Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 25


__ADS_3

“Iya, dia tidak suka diganggu ketika bekerja. Jadi aku tidak pernah menghubungi saat dia di luar kota.” Loveta menceritakan pada Liam.


Saat mendengar hal itu tentu saja Liam senang. Karena akhirnya dia punya celah untuk mendapatkan Loveta.


“Mungkin memang sikapnya seperti itu. Itu balik lagi padamu. Seberapa bisa kamu menerima. Karena pastinya itu tidak akan bisa berubah dengan mudah. Jika kelak kamu memutuskan untuk bersamanya selamanya,  kamu harus sudah siap dengan sikanya itu.”  Liam memberitahu apa yang ada di pikirannya itu.


Sejenak Loveta merasa apa yang dikatakan Liam benar. Terkadang dia tersiksa karena meminta Leo menjadi apa yang dimintanya, sedangkan Leo tidak pernah bisa dan mau.


Melihat wajah Loveta yang ragu dengan Leo jelas membuat Liam senang. Secara tidak langsung, dia menggoyahkan cinta Loveta.


“Aku akan menerimanya. Dia memang seperti itu. Jadi aku harus memahaminya.” Loveta kembali bersemangat. Ucapan Liam justru menyadarkannya jika dirinya yang harus mengerti Leo.


Liam hanya bisa terperangah ketika Loveta justru melakukan hal itu. Dia pikir Loveta akan goyah dengan ucapannya. Namun, ternyata tidak. Justru ucapannya adalah semangat untuk Loveta.


“Terima kasih Kak Liam menyadarkan aku.” Loveta tersenyum manis pada Liam.


Liam memaksakan senyumnya. Ternyata strateginya justru salah.


Mereka menikmati sarapannya. Liam tampak tenang saja ketika melihat Loveta ternyata menyalahkan ucapannya. Liam merasa usahanya akan masih panjang.

__ADS_1


Usai sarapan, Liam mengantarkan Loveta untuk ke toko perhiasan. Tadi Loveta diantar oleh sopir. Jadi Liam harus mengantarkan Loveta.


“Aku akan menjemputmu sebelum makan siang.”


“Baiklah.” Loveta melambaikan tangannya.


Dari toko perhiasan , Liam menuju ke kantor pengacara. Ada beberapa hal yang ingin dibicarakan. Terkait dengan pengajuan hak atas restoran tersebut.


Liam sampai di kantor pengacara pukul delapan pagi. Di sana juga sudah ada asistennya yang menunggu.


“Pengacara Pak Smith meminta minggu depan untuk bertemu. Apakah Pak Liam bersedia?” tanya pengacara.


“Baiklah, saya akan buatkan janji.” Pengacara mengangguk. “Terkait pembukaan toko izin sudah lengkap. Jadi tidak lagi ada masalah. Toko Pak Liam bisa beroperasi dengan nyaman. Ini berkas izinnya.” Pengacara menyerahkan berkas.


“Terima kasih sudah membantu.” Liam merasa terbantu sekali ketika semua sudah diurus oleh pengacara. Mengingat Liam tidak tahu prosedur legalitas di negara ini.


...****************...


Liam menjemput Loveta ke toko perhiasan. Saat masuk ke toko tampak perhiasan berjajar di etalase. Liam melihat perhiasan tersebut. Saat pandangannya menyapu semua perhiasan, dia melihat satu set perhiasan yang cantik.

__ADS_1


“Itu koleksi terbatas kami.”


Terdengar suara Seseorang ketika Liam sedang melihat perhiasan itu. Saat menoleh, ternyata itu adalah Loveta.


“Cantik sekali.” Liam memuji perhiasan itu.


“Aku akan tunjukan yang lebih cantik.” Loveta menarik tangan Liam membawanya ke salah satu ruangan. Memperlihatkan perhiasan di sana.


Saat sampai di ruangan itu, Liam melihat sebuah perhiasan dipajang dengan etalase kaca sendiri. Kilauan berlian tampak begitu indah sekali.


“Cantik sekali ini?” Liam kembali memuji.


“Mama khusus membuatnya untukku. Kelak jika aku menikah, aku akan memakainya.” Loveta begitu bersemangat menceritakan pada Liam.


“Aku ingin melihatnya kamu memakainya.” Liam membayangkan jika Loveta akan cantik sekali memakai perhiasan itu.


“Nanti lihatlah saat pernikahanku. Kak Liam akan melihat bagaimana cantiknya aku dengan perhiasan mama.” Loveta dengan percaya diri mengatakannya. Dia sendiri tidak sabar untuk menunggu dia ada di pelaminan.


“Tentu saja aku akan menunggu.” Liam tersenyum.

__ADS_1


Menunggumu menjadi pengantinku. Liam melanjutkan ucapannya di dalam hati.


__ADS_2