Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 26


__ADS_3

Dari toko perhiasan, Liam dan Loveta menuju ke swalayan. Loveta menemani Liam untuk membeli kebutuhannya.


“Apa Kak Liam akan masak sendiri di rumah?” Loveta memastikan saat melihat Liam mencari sayuran dan daging.


“Sepertinya begitu. Karena aku suka makanan yang diolah sendiri.” Liam terbiasa memasak sendiri. Karena menurutnya lebih sehat. “Tapi, aku hanya bisa masak makanan simple.”  Liam tertawa.


“Kalau begitu Kak Liam bisa memasak untukku?” tanya Loveta tersenyum memamerkan deretan giginya.


“Tentu saja, aku akan memasak makan siang kita.” Liam tersenyum. Tentu dia tidak keberatan jika memasak untuk pria yang disukainya.


Mereka berdua membeli kebutuhan rumah sekaligus membeli kebutuhan dapur. Keduanya begitu antusias sekali. Saling berdiskusi apa yang harus dibeli.


Dari swalayan mereka langsung meluncur ke apartemen. Liam dan Loveta membawa belanjaan mereka yang begitu banyaknya.


Sampai di rumah, mereka membagi tugas. Liam langsung memasak, sedangkan Loveta langsung merapikan barang belanjaan.


Loveta memasukkan  bumbu-bumbu ke dalam tempat yang kemarin di belinya. Dia juga menaruh beberapa stok makanan yang tadi dibeli Liam ke kabinet atas. Karena tinggi dia menggunakan bangku.


“Kak, bisakah kamu memeganginya. Aku takut jatuh.” Saat sudah berpijak di atas kursi, Loveta merasa takut. Karena itu dia memangil Liam.


Liam dengan segera menghentikan aktivitasnya. Kemudian menghampiri Loveta. Memegangi kursi gadis itu.


Loveta menyusun mie, pasta, dan beberapa bahan kering lainnya di dalam kabinet. Dia menyusun barang-barang itu hingga rapi.


“Selesai.” Loveta segera menutup pintu kabinet tersebut saat pekerjaannya selesai. Karena harus menjauhkan tubuhnya untuk dapat menutup kabinet, Loveta memundurkan tubuhnya sedikit agar dapat menutup pintu. Sayangnya, gerakan Loveta itu tidak terkontrol. Sehingga membuat Loveta terhuyung ke belakang.

__ADS_1


Liam yang melihat itu langsung menangkap tubuh Loveta. Beruntung Liam dengan cepat menangkap tubuh Loveta dengan kedua tangannya. Jadi Loveta aman. Namun, karena tidak siap dan begitu cepatnya tubuh Loveta jatuh, Liam sampai terduduk ketika menangkap tubuh Loveta.


Loveta memejamkan matanya. Saat jatuh dia hanya pasrah saja. Dia berpikir pastinya akan sangat sakit sekali ketika jatuh. Karena benar-benar tidak terpikir olehnya akan terjatuh dari kursi. Namun, saat merasakan tangan kokoh menangkapnya, Loveta merasa jika dia masih selamat. Dengan segera dia membuka matanya untuk memastikan.


Ternyata Liam menangkap tubuhnya ketika jatuh. Hal itu membuatnya bersyukur. Karena dia tidak merasa sakit. Jika benar-benar terjatuh, Loveta yakin tulang di punggungnya bisa patah.


Saat membuka mata, pandangan mereka saling beradu. Tentu saja itu membuat jantung Loveta berdegup kencang. Sorot mata Liam membuatnya benar-benar terhipnotis.


Kak Liam benar-benar tampan sekali.


Loveta memuji Liam dalam hatinya. Semakin diperhatikan, Loveta menemukan ketampanan Liam yang luar biasa.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Liam panik.


“Cinta.” Liam memanggil Loveta seraya menggoyangkan tubuh Loveta.


Loveta langsung tersadar. “Iya, Kak.” Dia menjawab panggilan Liam.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Liam.


“Tidak.” Loveta menggeleng. Dia kemudian bangkit perlahan dari pangkuan Liam. “Kak Liam tidak apa-apa?” tanya Loveta.


“Tidak, aku tidak apa-apa.” Liam juga ikut bangkit ketika Loveta sudah bangkit dari pangkuannya.


Mereka berdua berdiri. Liam berdiri lebih dulu, dan kemudian membantu Loveta untuk berdiri juga.

__ADS_1


Tarikan tangan Liam yang terlalu kencang membuat Loveta justru menabrak tubuh Liam. Sontak itu membuat Liam dan Loveta saling beradu pandang.


Tidak dipungkiri jika Liam begitu mencintai Loveta. Sorot matanya tidak dapat dibohongi. Menyiratkan jika dia benar-benar mencintai Loveta.


Mendapati tatapan penuh damba dari Liam, membuat Loveta merasakan perasaannya yang tampak berbeda. Ada debaran yang tak pernah dirasakannya. Hingga dia bingung menggantinya.


Keduanya berada dalam pikirannya masing-masing. Sama-sama saling mengagumi.


“Kamu tidak apa-apa?” Liam sadar lebih dulu dibanding Loveta.


Mendapati pertanyaan itu membuat Loveta segera tersadar. “Tidak.” Dia menjawab seraya menjauhkan tubuhnya dari tubuh Liam. Apa yang baru saja terjadi membuatnya sedikit canggung sekali.


Liam yang melihat Loveta tampak canggung juga akhirnya merasa canggung juga. Dia merasa salah tingkah ketika mengetahui baru saja memandangi Loveta penuh damba.


“Tunggulah di meja makan. Aku akan siapkan makannya segera.” Liam berusaha untuk tetap tenang.


“Baiklah.” Loveta juga berusaha keras untuk tetap tenang.


 


  


 


 

__ADS_1


__ADS_2