
Papi Dathan dan Mami Neta begitu terkejut dengan niat Liam. Apalagi ini begitu mendadak sekali.
Mereka berdua langsung mengalihkan pandangan pada Loveta. Senyum manis yang menghiasi wajahnya menandakan jika Loveta juga mencintai Liam. Mereka berdua berpikir jika bunga yang dipegang Loveta diberikan oleh Liam karena cinta. Belum selesai mereka berpikir dengan bunga. Tiba-tiba mereka melihat penampakan cincin di jari Loveta. Mereka berdua hanya saling pandang. Memikirkan hal yang sama. Yaitu Loveta sudah menerima Liam.
“Apa kamu yakin ingin menikah dengan Loveta?” tanya Papi Dathan memastikan.
“Tentu saja saya yakin.” Liam menjawab dengan penuh keyakinan.
Mami Neta tersenyum. Sejak awal datang, dia memang melihat jika Liam memang menyukai Loveta. Namun, waktu itu dia tidak bisa jadi pendukung karena Loveta masih bersama Leo.
Papi Dathan mengalihkan pandangan pada Loveta. “Apa kamu menerima lamaran Liam?” tanyanya memastikan pada putrinya.
“Iya, Pi. Aku menerima.” Loveta mengangguk.
Mendapati jawaban sang anak, tidak ada alasan Papi Dathan menolak. Apalagi anaknya tampak bahagia menerima lamaran Liam.
“Baiklah, aku mengizinkan kalian menikah.” Papi Dathan merasa Liam adalah pria yang tepat untuk anaknya. Pria baik yang pastinya akan menjaga anaknya kelak.
__ADS_1
Loveta langsung berdiri. Kemudian menghampiri sang papi. Memeluk erat papinya. Dia senang papinya mengizinkannya menikah.
“Papi ingin melihatmu menikah dengan pria yang baik.” Papi Dathan berharap putrinya dapat menemukan suami yang baik. Tentu saja Liam adalah orang yang tepat.
Loveta melepaskan pelukannya. Menatap papinya. Papi Dathan menghapus air mata sang anak. “Jangan menangis. Kamu harus terus bahagia.” Papi Dathan menenangkan anaknya. Kemudian beralih pada Liam. “Lalu kapan kalian mau menikah?” tanyanya.
“Sesuai rencana pernikahan Loveta.” Liam mencoba menjelaskan.
“Tapi, pesta itu tinggal dua minggu. Apa waktunya cukup untuk mengurus berkas-berkas?” Mami Neta merasa akan sulit menyiakan berkas dalam waktu dua minggu. Apalagi Liam berwarganegara asing.
“Aku akan urus semua.” Papi Dathan langsung bertindak. “Siapkan saja berkas milikmu besok.” Dia beralih pada Liam.
“Sepertinya kita harus kerja ekstra mempersiapkannya, karena sisa dua minggu.” Mami Neta sepertinya harus ekstra lagi. Mengingat waktu yang tersisa hanya sebentar.
“Kita akan kerjakan bersama-sama. Pastinya akan cepat selesai.” Papi Dathan memberikan semangat.
Liam mengangguk. Beruntung sekali dia mendapatkan orang-orang baik seperti keluarga Fabrizio. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
__ADS_1
...****************...
“Kenapa kamu langsung menerima Liam yang melamar Loveta?” Sebelum tidur, Mami Neta bertanya pada suaminya. Dia ingin tahu apa yang membuat suaminya menerima Liam.
“Kita kenal Liam sejak lama. Saat dia kembali ke sini sifatnya tidak pernah berubah. Dia masih tenang dan menyayangi orang-orang sekitar. Bagaimana dia membangun usaha juga menjelaskan jika dia adalah pria yang mau berusaha. Jadi aku tidak punya alasan untuk tidak menerimanya. Apalagi aku lihat Loveta menyukainya.” Papi Dathan tersenyum.
Mami Neta masuk ke dalam pelukan sang suami. Memeluk sang suami yang sudah berbaring.
Mami Neta mencerna ucapan suaminya. Yang diucapkan suaminya memang benar. Liam adalah pria yang baik. Mau berusaha dan bekerja keras.
“Sebenarnya aku sudah tahu lama jika Liam menyukai Cinta, tetapi waktu itu masih ada Leo. Jadi aku tidak bisa mendukung.” Mami Neta tersenyum.
“Tapi, sepertinya Loveta suka saat masih bersama Leo.” Papi Dathan menatap sang istri yang berada di pelukannya.
“Apa itu tergolong selingkuh?” tanya Mami Neta tersenyum.
__ADS_1
“Iya, selingkuh hati.” Papi Dathan tertawa.