
Pagi-pagi sekali Liam sudah datang untuk mengantarkan berkas. Hari ini banyak hal yang akan dikerjakan oleh Liam dan keluarga Fabrizio.
“Kak Liam mau menikah dengan Kak Cinta?” tanya Nessia yang begitu terkejut ketika mendengar jika Liam akan menikah dengan kakaknya.
“Iya.” Liam mengangguk.
“Kak Cinta cepat sekali move on. Aku pikir setelah gagal menikah Kak Cinta akan bersedih selama berbulan-bulan.” Nessia menggoda sang kakak.
Seketika Loveta terdiam. Dia merasa malu secepat itu berpaling dari Leo. Padahal baru seminggu yang lalu dia berpisah dengan Leo.
“Kamu justru harus belajar dari itu. Karena artinya kakakmu memikirkan masa depan. Tidak berhenti di masa lalu. Hidup terus berjalan jadi bangkit dari masa lalu pastinya sangat penting.” Mami Neta memberikan nasihat pada anaknya. Sekalian membesarkan hati sang anak.
“Benar itu. Jangan saat putus cinta, kalian harus membuang waktu menangis berbulan-bulan. Hidup ini indah. Jadi kenapa tidak dinikmati.” Papi Dathan menambahkan.
Loveta yang tadinya berkecil hati langsung merasa lega karena ternyata tidak semua menanggap waktu yang cepat untuk bangkitnya sebelah mata.
“Maaf Kak Cinta, aku tadi tidak berniat membuat Kak Cinta berkecil hati.” Nessia langsung merasa bersalah.
“Tidak apa-apa.” Loveta tersenyum. Merasa jika dia tidak masalah dengan apa yang dikatakan adiknya. Loveta pun langsung memeluk sang adik.
Mami Neta dan Papi Dathan merasa senang karena anak-anaknya akur.
“Baiklah, hari ini aku akan mengurus berkasnya.” Papi Dathan akhirnya membagi tugas pada anaknya. “ Cinta bisa cek sejauh apa persiapan WO. Minta mereka mengganti dekor dengan nama Liam.”
__ADS_1
“Masalah undangan? Undangan sudah disebar dan itu atas nama Leo.” Loveta ragu untuk mengatakannya.
“Tidak apa-apa. Yang penting kamu menikah dengan orang yang benar dan berkasnya benar.” Papi Dathan menenangkan anaknya.
Loveta mengangguk. Mengerti yang dimaksud papinya. Mau undangannya bukan orang yang akan menikah, pernikahannya dengan orang yang benar akan dinikahinya.
...****************...
Sesuai dengan permintaan sang papi, Loveta pergi ke tempat WO. Memberitahu untuk mengubah dekorasi nama yang akan dipasang di pernikahannya. Sebenarnya semua sudah siap, hanya mengubah beberapa hal kecil saja.
Tak hanya itu, Loveta mengantarkan Liam untuk memesan jas. Mengingat tinggal dua minggu akan sulit untuknya memesan. Jadi dia memilih beberapa jas yang sesuai ukurannya.
Liam mencoba beberapa jas. Karena punggung Liam lebar, dia memang sedikit kesulitan untuk mendapatkan ukuran yang pas. Namun, untung saja ada satu jas yang pas untuk ukuran tubuhnya.
“Sepertinya begitu.” Liam menangguk.
Kini urusan mereka sudah selesai. Tinggal menunggu kabar dari Papi Dathan tentang berkas pernikahan mereka.
“Kita ke apartemen sebentar.” Liam mengajak Loveta untuk mampir ke apartemen sebentar. Karena ada yang mau dikerjakannya.
Loveta mengangguk saja. Mengikuti ke mana Liam pergi. Lagi pula urusannya sudah selesai.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen Liam meminta Loveta menunggu di ruang tamu, karena ada yang ingin diambilnya di kamar.
“Kak Liam bawa apa?” Loveta melihat sebuah kotak kayu kuno. Hal itu membuatnya heran.
Liam tidak menjawab. Dia langsung duduk di lantai tepat di hadapan Loveta. Kemudian membuka kotak tersebut.
Loveta melihat ada pengukur kaki, pengaris, pensil dan juga kertas.
“Aku akan membuatkan sepatu untukmu.” Liam menjelaskan apa yang ingin dilakukannya.
“Kak Liam bisa buat sepatu sendiri? Maksud aku, selama ini aku pikir Kak Liam hanya mengoperasikan bisnis ini saja. Tidak bisa terjun langsung membuat sepatu.” Loveta mencoba menjelaskan apa yang diucapkan.
“Seseorang yang tahu cara membuat barang yang dijual, akan lebih mengerti bisnisnya. Sama halnya kamu yang bisa menggambar. Pastinya akan lebih tahu bagaimana bisnis perhiasan berjalan.” Liam menjelaskan. Dia segera melepaskan sepatu yang dipakai Loveta. Kemudian mengukur kaki Loveta.
Yang dikatakan Liam memang benar. Sebuah bisnis memang harus dipahami. Jika tidak paham akan bisnis itu sendiri, bagaimana bisa membangun bisnis.
“Sepatu apa yang akan Kak Liam buat untukku?” tanya Loveta.
Liam mengalihkan pandangan pada Loveta. “Sepatu cantik untuk wanita cantik.”
Pipi Loveta langsung merona mendapatkan pujian itu. Liam selalu saja bisa membuatnya berbunga-bunga.
Liam senang sekali melihat pipi Loveta yang chabi merona. Terlihat menggemaskan sekali.
__ADS_1
“Bagaimana jika kita buat sepatunya berdua?” Loveta memberikan ide pada Liam.
“Maksudnya?” tanya Liam.