
Liam dan Loveta memutuskan untuk kembali ke rumah setelah menjelajah beberapa kota. Tentu saja itu memberikan kenangan indah untuk mereka.
Sisa waktu dua hari lagi untuk pulang. Jadi, mereka bisa berkemas.
Berangkat dengan satu koper, pulang dengan lima koper. tujuh koper yang pertama dibawanya milik Loveta, dua koper baju dan barang-barang baru milik Loveta, dua koper hadiah untuk keluarga, satu koper miliki Liam, satu koper makanan, hadiah untuk karyawan.
“Astaga, kita bawa satu koper kenapa jadi beranak?” Loveta hanya bisa menggeleng saja. Tak tahu harus bagaimana nanti membawanya.
“Untuk kita tidak bawa banyak barang. Jika iya, pasti koper kita akan jauh lebih banyak.” Liam tertawa.
Loveta membenarkan ucapan Liam. Untung saja mereka tidak bawa banyak barang.
“Besok siapa yang akan jemput?” Liam menatap sang istri.
“Kata semua.” Loveta tersenyum malu.
“Kalau begitu aku akan minta sopir kantor juga. Agar ada tempat untuk barang-barang kita.” Jelas jika keluarga ikut yang menjemput, semua tidak muat.
“Baiklah.” Loveta mengangguk. Membiarkan Liam untuk melakukan yang terbaik.
...****************...
Hari ini akhirnya Loveta dan Liam akan kembali. Sebulan di Italia, akhirnya waktunya habis juga. Esok mereka akan menjalankan aktivitas lagi.
“Pasti aku akan sangat sedih sekali.” Evelyn merasa kehilangan. Baru saja merasakan punya kakak ipar, sebentar lagi akan berpisah.
“Aku akan sering-sering ke sini atau kamu bisa berkunjung ke sana. Aku akan membawamu jalan-jalan.” Loveta melepaskan pelukannya.
“Baiklah, aku akan ke sana. Mau menjajal makanan enak di sana.” Evelyn tentu saja tak sabar berkunjung.
“Tentu saja, aku tunggu.” Loveta tersenyum.
“Hati-hati. Semoga kalian selamat.” Evan menepuk bahu Liam.
__ADS_1
Liam mengangguk. “Titip perusahaan,” ucap Liam.
“Tenanglah, semua akan aman.” Evan meyakinkan Liam.
Liam percaya jika Evan bisa dipercaya. Tentu saja dia menitipkan perusahaan dengan tenang.
“Sampai jumpa.” Liam melambaikan tangan seraya mendorong barang-barangnya.
“Sampai jumpa.” Bersamaan dengan sang suami, Loveta melambaikan tangan.
Liburan telah usah. Kini kembali pada realitas kehidupan. Menjalani pekerjaan kembali seperti biasa.
...****************...
Akhirnya Loveta dan Liam sampai juga di Indonesia. Mereka harus melalui beberapa prosedur lebih dulu sebelum benar-benar sudah keluar.
Saat keluar, mereka langsung disambut oleh keluarga. Semua datang tanpa terkecuali.
Melihat keluarganya semua menjemput membuat Loveta sangat bahagia. Ternyata semua saudaranya datang juga.
“Kak Cinta.” Nessia langsung berlari pada kakaknya. Tidak bertemu kakaknya selama sebulan membuat Nessia.
Loveta langsung menghentikan langkahnya dan merentangkan tangan. Memeluk adiknya. Walaupun sering bertengkar, tetap saja dia merindukan sang adik.
Keluarga menghampiri Loveta dan Liam. Tak sabar menahan rindu.
Loveta segera melepaskan pelukan dari Nessia. Ganti memeluk keluarannya. Orang pertama yang dicium adalah Mama Arriel.
“Mama rindu sekali denganmu.” Mama Arriel langsung meluapkan rasa rindunya.
“Aku juga rindu, Ma.” Loveta mengeratkan pelukannya.
Mama Arriel memang belum pernah berpisah jauh dari anaknya sejak saat itu. Saat di mana dia memilih bisnisnya dibanding anaknya. Jadi sebulan tidak bertemu, tentu saja berat untuknya.
Loveta melepaskan pelukannya dan beralih pada Mami Neta. Sang Mami menangis haru. Sejak menikah dengan Dathan Fabrizio, dia memang sangat-sangat dekat dengan Loveta. Jadi berpisah sebulan membuatnya rindu.
__ADS_1
“Kamu baik-baik saja?” Hal pertama yang ditanyakan Mami Neta.
“Aku baik, Mi.” Loveta melepaskan pelukan dan menatap sang mami.
Liam menyapa Papi Dathan dan Papi Adriel. Kemudian menyapa adik-adiknya.
“Bagaimana urusan pekerjaanmu? Sudah selesai semua?” tanya Papi Dathan.
“Sudah, Pi.” Liam mengangguk.
“Syukurlah selesai dengan baik. Jadi kalian bisa bulan madu. Kini tinggal menunggu baby made in Italia.” Papa Adriel menggoda.
Liam tertawa. Istilah itu sepertinya sudah melekat.
Sopir membawa semua barang-barang Liam dan Loveta ke mobil, sedangkan Loveta dan Liam memilih masuk ke mobil Mama Arriel dan Papa Adriel. Alca memilih pindah bergabung dengan Danish dan Nessia.
Mereka semua menuju ke apartemen. Melajukan mobilnya secara beriringan.
Sesampainya di apartemen, mereka membantu membawakan koper. Tujuh koper itu dibawa Liam, Loveta, Danish, Nessia, Alca, Papi Dathan, dan Papa Adriel. Membawanya ke unit apartemen mereka.
“Kami akan langsung pulang. Jadi kalian bisa beristirahat dulu.” Mami Neta langsung berpamitan setelah sampai di unit apartemen anaknya.
“Mami tidak mau membawa oleh-oleh?” tanya Loveta. Dia berniat membuka kopernya.
“Sudahlah, kalian baru sampai dan lelah. Buka oleh-olehnya besok saja. Kalian istirahat dulu.” Mami Neta menegur sang anak. Karena terlalu memaksakan diri memberikan oleh-oleh.
“Benar yang dikatakan mamimu. Kalian istirahat dulu saja.” Mama Arriel ikut menimpali.
“Baiklah kalau begitu.” Loveta mengangguk.
“Ini Mami bawakan makanan. Kalian tidak perlu keluar. Bisa makan di rumah.” Mami Neta meletakkan makanan di atas meja.
Loveta tidak menyangka sang mami memikirkan makannya. “Terima kasih, Mi.” Dia tersenyum manis.
“Kalau begitu kami pulang dulu, kalian istirahat saja.” Papi Dathan langsung mengakhiri semua.
Mereka semua akhirnya pulang. Meninggalkan Loveta dan Liam sendiri. Liam dan Loveta sudah sangat lelah. Jadi mereka akan membersihkan diri dan menikmati waktu istirahat yang benar. Karena besok mereka mulai beraktivitas kembali.
__ADS_1