
Mendapati permintaan Leo membuat Loveta bingung. Kenapa harus menjauh? Padahal dia baru saja bertemu dengan Liam setelah sekian tahun.
“Leo, mungkin ini ada salah paham. Aku kenal Kak Liam, dia tidak mungkin berlaku jahat.” Loveta masih belum bisa menerima jika Leo menuduh Liam seperti itu.
Leo yang menggenggam tangan Loveta erat, langsung melepaskannya perlahan genggaman tangannya.
“Leo.” Loveta melihat Leo yang perlahan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Loveta.
“Kamu tidak percaya jika aku mengatakan dia jahat?” Leo memastikan.
“Leo, aku kenal Kak Liam lama, dia tidak mungkin jahat.” Loveta mencoba menjelaskan.
“Lalu di sini aku yang jahat? Karena menuduhnya?” Leo semakin terluka ketika Loveta lebih percaya Liam tidak jahat.
“Leo, bukan begitu maksud aku.” Loveta benar-benar merasa begitu dilema sekali karena Leo justru kecewa padanya.
“Kamu tahu bukan aku sudah jelaskan jika dia ingin merebut restoran keluargaku. Kamu tahu bukan jika selama ini papaku yang membangun restoran itu hingga memiliki berbagai cabang. Tapi, dia datang tiba-tiba dan mengklaim jika semua adalah milik mamanya. Lalu, apa artinya perjuangan papaku?” Leo mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar merasa frustrasi saat orang yang dicintainya tidak percaya padanya.
“Leo.” Loveta mencoba menenangkan Leo. Jika boleh jujur, Loveta bingung harus percaya siapa. Leo yang mengatakan dengan percaya dirinya atau hatinya yang mengatakan jika Liam tidak akan sejahat itu.
__ADS_1
“Jika dia baik, tidak mungkin dia ingin merebut restoran.” Leo masih merasa apa yang dilakukan Liam salah.
“Tenanglah dulu.” Loveta meminta Leo untuk tenang lebih dulu.
Leo berusaha untuk tenang. Namun, memang sulit untuknya.
Loveta semakin dibuat dilema. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapi masalah ini.
“Sebaiknya kita pulang.” Loveta memilih menghindar dari pembicaraan ini. Untuk saat ini itu adalah cara yang tepat untuknya.
“Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang.” Untuk saat ini Leo juga membutuhkan ketenangan. Jadi wajar jika dia memilih untuk mengantarkan Loveta pulang.
Leo melajukan mobilnya. Sepanjang jalan, dia memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Loveta yang masuk ke dalam rumah masih merasa bingung kenapa Leo menuduh Liam seperti itu.
“Apa benar Kak Liam sejahat itu?” Loveta masih berusaha untuk tidak percaya. Namun, ucapan Leo terus terngiang.
“Aku harus menemui Kak Liam.” Loveta tidak bisa diam saja. Dia harus menemui Liam untuk menanyakan semuanya.
__ADS_1
Dengan segera Loveta mengambil kunci mobilnya. Dia akan menemui Liam.
“Cinta, mau ke mana lagi?” Mami Neta yang melihat Loveta datang, berniat menemuinya. Namun, justru melihat sang anak pergi lagi.
“Aku ada urusan, Mi.” Loveta segera masuk ke mobilnya.
Sambil mengemudikan mobilnya. Loveta menghubungi Liam. Di ingin tahu di mana Liam berada.
“Kak Liam di mana?” Loveta memasang ear phone di telinganya ketika bicara dengan Liam.
“Aku sedang perjalanan ke apartemen.”
“Aku akan ke sana. Kita perlu bicara.” Loveta merasa jika harus mendengarkan dari pihak Loveta juga.
“Baiklah, aku menunggumu.” Liam sendiri juga ingin menjelaskan semua. Beruntungnya Loveta meminta untuk bertemu.
Loveta segera mematikan sambungan telepon. Kemudian melajukan mobilnya menuju ke apartemen.
Tanpa Loveta sadari di belakang mobilnya ada mobil Leo yang mengikuti. Feeling Leo tidak salah. Loveta yang mengajak pulang, pastinya berniat untuk menemui Liam. Karena itu dia menunggu tak jauh dari rumah Loveta. Sejujurnya Leo kecewa. Padahal dia sudah meminta Loveta untuk tidak menemui Liam. Hanya saja kekasihnya itu tidak mau mendengarkan.
__ADS_1