
“Apa aku terlambat datang?” tanya Mama Arriel.
“Tidak, Ma.” Liam mempersilakan mertuanya. Melebarkan pintu untuk masuk ke apartemen.
Mama Arrie langsung masuk. Disusul Papa Adriel dan juga Alca langsung ikut masuk.
Tebakan Mami Neta benar tiga orang itu adalah keluarga Mama Arriel.
“Halo, Sayang.” Mama Arriel langsung memeluk Loveta. Sudah seminggu anaknya bulan madu. Jadi tentu saja dia merasa rindu.
“Terima kasih Mama sudah mau datang.” Kemarin Loveta memberitahu mamanya, dan langsung setuju untuk bergabung.
Papa Adriel juga langsung menyapa menantunya. “Pancaran pengantin baru bersinar sekali.” Papa Adriel tertawa menggoda Liam.
“Bisa saja.” Liam tersenyum malu. “Ayo, duduk, Pa.” Walaupun agak canggung, Liam membiasakan diri untuk memanggil mertuanya itu.
Mama Arriel beralih ke Mami Neta. Menautkan pipinya.
“Cinta tidak bilang kalian datang. Jadi aku benar-benar terkejut dengan kedatangan kalian.
“Benarkah?” Mami Arriel juga tidak tahu jika anaknya tidak memberitahu kedatangannya. “Tapi, sepertinya jadi kejutan.” Mama Arriel tertawa.
“Jelas.” Mami Neta tertawa.
Dua wanita itu memang akur. Berawal ingin menjadi orang tua yang baik untuk Loveta berakhir menjadi akrab dan dekat.
Papa Adriel menghampiri Papi Dathan.
“Pak Dathan sehat?” tanya Papa Adriel seraya mengulurkan tangan.
“Sehat, tapi aku sudah mengurangi pergi ke toko.” Papi Dathan tertawa.
“Sepertinya toko memang harus diserah terima ke Danish. Agar bisa menikmati istirahat.” Papa Adriel menatap Danish.
Di sela-sela Papa Adriel dan Papi Dathan yang mengobrol ada Alca yang menyalami Papi Dathan.
“Danish masih harus kuliah, Om. Jadi sepertinya Papi harus bersabar.” Danish menjawab ucapan Papa Adriel.
__ADS_1
“Kalian berdua harus jadi pebisnis hebat.” Papa Adriel menatap Danish dan juga anaknya. Kebetulan mereka akan kuliah di tempat yang sama. Jika kelak Danish akan mengurus Izio bersama Nesssi, Alca akan mengurus Malya Jawelry bersama Loveta.
“Tentu saja. Kami pasti bisa jadi pebisnis hebat.” Alca dengan percaya dirinya menjawab.
Suasana keluarga berkumpul sangat hangat. Saling bercerita tentang banyak hal. Tawa pun terdengar. Apalagi ketika menggoda pengantin baru.
Akhirnya mereka semua menikmati makan siang bersama. Loveta sangat senang ketika keluarganya begitu akur. Walaupun dia adalah anak korban broken home, tapi tak pernah kekurangan kasih sayang. Karena semua memberikan tanpa henti.
“Jika belum punya anak, tinggal di apartemen lebih praktis memang. Namun, saat sudah mulai punya anak. Lebih baik pilih rumah.” Mami Arriel memberikan nasehatnya.
“Iya, Ma. Kami akan pikirkan.” Loveta mengangguk. Menerima saran dari sang mama.
“Jika bisa kalian cepat beli. Kita tidak tahu kapan akan hamil.” Mami Neta menambahkan juga.
“Apa kalian mau buru-buru punya anak?” tanya Papa Adriel. Melihat mereka yang baru berpacaran. Rasanya sayang jika buru-buru.
“Kami tidak buru-buru, tapi tidak menunda. Jadi kapan Tuhan memberikan. Kami akan terima.” Liam ingin menikmati waktu. Kapan pun bayi hadir di antara mereka itu adalah anugerah.
“Yang penting berusaha dulu.” Mama Arriel menggoda.
Makan siang begitu seru. Para orang tua berbagi cerita tentang masa-masa pernikahan mereka. Membuat anak-anak muda mendengarkan dan mengambil hikmahnya.
“Ta, kamu suka Dathan yang lebih tua, Lolo suka Liam yang lebih tua. Jangan-jangan Nessia juga akan suka yang lebih tua.” Di sela-sela cerita Mama Arriel menggoda Nessia.
Loveta baru sadar jika nasibnya sama dengan sang mami yang suka lebih tua.
“Nessia juga suka pria yang lebih tua, Tante.” Nessia dengan percaya dirinya menjawab.
“Bagaimana jika kamu menikah dengan kakek temanku saja. Dia jua lebih tua darimu.” Danish langsung tertawa menggoda saudara kembarnya itu.
“Menyebalkan sekali.” Nessia langsung memukul Danish. Saudaranya itu memang sangat menyebalkan sekali.
Semua tertawa mendengar guyonan Danish.
“Jangan yang terlalu tua juga. Yang ada Papi kalah saing nanti.” Papi Dathan menimpali.
Tawa semakin riang terdengar. Obrolan demi obrolan dilayangkan.
__ADS_1
Sampai sore akhirnya mereka semua baru pulang. Mami Neta, Mama Arriel, dan Nessia sempat membantu merapikan sisa makanan. Jadi Loveta tidak akan kewalahan setelah para tamu pulang.
“Kalian jaga diri baik-baik.” Papi Dathan menasihati anaknya sebelum pulang.
“Iya, Pi.” Loveta mengangguk.
Mami Neta juga memeluk Loveta. Sang suami sudah memberikan nasihat. Jadi dia tidak mau menambahkan. Takut anaknya justru kesal karena orang tuanya terlalu khawatir.
“Jika ada apa-apa kabari kami.” Mama Arriel memeluk Loveta.
“Iya, Ma.” Loveta mengangguk.
“Sampai jumpa Kak Lolo.” Alca melambaikan tangan.
“Da ... Kak Cinta.” Nessia dan Danish melambaikan tangan.
Loveta dan Liam melambaikan tangan. Melepaskan keluarganya pergi. Setelah keluarganya semua pergi, mereka masuk ke rumah.
Saat masuk ke rumah, Loveta melihat suasana sepi. Rasanya Loveta benar-benar sedih. Terbiasa dengan suasana ramai keluarganya. Kini dia hanya akan tinggal dengan Liam seorang. Rasanya tidak sanggup dibayangkan.
“Kenapa sedih?” tanya Liam.
“Aku merasa tiba-tiba sepi saja.” Loveta menatap sang suami dengan tatapan sedih.
Liam tahu betul jika istrinya terbiasa dengan keramaian. Jadi wajar saja jika sang istri kini merasa sedih. Apalagi hanya ada mereka berdua di rumah.
“Aku akan buat suasana ramai.” Liam langsung menangkup tubuh sang istri.
“Sayang.” Loveta begitu terkejut dengan aksi sang suami yang menggendongnya. Sang suami benar-benar hobi sekali melakukan hal itu.
Liam membawa tubuh sang istri ke kamarnya.
“Kamu mau apa?” tanya Loveta curiga.
“Membuat suasana ramai.” Liam menyeringai. Saat masuk ke kamar, dia menutup pintu dengan kakinya.
Loveta tahu keramaian apa yang dimaksud oleh Liam. Apalagi jika bukan suara indah yang saling bersahutan saat mendapatkan kenikmatan.
__ADS_1