
“Aku adalah anak papa Leo yang pertama. Papaku bekerja di salah satu perusahaan. Di saat itu mamaku yang hanya di rumah berinisiatif membuka restoran. Saat papaku tidak bekerja lagi, papaku membantu mama. Karena aku semakin besar akhirnya papaku yang mengelola restoran. Namun, ternyata papaku menjalin hubungan dengan salah satu pelayan restoran. Hingga membuat papa mengusir mama dan menguasai restoran.” Liam tanpa jeda memberikan cerita itu pada Loveta.
Loveta cukup terkejut ketika mendapati cerita itu. Ternyata ada kisah kelam di balik semua itu.
“Papa menceraikan mamaku tanpa memberikan apa pun. Hingga akhirnya mamaku terpaksa meninggalkan aku di taman hiburan. Karena tidak tega memberikan aku langsung ke panti asuhan. Mama kembali ke Italia dan berusaha mengumpulkan uang di sana. Sampai akhirnya membawa aku kembali.” Liam menjelaskan kembali kisah masa kecilnya. “Jadi restoran itu adalah milik mamaku. Jadi aku yang berhak atas restoran itu. Bukan mereka yang sudah merebut dan menyingkirkan mamaku begitu saja.” Ada kilat kebencian dari sorot mata Liam.
Loveta dibuat tidak tercengang dengan kisah yang baru saja dibagikan Liam itu. Akhirnya dia tahu dari kedua belah pihak.
“Lalu sekarang?” tanya Loveta tentang apa yang sedang Liam lakukan untuk mendapatkan restoran itu.
“Aku mengajukan masalah ini ke pengadilan. Harusnya dengan bukti yang aku miliki, pastinya restoran akan kembali padaku.” Liam menjelaskan.
__ADS_1
“Aku tahu restoran ini berarti untuk Kak Liam, hanya saja apa Kak Liam tidak melihat perjuangan Pak Josep membesarkan restoran ini puluhan tahun?” Loveta tetap berada di tengah-tengah. Tidak memihak siapa-siapa.
“Ini bukan tentang uang, Cinta. Namun, tentang perjuangan mamaku atas restoran itu. Mamaku yang membuat restoran itu. Seorang petani tanpa ladang tidak akan menjadi pemilik ladang sekalipun padi yang ditanamnya tumbuh subur.” Liam menatap Loveta lekat. Berharap Loveta mengerti.
Dalam hal ini Loveta menyadari jika ini benar-benar bisnis memang kejam.
“Aku sudah menjelaskan semua. Kini aku ingin tahu apa kamu tetap akan mendukung Leo?” Liam ingin mendengar siapa yang menjadi pilihan Loveta.
Mendengar jawaban Loveta sejujurnya Liam kecewa. Namun, itu adalah hak Loveta untuk tidak mendukung siapa-siapa. Lebih baik tidak berpihak pada siapa-siapa, dibandingkan Liam harus melihat Loveta berpihak ke kubu Leo.
“Baiklah, jika kamu tidak mau mendukung siapa-siapa. Aku hargai itu. Aku ucapkan terima kasih kamu mau mendengarkan aku dan tidak mengambil kesimpulan gegabah.” Sikap dewasa Loveta membuat Liam kagum.
__ADS_1
“Aku memang tidak akan mendukung siapa pun. Namun, saat perselisihan ini dimenangkan Kak Liam, yang jelas aku akan ada untuk Leo.” Loveta sadar jika sebuah peperangan. Selalu ada yang salah. Jika Liam punya banyak bukti, tentu saja Leo akan jadi pihak yang kalah. Jadi tentu saja Loveta berharap ada untuk Leo.
Liam terdiam. Dia tidak berharap seperti apa yang dikatakan Loveta. Kehilangan Loveta adalah kekalahan yang sesungguhnya.
“Apa kamu begitu mencintai Leo?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Liam. Dia ingin tahu sebesar apa cinta Loveta pada Leo.
Loveta terdiam sejenak. Jika pertanyaan itu diajukan saat belum ada Liam, mungkin dengan lantang dia akan langsung menjawab. Namun, kini saat ada Liam dalam hidupnya, pertanyaan itu sedikit membuatnya bertanya sendiri.
“Aku akan segera menikah dengan Leo. Malam ini dia akan melamarku. Jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan Kak Liam.” Alih-alih menjawab pertanyaan dari Liam, Lovea justru menjawab hal itu.
__ADS_1