
Loveta keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya. Handuk yang melilit di dadanya membuat bahunya terbuka. Liam melihat jelas tetesan air yang mengali di leher sang istri. Kulit putih dan menggoda milik sang istri pun seolah sedang memanggilnya untuk segera mendaratkan kecupan di sana.
“Astaga, apa pemandangan seperti ini akan sia-sia dilepaskan?” Liam tak kuasa ketika melihat sang istri. Dengan segera dia menghampiri sang istri dan mendaratkan kecupan di leher sang istri.
“Sayang.” Loveta merasa geli ketika sang suami mendaratkan kecupan. Apalagi bulu halus di dagu sang suami, menggelitik tepat di kulit Loveta.
“Aku benar-benar tidak tahan melihatmu.” Liam memeluk erat tubuh sang istri. Tangannya membelai lembut perutnya. “Apa aku belum boleh berkunjung?” tanya Liam.
Loveta terdiam sejenak sambil mengingat apa yang dikatakan maminya. Maminya bilang usahakan untuk tidak melakukan hubungan suami istri di kehamilan awal. Karena takut terjadi apa-apa.
“Kata Mami, kita harus sabar. Paling tidak sampai trimester awal.” Loveta menjelaskan pada sang suami.
Dahi Liam berkerut dalam. Memikirkan berapa lama trimester awal itu. “Mamang berapa lama trimester awal?” tanya Liam.
“Tiga bulan.” Loveta menjawab enteng.
“Apa? Tiga bulan?” tanya Liam memastikan. Dia merasa terkejut dengan jawaban sang istri tersebut.
“Iya.” Loveta mengangguk.
__ADS_1
“Bagaimana nasibku selama itu.” Liam tidak bisa bayangkan akan menunggu sang istri selama itu.
Loveta langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah suaminya. Dia merasa tidak enak sekali membuat sang suami menunggu selama itu. “Sayang, maaf.” Dia merasa bersalah karena membuat suaminya harus menunggu.
Melihat sang istri yang merasa bersalah membuat Liam langsung tersadar. Sepertinya reaksinya terlalu berlebihan. “Sayang, ini bukan salahmu. Tiga bulan pasti akan berlalu dengan cepat. Pasti semua akan mudah.” Liam mencoba menenangkan sang suami.
“Tapi, pasti berat untukmu tidak menuntaskan hasrat.” Loveta menatap Liam lekat. Masih ada rasa tidak tega.
“Kata siapa aku tidak akan menuntaskan hasrat.” Liam menyeringai.
Loveta berpikir keras untuk mencerna ucapan sang suami. Ucapan suaminya mengarah jika dia akan tetap menuntaskan hasratnya itu.
“Sayang, apa kamu mau selingkuh?” tanya Loveta. Pikirannya melayang memikirkan jika sang suami akan menduakannya ketika dirinya hamil.
“Tadi, kamu bilang tetap akan menuntaskan hasrat. Jika bukan dengan wanita lain lalu dengan apa menuntaskan hasrat?” Loveta masih tidak mengerti dengan ucapan sang suami.
“Dengan ini.” Liam mengangkat tangan sang istri.
Untuk sesaat Loveta tidak mengerti. Dia memandangi tangannya dan terus berpikir. Hingga akhirnya, dia menemukan jawabannya. Pipinya pun langsung merona ketika mengerti apa yang dimaksud oleh sang suami. Suaminya mau dirinya yang membantu menuntaskan hasrat.
__ADS_1
“Sudah paham?” tanya Liam menatap sang suami.
Loveta menunduk malu. Dia sudah paham yang dimaksud oleh suaminya.
Melihat sang istri yang malu-malu membuatnya gemas sekali. Dia langsung memeluknya sang istri. “Mana bisa aku selingkuh jika aku saja mendapatkanmu susah payah.” Liam tentu tidak akan sebodoh itu.
Loveta tahu jika sang suami benar-benar mencintainya. Jadi dia yakin dia tidak akan menghianatinya.
“Sudah cepat pakai bajumu, lalu kita makan.” Liam segera melepaskan pelukan dari sang istri. “Aku akan panaskan makanan buatan mami.” Mami Neta selalu membuatkan makanan untuk mereka berdua. Jadi mereka berdua tidak perlu repot.
“Lalu kamu mau makan apa?” tanya Liam penasaran.
“Aku mau rujak buah seperti yang papi belum waktu itu.” Beberapa hari lalu Papi Dathan membelikan rujak untuknya, dan kali ini tiba-tiba dia ingin makan itu lagi.
Liam ingat beberapa hari lalu jika sang istri mengatakan makan rujak yang dibeli Papi Dathan. Makanan itu pas dimakan siang hari. Jadi dia yakin tidak ada yang jual ketika malam hari. “Mana ada yang jual malam-malam seperti ini?” tanya Liam.
“Tapi, aku mau.” Loveta merengek.
Baru kali ini istrinya mau sesuatu. Tentu saja Liam tidak akan membiarkan hal itu begitu saja. “Bagaimana jika kita buat sendiri?” Liam mencoba menawarkan.
__ADS_1
“Kamu bisa?” tanya Loveta memastikan.
“Kita lihat saja.” Liam sebenarnya tidak yakin. Namun, tidak ada salahnya dicoba.