Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 174


__ADS_3

Akhirnya setelah menunggu dua bulan, rumah direnovasi, akhirnya rumah jadi juga. Liam dan Loveta akan pindah ke rumah baru setelah semua rampung.


Kini tempat tinggal mereka akan semakin dekat dengan rumah sakit. Apalagi kini usia kandungan Loveta sudah mencapai tujuh bulan. Artinya jika Loveta akan melahirkan, Liam tidak akan jauh membawa ke rumah sakit.


“Jangan bawa apa pun. Jangan bantu apa pun. Duduk manis dan jangan lakukan apa pun.” Liam memberikan peringatan pada sang istri. Dia tahu betul jika sang istri pasti tidak bisa diam.


Liam sudah mengatakan itu mungkin sudah sepuluh kali jika dirinya tidak boleh melakukan apa pun.


“Iya, aku tahu.” Loveta mengangguk. Dia mengerti yang dikatakan sang suami.


Suara bel terdengar. Liam dan Loveta segera keluar dari kamar. Membuka pintu untuk tahu siapa yang datang.


Saat membuka pintu ternyata itu adalah keluarga. Ada Papi Dathan, Mami Neta, Mama Arriel, Papa Adriel, Nessia, Danish, dan Alca. Mereka semua datang untuk membantu Liam dan Loveta. Kebetulan tidak banyak yang dibawa. Hanya peralatan bayi yang dibeli Mami Neta dan Mama Arriel waktu itu, dan empat koper milik Loveta. Menggunakan mobil sendiri pun mereka sudah bisa membawanya.


Mereka semua masuk ke apartemen. Kemarin Mama Neta sudah membantu Loveta untuk berkemas. Jadi hari ini mereka tinggal membawa barang saja.


“Untuk barang bayi biar di mobil Danish dan Alca saja. Biarkan kopernya di mobil aku saja.” Liam merasa jika mobilnya masih muat. Jadi tidak masalah jika koper di mobilnya.


“Baiklah.” Danish dan Alca mengangguk.

__ADS_1


Mereka berdua segera mengangkat peralatan bayi. Ada satu koper besar yang berisi pakaian bayi yang dibeli oleh Mama Arriel dan Mami Neta. Sisanya peralatan makan, mandi, dan jalan-jalan. Tak hanya itu ada storller yang sudah dibeli Mama Arriel dan Mami Neta.


Untuk koper para wanita langsung bergerak ikut menarik. Mami Neta, Mama Arriel, dan Nessia. Jadi sisa satu koper lagi.


Melihat satu koper yang menganggur dan tidak ada yang mengambil, akhirnya Loveta meraihnya. Namun, baru saja hendak memegangnya, sang suami langsung bergerak meraih koper itu.


“Sudah aku bilang apa?” tanya Liam.


Loveta tersenyum polos. Seketika takut karena sang suami sudah memberitahu berkali-kali untuk tidak melakukan apa pun, tapi tetap dibantah.


“Maaf.” Satu kata yang terucap dari mulut Loveta.


Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga. Semua segera menurunkan barang-barang itu dan membawanya masuk ke rumah.


“Wah ... rumahnya terasa nyaman sekali, Kak.” Nessia suka juga dengan desain rumah Loveta. “Jika nanti aku punya rumah. Aku mau rumah seperti ini.” Nessia sudah membayangkan akan rumah yang akan ditempatinya.


“Suaminya dulu, baru rumahnya.” Danish meledek saudaranya itu.


Nessia selalu saja kalah. Karena pada akhirnya suami yang menjadi permasalahan.

__ADS_1


Semua hanya tertawa. Selalu saja si kembar bertengkar. Sayangnya, Alca tidak punya saudara lagi. Loveta tidak suka bertengkar padanya. Jadi sesekali dia pun iri pada Danish dan Nessia.


Liam sudah menyiapkan makanan yang dipesannya di restoran. Setelah menurunkan barang, mereka semua segera makan bersama.


“Kalian jadi mau pergi babymoon kapan?” Di tengah-tengah makan, Mami Neta bertanya. Kemarin dia dengar kabar dari anaknya jika mereka akan pergi babymoon.


“Minggu depan, Mi.” Liam yang menjawab pertanyaan itu.


“Kak Liam belum puas di Bali. Jadi dia mau di sana.” Loveta tahu suaminya sangat antusias sekali. Jadi dia menuruti permintaan ke Bali.  


“Aku jatuh cinta pada negeri ini.” Liam menambahkan.


“Pergilah, nikmati waktu kalian. Pastinya akan sangat menyenangkan ketika berada di sana ketika momen-momen seperti ini.” Mama Arriel mendukung anaknya. Setiap momen kehamilan selalu menarik untuk dinikmati.


“Iya, Ma. Aku rencananya ingin mengambil foto kehamilan di pinggir pantai.” Loveta berniat untuk foto kehamilannya. Untuk dijadikan kenang-kenangan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2