Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 118


__ADS_3

Leo melihat Liam yang memotong pita. Tidak menyangka dalam hitungan sebentar Liam sudah menyewa kantor. Ada rasa iri di dalam hati Leo. Iri bagaimana Liam begitu hebatnya menangani bisnis. Sampai perkembangannya secepat itu. Leo merasa begitu bodohnya dirinya.


Belum habis rasa irinya pada bagaimana Liam membangun bisnis, dia harus iri melihat akhirnya Liam mendapatkan Loveta. Gadis yang begitu dicintainya itu. Apalagi kabar pernikahan mereka sudah terdengar sampai ke telinganya. Dia merasa pertarungan ini akhirnya dimenangkan oleh Liam.


Rasa sakit di hati Leo itu membuatnya menyalahkan dirinya sendiri. Andai mungkin waktu itu dia tidak melakukan kesalahan dengan wanita yang entah siapa itu, mungkin sekarang Leo yang bersama Loveta.


Membayangkan bagaimana hidupnya yang hancur, membuat Leo merasa sakit hati  sekali.


Tadi, Leo tidak berniat untuk datang ke kantor milik Liam. Namun, pengacaranya menceritakan jika kini Liam sudah memiliki kantor. Rasa penasaran Leo pun mengantarkannya ke kantor Liam.


Sebenarnya, Leo kembali ke kota ini hanya untuk mengurus penjualan apartemen. Setelah beberapa bulan lalu rumah dijual, kini apartemennya yang dijual. Itu dilakukannya karena untuk membiayai pengobatan mamanya.


Sejak sang papa meninggal, mamanya terus sakit-sakitan. Alhasil, dia harus membawa sang mama ke rumah sakit.


Mamanya yang masih begitu sombong, tak mau ditaruh di ruangan kelas tiga. Dia mau ruangan VVIP. Hal itu membuat Leo harus putar otak untuk menuruti keinginan sang mama. Leo tidak mau sang mama sedih karena keadaan mereka yang serba kekurangan.


Tak mau melihat pemandangan kesuksesan Liam terlalu lama, Leo  memilih untuk pergi. Tak mau terus melukai hatinya sendiri.


“Leo.”


Baru saja Leo mengayunkan langkahnya, suara seseorang terdengar memanggil. Tubuh Leo seketika membeku. Dia hafal betul suara siapa itu. Siapa lagi jika bukan Loveta.


Leo memilih untuk segera mengayunkan langkahnya lagi. Masuk ke mobilnya dan meninggalkan Loveta. Melihat Loveta pastinya akan membuatnya merasa sakit hati. Apalagi kini Liamlah pemilik hati Loveta.

__ADS_1


Loveta yang melihat Leo pergi membuatnya begitu kecewa sekali. Apalagi Leo sengaja pergi karena jelas tadi sempat berhenti. Pastinya Leo mendengar suaranya. 


“Aku hanya ingin tahu kabarmu, Leo.” Loveta merasa sedih ketika Leo justru memilih menghindar darinya.


“Kak Cinta.” Nessia memanggil kakaknya yang berdiri di dekat jalan raya. Dia segera menghampiri kakaknya itu. “Kak, dicari Kak Liam.” Nessia memberitahu kakaknya.


“Aku akan ke sana.” Loveta segera kembali ke kantor Liam. Menyusul Liam yang berada di kantor.


Loveta melanjutkan kembali pesta. Menemani Liam bertemu beberapa karyawannya. Loveta bersama keluarganya juga ikut melihat setiap ruangan di kantor Liam.


Ruangan Liam menjadi favorit Loveta. Karena pemandangan kota terlihat dari atas.


...****************...


“Aku sudah tidak sabar untuk besok bekerja di kantor.” Liam menjatuhkan tubuhnya.


Loveta duduk di sebelah sang suami. Dia ikut senang ketika melihat suaminya begitu bersemangat sekali.


“Kamu harus semakin bersemangat.” Loveta mengulas senyumnya.


“Tentu saja aku bersemangat sekali. Karena akhirnya semua impianku terwujud. Memiliki restoran kembali. Tinggal di sini. Terakhir memiliki kantor di sini.” Liam sangat-sangat bahagia sekali.


Saat mendengar Liam membahas restoran. Seketika Loveta teringat tentang Leo.

__ADS_1


“Aku tadi lihat Leo.” Loveta menceritakan apa yang dilihatnya tadi.


Liam membulatkan matanya. Cukup terkejut dengan yang didengarnya.


“Kamu melihat di mana?” tanya Liam penasaran.


“Tadi aku melihat di depan kantor. Aku mengejarnya, tapi dia pergi begitu. Seolah menghindar dari aku.” Loveta masih merasa kecewa dengan sikap Leo.


Liam terdiam. Dia masih memikirkan kenapa Leo bisa sampai ke kantornya. Dapat info dari mana Leo.


“Dia tampak lusuh sekali. Berbeda dengan dulu.” Mengenal Leo sejak kecil, Loveta tahu bagaimana gaya pakaian Leo. Tadi dia melihat Leo asal memakai baju.


Liam melihat kekhawatiran sang istri. Tampak sang istri khawatir sekali.


“Apa kamu—“


“Jangan berpikir aku masih cinta padanya.” Loveta langsung memotong ucapan Liam. “Aku hanya khawatir saja. Leo terbiasa hidup mewah. Jadi aku hanya khawatir saja apakah dia bisa hidup sederhana.” Loveta mencoba menjelaskan apa yang dirasakannya.


Liam yang tadinya hendak cemburu akhirnya mengurungkan niatnya. Dia percaya jika sang istri hanya khawatir saja.


“Percayalah Leo pasti dapat mengatasi apa yang terjadi pada hidupnya. Apa yang terjadi juga akan menjadi pelajaran untuknya.” Liam mencoba menenangkan istrinya.


Loveta berharap jika Leo benar-benar bisa hidup dalam keadaan kekurangan. Berharap Leo akan menjadi pria tangguh dan jadi pria hebat kelak.

__ADS_1


 


__ADS_2