Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 152


__ADS_3

Loveta membuka pintu kamar mandi. Dilihatnya sang suami berdiri di depan pintu. Loveta berusaha untuk tetap tenang. Karena tidak mau membuat sang suami curiga.


“Perutku mulas.” Liam menyeringai. Dia sengaja mengetuk pintu karena tidak tahan.


“Masuklah.” Loveta segera keluar dan memberikan ruang untuk suaminya masuk.


Liam pun segera masuk. Kemudian menutup pintu kamar mandi.


Loveta merasa lega karena sang suami tidak curiga sama sekali. Mungkin karena Liam buru-buru masuk.


...****************...


Pagi ini rencananya, Loveta akan ke toko Liam. Karena dia akan memajang sepatu hasil desain kolaborasi. Soft launching akan diadakan di Marlene Shoes, sedangkan lauching resmi akan diadakan di Malya Jawelry. Jarak antara Soft lauching dan lauching resmi adalah seminggu. Sengaja diberikan jeda agar mereka punya pilihan waktu.


“Kamu akan ke toko dengan siapa saja nanti?” tanya Liam.


“Sepertinya aku akan pergi dengan staf, dan juga dengan pengawalan.” Sebelum turun dari mobil Loveta mencoba menjelaskan pada sang suami.


Liam mengangguk mengerti. “Aku akan ke toko saat kamu datang.” Liam tentu tidak mau istrinya kerja sendiri.


“Baiklah.” Loveta mendaratkan kecupan pipi Liam, kemudian segera keluar dari mobil.


Loveta melambaikan tangan sebelum masuk. Perlahan, mobil Liam pun meninggalkan toko. Saat mobil hilang dari pandangan barulah dia masuk ke toko.


Tubuh Loveta begitu lemas sekali. Hingga membuatnya untuk segera masuk ke ruangannya. Tepat di ruangannya, Loveta duduk sambil menyandarkan tubuhnya.


“Ada apa sebenarnya denganku?” Loveta bingung dengan tubuhnya karena tidak seperti biasanya.


Rasa mual, ditambah sedikit pusing, dan tubuh lemas, begitu terasa dan membuat tidak nyaman Loveta.  


Untuk mengurangi apa yang dirasakan itu, dia pun memilih untuk meminta teh hangat.

__ADS_1


“Anisa, tolong bawakan teh hangat untukku.” Loveta meminta office girls untuk membuatkannya minuman.


Beberapa saat kemudian minuman yang diminta Loveta datang.


“Ini, Bu.” Office girls memberikan secangkir teh pada Loveta.


“Terima kasih.” Loveta mengangguk.


Office girls langsung keluar dari ruangan Loveta.


Loveta segera meminum teh hangat itu. Berharap itu dapat meredakan mualnya.


“Aku tidak boleh sakit.” Loveta menguatkan dirinya. Dia merasa jika pasti akan bahaya jika sakit. Liam akan melarangnya bekerja dan memintanya istirahat. Padahal dia harus mempersiapkan produk baru.


Setelah meminum minumannya keadaan Loveta jauh lebih baik. Walaupun masih mual, tetapi tidak terlalu seperti tadi.


Ketika keadaannya lebih, akhirnya Loveta bersiap. Dia meminta para karyawan untuk memasukkan tempat display barang yang dibawa khusus. Tidak hanya itu dia membawa juga sepatu hasil kolaborasinya.


 


...****************...


“Aku harus kuat.” Loveta menguatkan dirinya.


Dengan segenap tenaga, dia berusaha untuk tetap kuat. Agar tidak mengganggu pekerjaan.


Saat sampai di toko ternyata sudah ada suaminya di sana. Ternyata sang suami benar-benar menunggunya.


“Sayang, kamu sudah datang.” Loveta bersikap biasanya. Agar tidak membuat Liam khawatir dengan keadaannya.


 Liam memerhatikan istrinya. Sang istri tampak pucat sekali. Tidak seperti biasanya.

__ADS_1


“Kamu sakit?” Liam langsung melaparkan pertanyaan itu dengan menunjukkan wajah khawatirnya.


“Tidak.” Loveta menggeleng.


“Lalu kamu kenapa pucat?” Liam jelas melihat perubahan wajah sang istri.


“Di luar panas. Jadi aku tidak tahan.” Loveta mencoba memberikan alasan yang pas.


Tadi saat di luar ruangan, Liam melihat jika cuaca panas sekali. Jadi wajar saja jika sang istri kepanasan.


“Ayo, aku harus men-display barang-barang.” Loveta mengajak Liam masuk.


Peralatan display ditaruh di ruangan khusus yang disiapkan oleh Liam, kemudian beberapa karyawan Loveta memasak rak display tersebut. Ada satu rak display kaca besardan ada lima rak display kaca kecil. Loveta menunggu semua terpasang dulu agar bisa memasukkan sepatu.


Saat menunggu pemasangan, Loveta merasakan kepalanya semakin berdenyut. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas sekali. Namun, dia berusaha menahan.


Segera setelah display selesai, dia menaruh sepatu-sepatu itu di sana. Karena sepatu berhiaskan permata, jadi dia harus memastikan semua aman.


Akhirnya semua terpasang juga. Loveta sedikit lega karena tidak ada kesalahan yang diperbuatnya.


“Sepertinya ini display yang cantik.” Liam mengomentari hasil kerja sang istri.


Loveta tidak menjawab, dia merasa tubuhnya semakin tidak bisa dikendalikan. Perlahan pandangannya kabur. Tubuhnya tiba-tiba lemas.


Liam menoleh pada sang istri. Bersamaan dengan pandangannya itu, tubuh Loveta terkulai lemas. Dengan segera Liam menangkap sang istri.


“Sayang.” Liam memanggil, tetapi tidak ada respons.  


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2