Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 31


__ADS_3

“Sudah-sudah kalian berdua ini selalu bertengkar saja.” Mami Neta menghentikan aksi anak kembarnya.


Seketika Nessia dan Danish berhenti. Takut sang mami akan murka jika dilanjutkan.


“Kenapa bertengkar?” Papi Dathan keluar dari kamarnya. Menghampiri keluarga.


“Danish, Pi.” Nessia mengadu pada papinya.


“Kamu juga yang mulai.” Danish tidak mau kalah.


“Sudah-sudah. Kalian sama saja.” Mami Neta menegur. Dia segera beralih ke Liam. “Maaf, mereka memang seperti itu.”


“Tidak apa-apa, Kak.” Liam tersenyum.


“Sudah ayo kita makan dulu.” Papi Dathan menghentikan aksi anak-anaknya juga.


Mereka semua berdiri. Menuju ke ruang makan. Nessia langsung memilih duduk di samping Liam. Hal itu membuat Loveta tidak bisa duduk di samping Liam.


Mereka menikmati makan bersama. Papi Dathan menyelipkan obrolan ringan ketika mereka sedang asyik mengobrol.


“Jadi sudah mulai ramai tokomu?” tanya Papi Dathan.


“Sudah, Pak. Rata-rata mereka yang biasa beli di luar negeri, merasa terbantu dengan adanya toko di sini. Tentu saja itu adalah hal yang menguntungkan karena pasara ternyata menerima baik pembukaan toko.”

__ADS_1


“Bagus, aku ikut senang. Dengan begitu pastinya toko akan bertahan lama.”


Mereka menikmati makan malam dengan hangat. Menyelipkan cerita-cerita seru. Nessia berkali-kali memberikan perhatian pada Liam. Hal itu membuat Loveta sedikit kesal dengan adiknya itu.


Loveta terus diam sejak tadi. Dia masih dengan pikirannya sendiri. Memikirkan kenapa perasaannya pada Liam berubah. Apalagi ketika sang adik mendekati Liam, ada terselip rasa cemburu.


Kenapa perasaanku seperti ini?


Seusai makan malam mereka melanjutkan kembali mengobrol di ruang keluarga. Liam mengobrol dengan Papi Dathan.


Liam melihat jelas perubahan Loveta. Namun, dia tidak tahu apa yang membuat Loveta diam saja. Karena sedang asyik mengobrol dengan Papi Dathan, dia tidak bisa bertanya pada Loveta.


Tepat jam delapan, Liam berpamitan. Loveta, Papi Dathan, dan Mami Neta mengantarkan Liam sampai depan.


Sampai di apartemen, Liam masih memikirkan kenapa Loveta bersikap diam saja. Padahal dia biasanya ceria. 


Rasa penasaran Liam mengantarkannya menghubungi Loveta. Dia ingin tahu apa yang menjadi alasan Loveta.


“Halo, Kak.” Suara Loveta terdengar dari seberang sana.


“Kamu belum tidur?” Liam tadi ragu mau menghubungi Loveta. Namun, ternyata Loveta belum tidur.


“Belum.” Loveta menjawab singkat.

__ADS_1


“Kamu kenapa?” tanya Liam.


“Kenapa apanya, Kak?” Loveta di seberang sana merasa bingung dengan pertanyaan Liam.


“Sejak makan malam kamu diam terus. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Liam.


“Entahlah, Kak. Aku sendiri tidak tahu kenapa diam. Aku sendiri tidak tahu apa yang mengganggu pikiranku.”


Liam justru semakin bingung. Loveta sendiri saja tidak tahu apa yang dipikirkan. Lalu bagaimana dia tahu apa yang harus dilakukannya.


“Jika ada yang mengganggu pikiranmu. Telisik dalam hati kecilmu. Apa yang kamu inginkan. Jangan takut untuk mengungkapkannya. Karena melalukan sesuatu harus dari hati. Jika kamu butuh bantuan. Carilah aku.” Liam tentu tidak bisa memberikan solusi pasti. Jadi dia hanya bisa menasihati.


“Baiklah, Kak. Aku akan mencari Kak Liam jika aku butuh bantuan.”


“Besok aku akan datang menjemputmu.”


“Baik, Kak.”


Akhirnya sambungan telepon berhenti. Liam meletakkan ponselnya. Dia berniat menemui Loveta besok untuk bertanya secara langsung. Berharap jika bertanya langsung akan membuat Loveta lebih tenang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2