Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 157


__ADS_3

Yang berada di layar USG hanyalah bintik hitam. Lovera dan Liam merasa bingung. Hanya setitik gambar hitam dan itu tidak dimengerti oleh mereka. Mereka tidak tahu jika itu adalah janin yang hidup di rahim Loveta. Hanya Mami Neta, Papi Dathan, dan Mami Arriel yang tahu karena mereka sudah memeriksakan kandungan berkali-kali.


Liam mengeratkan genggaman tangannya pada sang istri. Walaupun dia tidak tahu apa titik hitam itu, tetapi dia menebak jika itu adalah calon anaknya. Begitu dengan Loveta. Dia begitu bahagia melihat anak dalam kandungannya, meskipun hanya setitik saja. Berharap nanti akan semakin besar dengan bertambahnya usia.


“Cucu kita.” Mami Neta begitu senangnya melihat gambar di layar USG.


“Kita akan jadi nenek.” Mama Arriel begitu senang sekali. Tidak menyangka jika mereka akan jadi nenek untuk pertama kalinya.


“Usia kandungan sudah enam minggu. Nanti semakin bertambahnya usia kandungan, janin akan mulai berkembang. Kita akan lihat perkembangannya setiap minggu.” Dr. Lyra menjelaskan akan hal itu pada Liam dan Loveta.


“Baiklah, Dok.” Liam mengangguk.


Dr. Lyra segera menyelesaikan pemeriksaannya. Kemudian kembali ke meja kerjanya.


Loveta masih menunggu perawat membersihkan cairan yang berada di perutnya. Saat sudah bersih, barulah Loveta bangun dari ranjang pemeriksaan dibantu oleh suaminya. Mereka berdua kembali ke kursi yang berada di depan dokter.


“Apa yang dirasakan? Apa terasa mual?” Dokter ingin meresepkan vitamin untuk Loveta.


“Iya, Dok. Saya merasa mual, pusing, dan badan lemas.” Loveta mengatakan apa yang dirasakannya.

__ADS_1


“Baiklah, saya akan resepkan vitamin dan juga obat untuk mengurangi mual dan pusing.” Dr. Lyra menuliskan resep untuk Loveta. “Kembali lagi ke sini sebulan lagi. Saya sudah tuliskan tanggalnya di sini.” Dokter juga menulis tanggal berkunjung Loveta lagi.


Liam dan Loveta mengangguk.


“Usahakan untuk tetap makan agar bayi di dalam kandungan mendapatkan nutrisi. Untuk sementara mengurangi lemas, coba untuk beristirahat dulu. Tidak melakukan kegiatan yang berat dan menguras tenaga.” Dokter memberikan saran.


Loveta berada dalam dilema. Dia sedang menyelesaikan proyek soft launching. Jadi tentu saja akan sulit jika diminta untuk istirahat.


“Baik, Dok. Saya akan pastikan untuk istirahat.” Liam langsung menjawab ucapan dokter.


Loveta mengalihkan pandangan pada suaminya. Loveta menebak jika suaminya tidak akan memberikan ruang untuk menyelesaikan proyek ini. Pasti suaminya akan memintanya untuk beristirahat.


“Sebaiknya kalian pulang dulu saja. Hanya tinggal mengambil obat dan vitamin. Jadi nanti biar Mami dan Papi yang ambil.” Mami Neta memberikan saran. Tak mau anaknya terlalu lama menunggu.


“Apa tidak apa-apa, Mi” tanya Liam memastikan.


“Tentu saja tidak.” Mami Neta tersenyum.


“Sudah kalian pulang saja bersama Arriel. Nanti kami akan menyusul.” Papi Dathan kembali menambahkan.

__ADS_1


“Baiklah.” Liam mengiyakan permintaan mertuanya. Lagi pula dia ingin sang istri segera beristirahat.


Liam, Loveta, dan Mama Arriel segera pergi. Meninggalkan Mami Neta dan Papi Dathan yang masih menunggu vitamin yang diresepkan dokter.


Mama Arriel meminta supirnya untuk pergi ke apartemen Loveta. Dia memilih untuk menumpang di mobil anaknya agar dapat menjaga sang anak. Sepanjang jalan, Loveta memilih untuk memejamkan matanya. Apalagi perjalanan cukup jauh jika ke apartemen.


Satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga. Saat di apartemen, Liam mengantarkan sang istri untuk ke kamar. Meminta sang istri untuk beristirahat. Loveta langsung naik ke atas tempat tidur. Duduk di tempat tidur. Bersandar pada headboard tempat tidur.


“Istirahatlah dulu.” Liam menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri.


“Tapi, aku tidak mengantuk.” Entah kenapa memang Loveta merasa tidak mengantuk sama sekali.


“Jika tidak mengantuk, paling tidak kamu istirahat saja.” Mama Arriel memberikan saran.


Loveta pasrah. Dia memilih untuk segera merebahkan tubuhnya. Mengistirahatkan tubuhnya.


Suara bel terdengar. Mama Arriel meminta Liam untuk tetap menunggu istrinya. Karena dia yang akan membukakan pintu. Kini di kamar hanya ada Liam dan Loveta saja. Liam membelai lembut wajah sang istri. Memandangi sang istri terus menerus. Kebahagiaan yang dirasakan Liam benar-benar membuat senyum terus mengembang di wajahnya.


“Apa kamu tidak akan mengizinkan aku bekerja lagi?” tanya Loveta memastikan.

__ADS_1


__ADS_2