
Loveta dan Liam sampai di bandara mereka akan bersiap ke Italia.
Ada keluarga yang turut mengantarkan mereka. Papi Dathan, Mami Neta, Nessia, dan Danish turut hadir mengantarkan mereka datang untuk Loveta dan Liam.
Tak hanya mereka saja. Ada Mama Arriel, Papa Adriel, dan Alca yang juga hadir.
“Ingat jaga diri baik-baik.” Papi Dathan memberitahu anaknya itu.
“Iya, Pi.” Loveta mengangguk.
“Makan yang teratur. Jangan sampai telat.” Mami Neta kembali memberikan nasihat yang sama.
“Iya, Mi.” Lovet mengangguk. Kemudian memeluk papi dan maminya. Loveta beralih pada mamanya. Kemudian memeluk sang mama.
“Mama tidak mau oleh-oleh apa-apa. Mau oleh-oleh cucu.” Mama Arriel tersenyum. Dia sudah mendambakan cucu dari anaknya.
Loveta melihat ke arah Liam. “Aku akan berusaha membuatkannya untuk Mama.” Dia tersenyum sambil melihat suaminya. Memberikan kode pada suaminya.
Liam pun hanya tersenyum saja.
“Jangan lupa oleh-oleh untukku. Belikan aku tas keluaran brand terkenal itu.” Nessia menggoda sang kakak.
“Tidak memberi uang, minta tas mahal.” Loveta menyindir.
__ADS_1
“Kak Neta pasti banyak uang. Aku sudah dengar jika Kakak dapat uang dari papi.” Nessia menyeringai. Tadi Alca tidak sengaja menceritakannya. Alhasil dia tahu kakaknya baru dapat uang.
“Iya, nanti aku belikan.” Loveta menatap malas pada adiknya. Namun, tetap tidak bisa menolak.
Liam berpamitan pada keluarga. Berjanji akan menjaga Loveta dengan baik.
Saat pesawat mereka akan segera lepas landas, Liam dan Loveta segera naik.
Perjalanan mereka akan sangat panjang memakan waktu delapan belas jam empat puluh menit. Dengan waktu tempuh yang lama tentu saja mereka harus bersabar.
Selama perjalanan Loveta menikmatinya. Apalagi dia bisa menonton film atau mendengarkan musik. Jadi dia tidak merasa bosan.
Di dalam pesawat, Liam dan Loveta juga mendapatkan sajian nikmat. Sudah seperti di restoran bintang lima.
Jika mengingat makanan yang mereka bawa. Tentu saja itu membuat mereka lucu. Namun, makanan yang dibawakan Mami Neta tidak ada duanya.
Akhirnya pesawat mendarat juga. Saat sampai mereka disambut dengan udara ingin. Beruntung Loveta sudah memakai mantel.
Liam dan Loveta sudah dijemput oleh asisten Liam. Kebetulan sang asisten sudah lebih dulu berangkat.
Mereka berdua masuk ke mobil. Sepanjang jalan mereka disuguhi pemandangan kota yang indah. Bangunan kuno yang tampak terawat membuat mata tak jemu memandang. Apalagi suasana sore begitu indah sekali.
__ADS_1
Mobil akhirnya sampai juga di rumah kediaman Liam. Saat sampai mereka disambut dengan gerbang tinggi. Hamparan rumput yang luas pun menjadi pemandangan pertama yang dilihat Loveta. Saat mobil berhenti, Loveta dibuat kembali tercengang. Rumah begitu besar sekali.
“Ini rumah kamu?” Loveta menatap sang suami.
“Lebih tepatnya rumah peninggalan mama.” Liam mencoba menjelaskan.
Loveta benar-benar tidak habis pikir. Sepertinya banyak hal yang dia tidak tahu tentang suaminya itu. Mulai dari isi rekening milyaran sampai rumah mewah di luar negeri.
“Ayo keluar.” Liam mengajak sang istri keluar.
Loveta segera keluar. Rumah dengan desain klasik khas Eropa tampak mengagumkan sekali. Loveta hanya berdecak kagum. Rumah ini jelas lebih besar dibanding rumah orang tuanya.
Liam menautkan tangannya. Mengajak Loveta untuk masuk ke rumah.
Loveta benar-benar terpukau dengan dekorasi di dalam rumah. Benar-benar klasik dan cantik.
“Kamu tinggal di sini sejak kecil di sini?” tanya Loveta penasaran.
“Tidak. Rumah ini dibeli mama saat dia mulai sukses. Mungkin saat aku umur dua puluh tahun.” Liam mengingat kapan rumah ini beli. “Mama tidak mau usahanya tidak ada hasil. Karena itu dia langsung membeli rumah ini,” jelas Liam lagi.
Loveta mengangguk-anggukan kepalanya. Masih tidak percaya jika Liam punya rumah sebesar ini.
“Lalu siapa yang tinggal di sini saat kamu tidak ada?” Loveta menatap sang suami.
__ADS_1
“Selamat datang.” Tepat saat Loveta bertanya, seorang wanita datang menghampiri mereka.
Loveta segera mengalihkan pandangan. Dilihatnya seorang wanita cantik berjalan ke arahnya. Dia bertanya-tanya siapa gerangan wanita itu. Karena sang suami tidak mengatakan apa pun padanya.