Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 137


__ADS_3

Dengan segera Loveta meraih bingkai foto itu. Terlihat foto itu diambil sebelum Liam pergi ke Italia. Ada dirinya, keluarganya, dan Bu Kania di sana.


“Ternyata dia masih menyimpan foto ini.” Loveta tersenyum.


“Kamu melihat foto ini?” Liam yang keluar dari kamar mandi melihat sang istri.


Loveta menoleh ke arah suaminya. Senyumnya mengembang di wajahnya.


“Kamu masih menyimpan ini?” Loveta menunjukkan foto di tangannya seraya berdiri.  


Liam menghampiri istrinya. “Sejak berpisah aku selalu merindukan kalian. Aku hanya bisa melampiaskan rinduku pada foto itu.” Liam ingat sekali bagaimana dulu kerinduannya tidak bisa tersalurkan. Mamanya benar-benar tidak memberikan akses sama sekali. Mamanya tidak mau sampai papanya mengetahui keberadaannya.


Ternyata suaminya memang tidak pernah melupakan semuanya.


“Sekarang aku memiliki semuanya. Keluarga yang ada di dalam foto itu. Terutama mendapatkanmu.” Liam menarik tubuh sang istri.


“Sayang tubuhmu basah.” Loveta merasakan tubuh suaminya yang masih basah menempel padanya.  


“Kenapa memang, bukankah kamu suka yang basah?” Liam menyeringai.


Loveta langsung membungkam mulut Liam. “Kamu kalau bicara.” Loveta takut ada yang dengar suaminya berbicara seperti itu.


“Tidak akan ada yang dengar.” Liam mendaratkan bibirnya ke bibir sang istri.


Sayangnya, saat nyaris menempel ke bibir, Loveta langsung menghalangi.


“Kenapa?” tanya Liam dengan mulut yang masih dibungkam.

__ADS_1


“Aku belum mandi.” Loveta melepaskan tangannya.


“Bagiku, kamu tetap wangi walaupun tidak mandi.” Liam masih memusakakan untuk mencium.


“Aku mau mandi dulu. Nanti saat aku sudah mandi kamu bisa menciumku sepuasnya.” Loveta malu ketika sang suami ingin menciumnya. Takut tubuhnya bau keringat.


Mendengar ucapan sang istri, Liam langsung bersemangat. “Baik, mandilah dulu. Nanti aku akan menciummu sepuasnya.” Seketika Liam langsung melepaskan Loveta.


Loveta tersenyum. Akhirnya Liam melepaskannya juga. Dengan segera, Loveta pergi ke kamar mandi. Tak mau sampai ditangkap suaminya lagi.    


 


...****************...


Seusai mandi, mereka berdua keluar. Ke lantai bawah. Dari lantai atas mereka melihat Evelyn dan Evan duduk di ruang keluarga. Tampak mereka menunggu.


“Hai, orang jauh.” Evan menggoda Liam.


“Kabarku baik.” Liam menjawab seraya melepaskan pelukan.


Evan melihat ke arah Loveta. “Ternyata ini yang membuatmu betah di sana.” Dia menggoda Liam. “Halo, Kakak ipar. Aku Evan, adik ipar Wiliam.” Dia memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan.


“Loveta.” Loveta menerima uluran sambil tersenyum.


“Jangan menggoda kakak ipar. Nanti dia tidak betah di sini.” Evelyn menegur sang suami. “Jangan dengarkan dia, Kak.” Evelyn tersenyum pada Loveta. “Ayo, kita makan malam saja.” Evelyn melingkarkan tangannya di lengan Loveta.


Loveta senang sekali mendapatkan sepupu ipar yang baik hati. Jadi dia tidak merasa jadi orang asing di rumah Liam.

__ADS_1


Liam dan Evan mengikuti Loveta dan Evelyn. Mereka menuju ke ruang makan. Duduk di sana dan menikmati makan malam bersama.


“Bagaimana kantor?” tanya Liam di sela-sela makan. Memberikan obrolan di sela-sela makan.


“Aman, kamu bisa cek besok. Aku pastikan jika semua tidak ada kendala.” Evan dengan percaya dirinya menjawab.


“Aku memang selalu bisa mengandalkanmu.” Liam menepuk bahu Evan.


“Apa kalian tidak bosan bicara selain urusan kantor. Tidak di telepon, tidak di sini, kalian selalu membicarakan urusan kantor!” Evelyn menegur Liam dan Evan.


“Membicarakanmu yang hobi belanja juga bosan.” Evan menatap malas pada suaminya.


“Itu hobi yang begitu menyenangkan.” Evelyn membela diri. Tak mau kalah dengan suaminya.


Liam yang melihat dua orang berdebat hanya bisa menggeleng. Mereka belum berubah sama sekali. Masih saja suka bertengkar.


Saat mengingat hobi Evelyn yang berbelanja, Liam teringat dengan sang istri yang hendak membeli baju karena tidak membawa baju.


“Evelyn, besok ajaklah Loveta untuk berbelanja.” Liam sengaja memanggil sang istri dengan nama Loveta agar adik iparnya tidak bingung.


“Wah ... dengan senang hati aku akan mengantarkan.” Evelyn begitu bersemangat jika urusan belanja. “Tenanglah, Kak. Besok akan aku bawa ke butik terbaik di sini.” Evelyn tersenyum menyeringai.   


“Iya.” Lovet mengangguk.


“Jika sudah begini, kamu harus menangungnya. Aku tidak sanggup.” Evan berbisik pada Liam. Kalau sudah belanja istrinya suka lupa diri.


Liam tersenyum ketika temannya sudah tidak sanggup. “Tenanglah, aku akan tanggung jawab.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2