Tidak menyangka Leo akan secepat itu memahaminya. Masalah yang terjadi memang akan selesai jika keduanya saling mengerti satu dengan yang lain.  


Melihat Loveta menangis, membuat Leo segera menghampiri Loveta yang duduk di depannya. Memeluknya untuk menenangkannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2