
Loveta melihat perutnya di depan cermin. Makin lama perutnya makin membesar. Apalagi usia kandungannya makin bertambah. Loveta merasa lucu sekali. Karena perutnya buncit.
Liam yang sedang keluar dari kamar mandi, disambut dengan aksi sang istri yang berada di depan cermin. Tampak sang istri memegangi perutnya yang mulai membesar.
“Kamu sedang apa?” Liam menghampiri sang istri.
“Lihatlah, perutku besar sekali.” Loveta gemas dengan perutnya.
Liam memeluk sang istri dari belakang. Sambil melihat di depan cermin. Tangannya membelai perut sang istri yang begitu tampak besar.
“Aku sudah kesulitan memelukmu.” Liam merasa jarinya sudah tidak bisa saling bertautan ketika memeluk sang istri.
“Iya.” Loveta membenarkan apa yang dikatakan sang suami. “Nanti berarti saat sembilan bulan, pasti kamu akan semakin kesulitan memeluk.” Loveta tertawa.
“Iya, bagaimana jika aku memeluk yang atas. Bukankah akan lebih mudah.” Liam mempraktikannya. Memeluk tepat di dada sang istri. Namun, tangan nakal Liam memegang tetap di dada sang istri.
“Kamu.” Pipi Loveta merona malu. Bisa-bisanya sang suami melakukan hal itu.
Liam langsung tertawa. Senang sekali membuat sang istri malu. Bukanya memindahkan tangannya, Liam justru bermain di sana. “Aku rasa tidak hanya ukuran perutmu saja yang besar. Ukuran ini juga besar.” Liam merasa jika ukuran dada sang istri dulu tidak sebesar sekarang. Sekarang satu telapak tangannya penuh sekali.
Loveta semakin malu. Suaminya memang benar-benar iseng sekali. Namun, Loveta juga merasa jika dadanya semakin lama semakin besar. “Mungkin karena aku bersiap untuk menyusui. Jadi mulai membesar.” Loveta mencoba menebak.
“Bisa jadi.” Liam mengangguk. Namun, tiba-tiba dia terpikir sesuatu. “Lalu, aku nanti harus berbagi?” tanyanya.
“Jelas.” Loveta senang menggoda suaminya balik.
“Kalau begitu sebelum aku harus berbagi, aku akan menikmatinya sendiri.” Liam melihat sang istri dari pantulan cermin. Tangannya sudah bergerilya ke tempat favoritnya itu.
Karena dilakukan sambil bercanda, tentu saja membuat Loveta justru tertawa. Berusaha menghindar. “Sayang,” teriaknya. Sayangnya Liam mengabaikan panggilan itu.
__ADS_1
...****************...
Hari ini Loveta dan Liam akan memeriksakan kandungannya. Usia kandungannya sudah lima bulan. Dokter bilang hari ini mereka bisa melihat jenis kelamin anaknya, jadi mereka sangat antusias sekali. Tidak hanya Loveta dan Liam saja yang antusias, keluarga juga tak kalah antusias. Mereka juga ikut untuk memeriksakan kandungan Loveta. Ingin tahu apa jenis kelamin anak mereka.
Semua anggota keluarga ikut. Termasuk adik-adik Loveta, Danish, Nessia, dan juga Alca. Mereka ingin melihat calon ponakan mereka.
“Sepertinya Papa tinggal di sini saja.” Papa Adriel tidak ikut masuk.
Melihat papanya tidak ikut, Alca berpikir sama. Tidak ikut juga. “Aku di sini saja.” Dia menatap mamanya.
“Aku juga.” Dengan cepat Danish ikut juga.
Papi Dathan hanya pria lain selain Liam yang ikut. Itu membuatnya ragu untuk ikut. Apalagi semua memutuskan di luar. “Aku di sini saja.” Akhirnya dia ikutan juga. Menunggu di luar.
Akhirnya, hanya Mami Neta, Mama Arriel, Nessia, dan Liam saja yang menemani Loveta masuk ke ruangan dokter. Saat sampai di ruangan dokter, Loveta langsung berkonsultasi. Kebetulan beberapa waktu ini Loveta sering pegal, karena itu sedikit mengganggu. Dokter memberitahu untuk melakukan pijatan ringan pada bagian yang pegal. Jadi meminta Liam untuk membantu sang istri meredakan pegal yang dialami.
Setelah berkonsultasi, dokter segera memeriksa kandungan Loveta. Menggunakan alat USG, dokter mengecek keadaan kandungan Loveta.
“Keadaan bayi sehat. Ukurannya sudah enam ratus gram. Anggota tubuhnya juga sudah lengkap. Organ-organnya juga sudah berfungsi dengan baik.” Dr. Lyra melihat keadaan anak Loveta.
Loveta dan Liam merasa senang. Anaknya ternyata baik-baik saja. Tumbuh dengan baik di dalam kandungan. Tak sabar melihat perkembangannya lagi. Tak hanya Loveta dan Liam saja yang bahagia mendengar keadaan anak di dalam kandungan Loveta baik-baik saja. Mama Arriel dan Mami Neta juga ikut bahagia.
“Dok, apa sudah bisa melihat jenis kelaminnya?” Mami Neta begitu penasaran cucunya.
“Baiklah, kita lihat.” Dr. Lyra mengerakkan alat USG. Mencari di mana bisa melihat jenis kelamin anak yang dikandung Loveta.
__ADS_1
“Iya, Dok. Coba lihat apakah jenis kelamin cucu kami.” Mama Arriel tak kalah antusias. Anak Loveta adalah cucu pertamanya. Jadi dia ingin tahu.
Semua menunggu dengan cemas. Walaupun mereka tidak masalah anaknya laki-laki atau perempuan, mereka ingin tahu.
“Sayang sekali, kakinya tidak mau terbuka. Tidak mau menunjukan dia laki-laki atau perempuan.” Dr. Lyra tidak mendapatkan jenis kelamin anak yang di kandung Loveta.
Mami Neta dan Mama Arriel tampak kecewa. Padahal dia ingin tahu cucu pertamanya berjenis kelamin apa. Namun, apa boleh buat. Memang cucunya tidak mau menunjukan. Loveta dan Liam hanya tersenyum, mereka tidak masalah jenis kelamin anaknya. Jadi saat anaknya tidak mau menunjukan, bukan masalah besar untuknya.
“Tidak apa-apa, Dok, biar jadi kejutan nanti.” Loveta menatap Liam. Tatapan itu mengisyaratkan pendapat suaminya.
“Iya, biarkan jadi kejutan.” Liam setuju dengan apa yang dikatakan Loveta.
Pemeriksaan USG akhirnya selesai juga. Dokter memberikan resep vitamin untuk Loveta. Meminta Loveta untuk tetap menjaga anak di dalam kandungannya.
Setelah pemeriksaan, mereka segera keluar dari ruang pemeriksaan. Di depan ruang pemeriksaan, mereka sudah disambut para pria yang sudah menunggu.
‘’Bagaimana? Apa jenis kelamin cucu kita?” Papi Dathan langsung menyambut istrinya dengan pertanyaan itu. Dia juga sangat ingin tahu jenis kelamin cucu pertamanya.
“Cucu kita sepertinya ingin membuat kita penasaran. Dia tidak mau memberitahu kita.” Mami Neta tersenyum. Sepertinya memang cucunya sedang sengaja sekali.
Papi Dathan sedikit kecewa. Karena dia penasaran sekali. Namun, mau apalagi. Cucunya tidak mau menunjukkannya.
“Sepertinya cucu kita akan memberikan kejutan untuk kita.” Mama Arriel menatap suaminya dan Papi Dathan bergantian.
“Biar spesial mungkin. Dia tidak mau kita tahu.” Papa Adriel menambahkan.
“Iya, sekaligus agar omi dan omanya tidak heboh berbelanja.” Nessia ikut menimpali.
Mami Neta dan Mama Arriel menekuk bibirnya. Padahal hal yang ditunggu saat mengetahui jenis kelamin adalah berbelanja. Karena mereka bisa memilih pakaian untuk cucu mereka.
__ADS_1
Semua tertawa ketika melihat calon nenek yang sedikit kesal karena harus menahan diri untuk berbelanja. Memang sulit ibu-ibu menahan hasrat untuk berbelanja.