
“Terima kasih sudah datang, Kak.” Loveta tersenyum pada Liam.
Liam masih diam memerhatikan Loveta. Malam ini Loveta tampak cantik sekali. Rasanya Liam merutuki kesalahannya yang melepaskan Loveta begitu saja.
“Sama-sama. Aku bilang aku akan datang untukmu ‘kan.” Liam tersenyum.
Loveta merasa senang karena Liam mau datang meskipun sedang berkonflik dengan keluarga Leo. Padahal bisa saja Liam tidak mau datang.
“Sayang.” Leo menghampiri Loveta. Dia yang melihat Loveta bersama Liam segera menghampiri.
Saat mendapat panggilan ‘sayang’ itu membuat Loveta terperangah. Sejak menjalin hubungan dengan Leo. Baru kali Leo memanggil seperti itu.
Leo langsung berdiri di samping Loveta. Melingkarkan tangannya di pinggang Loveta.
Liam melihat jelas bagaimana Leo meraih pinggang Loveta. Hatinya memanas ketika melihat pemandangan itu. Ada rasa sakit ang dirasakannya.
“Ayo, kita temui tamu yang lain.” Tanpa menyapa Liam, Leo mengajak Loveta pergi.
“Aku permisi dulu, Kak.” Loveta berpamitan dengan Liam.
Liam hanya mengangguk. Membiarkan Loveta untuk pergi. Dia sadar jika memang tidak bisa mencegah Leo membawa Loveta. Karena Loveta kini milik Leo.
“Kamu baik-baik saja?” Mami Neta tiba-tiba berada di sebelah Liam.
__ADS_1
“Kak Neta.” Liam cukup terkejut dengan kehadiran Mami Neta.
“Aku tahu kamu menyukai Cinta.” Mami Neta melihat jelas cinta di dalam sorot mata Liam. Apalagi saat Liam menatap Loveta.
“Iya, tapi sepertinya aku terlambat.” Liam tersenyum kecut. Karena semua sudah terlambat.
Mami Neta hanya menepuk bahu Liam. Menenangkan Liam. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi anaknya sudah memutuskan memilih Leo. Tak mau membebani pikiran Liam, dia memilih untuk meninggalkan Liam
Liam hanya bisa bersabar. Dia memilih menikmati pesta. Walaupun hatinya perih.
Tepat saat minum, Josep menghampiri Liam. Melihat papanya itu membuat Liam malas sekali.
“Aku tidak menyangka jika kamu akan datang ke sini.” Josep menatap sang anak.
“Memang kenapa? Apa Anda takut?” Liam mencibirkan bibirnya.
“Bagus Anda tidak takut. Jadi paling tidak Anda siap untuk kehilangan restoran ini.” Liam tersenyum puas. Dia senang membuat papanya ketakutan, karena papanya itu begitu jahat pada mamanya.
Tak mau berada dekat dengan Josep, Liam memilih meninggalkan Josep.
Josep hanya melihat anaknya yang pergi menjauh. Sejujurnya ada terselip rasa rindu. Namun, mau bagaimana lagi. Dia yang menabuh genderang perang dengan Liam. Apalagi sekarang anaknya tumbuh dengan rasa benci yang begitu dalam padanya.
...****************...
__ADS_1
“Kamu mau pernikahan seperti apa?” Leo menatap Loveta lekat. Dia ingin tahu apa yang diinginkan oleh calon istrinya.
Loveta terdiam. Pikirannya memikirkan Liam yang diam saja sejak tadi. Raut wajah Liam juga tidak bahagia sama sekali.
“Lolo.” Leo yang memanggil tunangannya itu.
“Iya.” Loveta tersadar.
“Kamu kenapa?” tanya Leo. Dia melihat jelas jika Loveta melamun.
“Tidak apa-apa.” Loveta menggeleng. “Ada apa?” tanyanya kembali.
Leo jelas melihat wajah Loveta sedang memikirkan sesuatu. Namun, kekasihnya itu tidak mau mengakui semua itu.
“Aku tanya, kamu mau pernikahan seperti apa?” tanya Leo.
“Aku ingin pernikahan sederhana yang dihadiri oleh keluarga. Aku tidak suka pesta mewah.” Loveta mengungkapkan isi hatinya.
“Baiklah, kita akan buat pesta sesuai dengan keinginanmu.” Leo akhirnya setuju untuk mewujudkannya.
Loveta tersenyum. Dia sendiri tidak tahu kenapa perasaannya aneh. Harusnya dirinya senang ketika membayangkan pernikahan indah bersama Leo. Namun, perasaan itu tidak ada. Tak ada rasa bahagia sama sekali.
__ADS_1