Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 138


__ADS_3

“Pergilah dengan Evelyn hari ini. Aku akan ke kantor sebentar. Nanti saat makan siang, aku akan menyusulmu.” Liam membelai lembut rambut Loveta. Kemudian mendaratkan kecupan di dahi sang istri.


“Baiklah.” Loveta menangguk.


Mereka berdua keluar dari kamar. Kemudian menuju ke meja makan. Mereka berdua bergabung dengan Evelyn dan Evan untuk sarapan bersama.


“Aku akan ajak Kak Loveta ke butik langganan aku. Butik terkenal Itu Koleksi bajunya lebih banyak. Kak Loveta akan suka.” Evelyn begitu bersemangat sekali menceritakan pada Loveta.


“Baiklah, ke mana saja.” Loveta mengikuti saja. Pastinya Evelyn lebih tahu brand-brand terkenal itu.


“Awas, jaga diri!” Evan memberikan peringatan.


“Iya, aku tahu.” Evelyn mengangguk.


“Memang kenapa?” Loveta menatap adik iparnya.


“Di sini banyak sekali copet. Jadi harus hati-hati.” Evelyn memberitahu Loveta.


Loveta terperangah. Dia pikir di negaranya saja copet. Ternyata di sini juga.


“Kamu harus hati-hati, Sayang. Jangan jauh-jauh dari Evelyn.” Liam menatap sang istri. Memberikan peringatan.

__ADS_1


Loveta justru takut ketika suaminya memberikan peringatan. Tampaknya memang sangat mengerikan.


“Tenanglah, Kak. Aku akan menjagamu. Jangan khawatir.” Evelyn meyakinkan Loveta.


Loveta memaksakan senyumnya. Dia percaya saja dengan Evelyn.


Akhirnya sarapan selesai juga. Liam pergi ke kantor, bersama Evan, sedangkan Loveta dan Evelyn masih di rumah. Mereka akan berangkat dua jam lagi. Menunggu toko buka.


 


...****************...


Loveta dan Evelyn sampai di sebuah butik ternama. Di dunia butik ini cukup terkenal. Beberapa artis papan atas menggunakannya.


“Baiklah.” Loveta mengangguk.


Loveta segera melihat baju-baju yang terpajang. Koleksinya bagus-bagus sekali. Dari kasual hingga formal.


“Cantik sekali.” Loveta melihat kaos cantik yang terpanjang. Saat melihat harganya dan merupiahkannya, dia dibuat terkejut. Untuk satu potong kaos yang akan dibelinya harganya lima belas juta. Sekalinya uang papinya banyak, dia memang tidak terbiasa beli barang mewah. Untuk harga kaos. Biasanya paling mahal dia beli adalah dua juta.


Loveta sadar yang dibeli tidak sekadar kaos, tetapi hasil karya. Karena barang tersebut diciptakan dari tangan-tangan ahli.

__ADS_1


Mengingat harganya masih bisa dibeli, tentu saja dia mengambilnya. Apalagi uang yang diberikan Liam masih ada.


Loveta melihat-lihat lagi. Harga yang fantastis membuatnya justru pusing. Alhasil dia hanya membeli dua baju dan dua bawahan saja. Itu pun sudah menghabiskan banyak.


“Kak Loveta kenapa beli sedikit sekali?” tanya Evrlyn.


“Aku belum butuh banyak baju. Ini dulu saja.” Loveta tersenyum.


Evelyn tersenyum.


“Baiklah, ayo kita ke kafe untuk menunggu Kak Liam.” Evelyn langsung mengajak Loveta untuk pergi.


“Ayo.” Loveta mengangguk.


Dua jam sudah di butik malah membuat kepalanya sakit. Jadi saat keluar dia senang sekali.


Mereka harus naik mobil untuk sampai di kafe itu. Karena itu mereka naik taksi. Liam kebetulan juga sedang dalam perjalanan ke sana juga.


Hari ini Liam hanya mengecek keadaan kantor. Baru besok dia akan ke pabrik. Melihat kondisi pembuatan sepatu. Beberapa sepatu yang dijual masih dibuat tangan oleh pengrajin. Jadi Liam ingin memastikan kualitas.


Loveta dan Evelyn sampai lebih dulu. Barang-barang yang dibeli tadi dibawa oleh mereka berdua. Mengingat tadi mereka naik taksi.

__ADS_1


Sambil menunggu Loveta mengobrol dengan Evelyn. Menikmati suasana kafe yang klasik. Pas untuk mengobrol


“Seperti apa Kak Liam saat waktu kecil di sini? Apa dia tidak punya kekasih?” Loveta sangat penasaran sekali.


__ADS_2