Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 36


__ADS_3

Leo sampai di rumah keluarga Fabrizio. Saat sampai dia melihat jika mobil Loveta ada di rumah. Jelas dia berpikir jika Loveta sedang ada di rumah.


Dengan segera Leo turun dari mobilnya. Mengayunkan langkahnya ke pintu rumah keluarga Fabrizio.


Leo mengetuk pintu. Kemudian menunggu pintu dibuka.


Sesaat kemudian pintu dibuka. Kali ini asisten rumah tangga yang membuka pintu.


“Den Leo.” Karena Leo sudah sering ke rumah, tentu saja semua orang sudah kenal.


“Bi, apa Lolo ada di rumah?” tanya Leo tanpa basa-basi.


“Non Cinta baru saja pergi dengan keluarga makan malam.” Asisten rumah tangga memberitahu.


Mendapati jawaban itu membuat Leo sedikit kecewa. Pasalnya dia berharap bisa bertemu Loveta. Biasanya Loveta akan mengabarinya jika pergi-pergi. Namun, kali ini kekasihnya yang marah itu tidak memberitahu.


“Baiklah, Bi. Terima kasih.” Terpaksa Leo pulang dengan tangan kosong.


“Apa ada pesan untuk Non Cinta?” tanya asisten rumah tangga kembali.


“Sampaikan saja jika saya ke sini.”


“Baiklah.”


Leo segera pergi. Ada terselip rasa kecewa ketika mendapat Loveta tidak ada.


 

__ADS_1


...****************...


Suasana makan malam begitu hangat. Semua berkumpul. Ada Papi Dathan, Mami Neta, Papa Adriel, Mama Arriel, Bu Kania, Loveta, Liam, Nessia, Danish, dan Alca. Mereka semua berkumpul.


“Rasanya senang sekali ketika bisa berkumpul seperti ini.” Bu Kania tersenyum.


“Iya, Bu. Memang harus sering-sering kita kumpul.” Mami Neta tentu senang bisa berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya.


“Iya, tapi Ibu tetap ingin kita berkumpul di panti asuhan.”


“Kita akan berkumpul di panti asuhan nanti setelah ini, Bu.” Liam meraih tangan Bu Kania. Dia tahu ibunya itu tidak bisa jauh dari anak-anak panti asuhan.


“Baiklah, Ibu menunggu.” Bu Kania tersenyum.


“Jangan lupa Kak Liam bawa sesuatu untuk anak panti.” Loveta mengingatkan Liam.


“Kami akan membantu Kak Liam nanti jika Kak Liam mau memberikan hadiah untuk anak panti.” Nessia tersenyum. Dia ingin dekat-dekat dengan Liam. Walaupun tahu Liam sudah ada yang punya.


“Aku akan bantu, Kak.” Danish ikut menimpali.


“Aku juga akan membantu, Kak.” Alca tidak mau kalah. Dia juga ingin ikut serta.


“Tentu saja. Kita akan bagi bersama-sama nanti.” Liam merasa terbantu sekali. Karena adik-adik Loveta mau membantu.


Mami Neta dan Bu Kania senang karena semua anak-anak saling membantu. Melihat anak-anak tumbuh baik tentu saja menjadi kebanggaan untuk mereka.


“Ini majalah yang memuat artikel tentang tokomu. Minggu depan akan rilis.” Papa Adriel memberikan majalah pada Liam.

__ADS_1


Liam segera meraih majalah tersebut. Cover depan terpampang fotonya dengan kemeja dan jas. Tampak gagah sekali. Ditambah, background toko sepatunya terpampang jelas. Dia berharap berita tentang toko miliknya akan berdampak baik untuk tokonya. Jadi toko akan semakin laris.


“Wah ... Kak Liam tampan sekali di sini.” Loveta tanpa sadar memuji Liam ketika melihat majalah tersebut.


“Iya, Kak Liam tampan sekali.” Nessia tidak kalah memuji.


Liam tersipu malu ketika mendengar pujian itu.


Bu Kania yang melihat Liam di majalah begitu terharu sekali. Tidak menyangka anak yang ditemukan di taman bermain kala itu kini sukses.


“Bu, jangan menangis.” Liam langsung memeluk Bu Kania. Tak tega melihat air mata Bu Kania.


“Jadilah anak baik. Jangan lupa diri dengan kesuksesanmu. Ini semua hanya titipan.” Bu Kania memberikan nasihatnya.


“Tentu saja, Bu. Aku akan mengingat semua ajaran Ibu.” Liam jelas sadar jika harus melakukan banyak hal baik.


Semua ikut terharu ketika Liam memeluk Bu Kania. Termasuk juga Loveta. Dia memandangi Liam terus menerus. Liam benar-benar berbeda dengan pria lain. Selain perhatian padanya, dia juga perhatian pada orang-orang sekitar. Cara memperlakukan Bu Kania membuatnya tersadar jika pria itu begitu penyayang.


“Kak Cinta memandangi Kak Liam terus. Ingat Kak Cinta punya Kak Leo.” Nessia yang duduk di sebelah Neta menggoda.


Sejenak Loveta terdiam. Dia hampir lupa jika punya Leo. Sejak pertengkaran kemarin, dia sama sekali tidak menghubungi Leo sama sekali.


Apa aku sudah berpaling ke Kak Liam?


Neta mempertanyakan perasaannya itu dalam hati. Ketika ada Liam, dia menyingkirkan pikiran tentang Leo.


 

__ADS_1


__ADS_2