
Sore ini Liam menjemput Loveta kerja. Rencananya setelah ini mereka akan pergi ke supermarket.
Liam datang lebih awal karena pekerjaannya sudah selesai. Sayangnya, saat sampai Loveta belum selesai bekerja. Tampak Loveta sedang melayani pelanggan yang memesan perhiasan. Dari kejauhan, Liam melihat Loveta sedang menggambar sambil mendengarkan pelanggan yang mengutarakan keinginannya.
Loveta melihat sang suami yang datang. Hal itu membuatnya merasa senang karna ternyata suaminya datang lebih awal. Loveta memberikan isyarat dengan gerakkan bibirnya yang meminta Liam menunggu.
Liam langsung mengangguk. Dia tentu saja akan menunggu istrinya.
Sambil menunggu, Liam membaca majalah yang berada di ruang tunggu. Beberapa koleksi Malya Jawelry tampak begitu memukau sekali. Koleksi-koleksi itu adalah milik Arriel Malya. Wanita itu yang membangun Malya Jawelry sebesar ini. Hasil karyanya tak perlu diragukan. Liam berharap jika kelak istrinya akan sesukses mamanya.
“Terima kasih. Kami akan usahakan dalam dua minggu perhiasan akan selesai.” Loveta mengulurkan tangan pada pelanggan toko.
“Terima kasih, saya akan tunggu kabarnya.” Pelanggan mengangguk. Kemudian pergi dari toko perhiasan.
Selepas pelanggan pergi, Loveta langsung menghampiri sang suami.
“Maaf aku masih menyelesaikan pesanan.” Loveta merasa tidak enak membuat suaminya menunggu.
__ADS_1
“Tidak masalah. Aku justru senang ketika melihat kamu bekerja.” Saat menggambar Loveta tampak begitu cantik sekali. Apalagi ketika tangannya bergerak menggambar perhiasan.
“Baiklah, aku akan ambil tas dulu.” Loveta langsung bergegas ke ruangannya setelah mendapati anggukan dari Liam.
Beberapa saat kemudian Loveta kembali. Dia sudah membawa tasnya yang diletakkan di bahunya.
“Ayo.” Loveta mengajak sang suami untuk segera pergi.
Liam mengangguk. Kemudian meraih tangan Loveta. Menggandengnya keluar dari toko menuju ke mobilnya yang terparkir di depan toko.
Loveta dan Liam berencana setelah ini akan membeli kebutuhan dapur ke swalayan.
Loveta dan Liam memilih ke swalayan yang berada di dekat apartemen mereka. Masih dalam satu kawasan. Jadi nanti mereka tidak akan terjebak macet lagi ketika akan pulang.
Mengingat belanjaan yang akan dibeli cukup banyak jadi Liam mengambil troli besar dan mendorongnya.
Loveta langsung membeli pembumbuan dulu. Baru setelah itu membeli daging dan sayuran.
__ADS_1
“Tadi siapa yang dikenalkan papi?” Sambil memilih bumbu, Loveta melemparkan pertanyaan.
“Keluarga Adion. Ada Bryan Adion, Kean, Lean Adion.” Liam menjelaskan siapa yang ditemui.
Sebenarnya Loveta yakin jika mereka yang akan dikenalkan papinya. Namun, dia ingin lebih memastikan.
“Jadi kamu akan menyewa gedung milik Adion?” Loveta menatap sang suami sebelum kembali melihat rak bumbu.
“Iya, besok rencananya aku akan mengecek gedung bersama Kean dan jika setuju akan diurus Lean untuk berkas-berkasnya.” Liam menjelaskan rencananya pada istrinya.
Loveta mengangguk-anggukan kepalanya. Mengerti rencana Liam.
“Apa semua bisnis akan berpusat di gedung baru?” Loveta penasaran dengan rencana sang suami.
“Iya, semua akan ada di satu pusat. Jadi akan lebih mudah untuk mengawasi.” Liam sudah memikirkan secara matang rencana itu. Jadi dia memilih untuk menjadikan satu perusahaan. Agar mudah mengontrolnya.
Loveta tentu saja akan mendukung. Karena jika Liam menyewa gedung di sini. Secara tidak lansung opersional kerjanya dari sini. Itu artinya Liam akan menetap di sini. Jadi tidak akan tinggal jauh dari suaminya.
__ADS_1