Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 140


__ADS_3

Loveta melihat isi paper bag, hanya bisa menggeleng saja. Ternyata baju-baju yang dibeli Evelyn sangat mahal-mahal.


“Apa Evelyn membeli baju dengan persetujuanmu?” Loveta menatap sang suaminya.


“Iya, dia mengirimkan gambar semua yang mau dibeli, dan aku memilih mana yang mau dibeli.” Liam menjelaskan pada istrinya seraya mengecek sesuatu di laptopnya.


Loveta ternyata akhirnya tahu jika tidak sepenuhnya Evelyn yang memilih. Ternyata Liam turut andil juga.


“Sayang, besok pagi kita akan ke makam. Setelah itu baru ke kantor. Aku akan tunjukan proses pembuatan sepatu padamu.” Di tengah-tengah sedang mengerjakan pekerjaannya, Liam teringat sesuatu.


Loveta yang sedang merapikan baju barunya, langsung mengalihkan pandangan.


“Baiklah.” Loveta mengangguk.


Liam kembali mengerjakan pekerjaannya. Ada beberapa berkas yang harus dikerjakan.


“Sayang, untuk makan malam nanti, bagus ini atau ini.” Loveta memperlihatkan dua gaun pada Liam.


Liam mengalihkan pandangan pada Loveta. “Gaun cream itu cocok untukmu.” Liam memberikan saran.


Loveta langsung berniat memakainya. Apalagi ada mantel warna senada. Pasti pas sekali.


 


...****************...


Sore hari Loveta bersiap untuk makan malam bersama. Liam sudah mandi lebih dulu, dan bergantian dengan Loveta.


Saat keluar dari kamar mandi, Loveta tidak melihat sang suami di kamar. Padahal sebelum masuk ke kamar mandi tadi, dia melihat Liam di kamar.


Mengingat mereka akan segera berangkat, Loveta segera bersiap untuk mengganti bajunya dan berdandan. Dia tidak mau membuat sang suami menunggu lama.


Suara pintu yang terdengar ketika Loveta sedang berdandan, membuatnya menoleh. Dilihatnya sang suaminya yang berada di balik pintu.


“Kamu dari mana?” tanya Loveta saat kepala Liam menyembul dari balik pintu.


“Mengambil ini.” Liam masuk ke kamar seraya menjawab. Dia menunjukkan paper bag yang dibawanya pada sang istri.

__ADS_1


Loveta melihat paper bag bertuliskan toko milik Liam. Artinya itu adalah sepatu.


“Kamu ambil sepatu?” tanya Loveta.


“Bukan aku.” Liam menggeleng seraya mengayunkan langkahnya menghampiri Loveta.


“Lalu untuk siapa?” tanya Loveta.


“Untukmu.” Liam segera berjongkok tepat di hadapan sang istri. Mengambil sepatu yang berada di dalamnya.


Sebuah sepatu dengan warna cream yang cantik. Sepatu tampak simple, tapi elegan sekali.


Loveta yang melihat sepatu yang cantik tampak terpukau sekali. Terpesona dengan sepatu cantik yang dibawa sang suami.


Dengan segera Liam memakaikan sepatu tersebut pada kaki istrinya. Warna cream pas sekali di kaki Loveta.


Setelah memakaikan, Liam menatap sang istri. “Cantik,” pujinya.


“Bagaimana bisa kamu terus membuat aku jatuh cinta?” Loveta benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Suaminya benar penuh kejutan.


“Teruslah jatuh cinta. Agar kita bisa terus bersama.” Liam berdiri seraya mengulurkan tangan pada istrinya.


Saat menuruni anak tangga, Liam dan Loveta tampil begitu serasi.


“Pantas Kak Liam tidak melirik wanita lain. Kak Loveta benar-benar cantik.” Evelyn berbisik pada suaminya.


“Dia hanya mempraktikkan kata setia yang sesungguhnya. Seperti aku.” Evan tersenyum manis.


Evelyn menatap curiga pada Evan.


“Jangan bilang kamu tidak percaya aku setia?” tanya Evan.


Evelyn langsung melingkarkan tangannya di lengan sang suami. “Tentu saja aku percaya.” Evelyn tersenyum.


“Ayo.” Di saat Evelyn dan Evan sedang asyik berbisik, Liam datang dan langsung mengajak mereka.


Keduanya langsung mengangguk. Dan mengayunkan langkah bersama Liam dan Loveta. Mereka berdua naik satu mobil. Dengan Evan di kursi kemudi dan Liam sebelahnya.

__ADS_1


Loveta dan Evelyn tampak berada di kursi belakang. Mereka berdua saling memuji satu dengan yang lain.


Mereka sampai di salah satu restoran terkenal di kota. Saat masuk mereka disuguhi dengan dekorasi klasik yang cantik. Beberapa ornamen berwarna gold memberikan kesan mewah di dalam restoran.


Liam, Loveta, Evan, dan Evelyn langsung duduk di meja yang mereka sudah pesan. Pramusaji langsung melayani mereka dengan sangat ramah.


Baru datang pramusaji menyajikan makanan pembuka. Menu yang disajikan adalah antipasto platter, hidangan yang terdiri dari kombinasi daging, sayuran, dan keju.


Loveta yang memakannya menikmati sajian itu. Makanan itu masih pas di lidahnya.


Berlanjut sepiring pasta carbonara tampak cantik disajikan. Rasa autentik yang tidak akan dijumpai di negara lain, tentu saja membuat sajian itu istimewa.


Loveta benar-benar dimanjakan dengan makanan-makanan yang disajikan. Lidahnya seperti sedang ikut menjelajah dunia.


“Apa kamu suka?” tanya Liam pada sang istri.


“Suka.” Loveta mengangguk.


Tidak lengkap jika ke Italia tidak mencicipi pizza khas dari asalnya. Pizza yang masih dipanggang dengan cara tradisional memberikan sensasi berbeda.


Untuk hidangan penutup, restoran memberikan gelato untuk dinikmati. Es krim yang terbuat dari buah-buah itu terasa segar sekali. Pas di lidah.


Loveta puas sekali menikmati sajian makanan yang ada. Perutnya benar-benar kenyang.


“Tidak seburuk yang aku bayangkan. Aku masih bisa makan.” Loveta tersenyum.


“Tapi, tetap saja kita akan rindu masakan Indonesia.” Liam tersenyum.


“Mami sudah bawakan makanan untuk kita. Pastinya tidak perlu rindu.” Loveta tertawa lirih.


“Iya, semua sudah tersimpan rapi di lemari pendingin. Besok tinggal kita beli beras.” Liam langsung bersemangat. Tetaplah makanan dalam negeri selalu di hati.


“Liam.” Tiba-tiba Evan memanggil Liam di tengah obrolan Liam dengan sang istri.


Liam langsung menoleh. “Apa?” tanyanya.


“Hai, Liam.” Seorang wanita menghampiri Liam seraya menyapanya.

__ADS_1


Liam membulatkan matanya ketika melihat siapa yang datang. Adik iparnya itu telat memberitahu hingga tak sempat dirinya pergi.


 


__ADS_2