
“Jadi kantornya sudah jadi?” tanya Papi Dathan pada Liam ketika mendapati permintaan Liam untuk datang ke pembukaan kantor senin besok.
“Sudah, Pi. Semua sudah beres. Jadi kantor sudah bisa dipakai mulai senin besok.” Liam memberitahu mertuanya itu.
“Syukurlah semua sudah beres. Aku ikut senang. Aku akan datang nanti.” Papi Dathan merasa bangga pada menantunya. Dia hanya membukakan jalan, tapi dia sudah berjalan sendiri. Jadi tak ada yang perlu ditakutkan Papi Dathan.
“Tadi Lolo juga sudah ke panti asuhan mengundang Bu Kania juga.” Loveta menimpali pembicaraan sang suami dan papinya.
“Kalau begitu nanti Bu Kania biar Mami yang urus. Kalian fokus saja dengan pembukaan kantor baru.” Mami Neta ingin turut andil juga membantu anaknya. Jadi dia memilih mengambil alih Bu Kania agar Liam fokus pada urusannya.
“Baik, Mi.” Loveta mengangguk.
“Mungkin setelah ini kantor berjalan kami akan ke Italia bulan depan. Karena aku harus mengurus beberapa hal di sana.” Liam memberitahu mertuanya.
“Wah ... Kak Cinta mau ke Italia? Pasti di sana romantis sekali.” Nessia membayangkan hal indah yang selalu dilihatnya di film-film itu.
Loveta sendiri cukup terkejut dengan ucapan Liam. Karena suaminya itu tidak pernah mengatakan padanya sama sekali.
“Apa ini juga rangka bulan madu juga?” goda Mami Neta.
__ADS_1
“Aku pastinya akan berusaha untuk menyelipkan bulan madu di sela-sela pekerjaanku.” Liam tersenyum. Memang ini tidak bisa murni disebut bulan madu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Tidak apa-apa. Selesaikan pekerjaanmu dulu, lalu pergi bulan madu.” Mami Neta tersenyum.
Liam mengangguk. Dia melihat ke arah sang istri. Tampak sang istri tak berkomentar apa pun. Dia tahu jika sang istri tampak bingung dengan ucapannya. Karena memang dia belum membicarakan ini pada sang istri.
Usai makan malam dan mengobrol sebentar, Liam dan Loveta ke kamar. Sudah malam. Jadi mereka akan beristirahat.
Saat baru saja masuk ke kamar, Liam langsung menarik sang istri.
“Maaf aku belum bilang padamu.” Rencana ini memang masih dalam pertimbangannya. Jadi belum disampaikan pada istrinya.
Loveta langsung menghadap sang suami. Menatap sang suami dari dekat.
“Iya, aku janji akan mengatakan padamu lebih dulu.” Liam mengangguk. Dia merengkuh pinggang sang istri agar dapat mendekat ke arahnya. Satu kecupan pun mendarat di dahi Loveta.
Loveta tidak bisa marah pada Liam. Apalagi sang suami begitu mencintainya.
“Kapan tepatnya kita akan pergi ke Italia?” Loveta menengadah melihat ke arah Liam yang jauh lebih tinggi darinya.
__ADS_1
“Sepertinya bulan depan. Kamu harus mengurus berkas keberangkatan dulu. Sekalian aku harus mengurus beberapa hal di sini.” Liam menyelipkan rambut sang istri ke balik telinga.
Loveta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu berapa lama kita di sana?” tanya Loveta ingin tahu.
Liam tampak terdiam. “Satu bulan.” Liam menjelaskan berapa lama dia akan pergi.
Loveta membulatkan matanya. Satu bulan waktu yang lama. Jelas itu membuatnya akan meninggalkan pekerjaannya cukup lama.
“Kenapa lama sekali?” tanya Loveta.
“Dua minggu aku menyelesaikan pekerjaan dan dua minggu kita bulan madu.” Liam menjelaskan apa yang akan dilakukan selama sebulan itu.
Loveta ragu selama itu. “Lalu selama dua minggu kamu bekerja, apa yang akan aku lakukan?” Dia memastikan lebih dulu. Karena tidak mau sampai tak banyak yang dilakukannya.
“Kamu bisa ikut aku ke kantor. Melihat-lihat kantor dan pembuatan sepatu. Pasti akan sangat menyenangkan bukan?” Liam merasa ide itu sangat bagus sekali. Karena dengan begitu Loveta tidak bosan..
Mendapati ide itu, Loveta langsung berbinar. Dia merasa ide itu cukup bagus sekali.
“Baiklah, aku mau.” Kapan lagi punya pengalaman melihat pembuatan sepatu dan melihat kantor Marlene yang keren. “Tapi, kalau selama itu perginya, kita harus mengatakan pada mama. Aku takut mama tidak akan mengizinkan.” Loveta jadi ragu. Dia masih bekerja di bawah pimpinan mamanya. Mamanya adalah orang yang tegas. Jika masalah pekerjaan, tidak peduli anak sendiri.
__ADS_1
“Kita akan bicara nanti.” Liam yakin bisa meyakinkan mertuanya itu.
Loveta langsung memeluk Liam. Suaminya memang sangat luar biasa. Jadi tidak perlu ada yang ditakutkan lagi.