
Loveta sudah tidur setelah minum vitamin. Jadi Liam bisa keluar. Papi Dathan, Mami Neta, dan Mama Arriel menunggu Liam untuk makan siang.
“Mami, Papi, dan Mama belum makan?” Liam pikir mereka sudah makan lebih dulu. Karena dia cukup lama berada di kamar menyuapi Loveta dan menunggu Loveta tidur.
“Makan bersama akan lebih enak.” Papi Dathan tersenyum.
Liam merasa tidak enak sekali. “Ayo makan.” Dia segera mengajak mertuanya untuk makan.
Mereka semua ke ruang makan. Menikmati makanan yang tadi sudah dipesan oleh Liam. Makan siang kali sudah terlambat. Jadi mereka harus segera makan agar tidak membuat mereka sakit.
“Sepertinya Loveta harus istirahat dulu. Apalagi masih masa awal kehamilan.” Di tengah-tengah makan, Mami Neta menyelipkan obrolan.
“Iya, Mi. Liam juga berpikir seperti itu.” Liam merasa jika memang sang istri harus banyak istirahat di rumah.
“Untuk urusan pekerjaan biar Mama yang selesaikan. Lagi pula tinggal launching. Barang sudah siap semua. Jadi Loveta harus istirahat.” Mama Arriel sudah berpikir untuk mengambil alih tanggung jawab Neta. Karena dia tidak mau sang anak kelelahan dan terjadi apa-apa dengan cucunya nanti.
“Apa tidak masalah jika Mama mengerjakan semua?” Liam memastikan dulu sebelum nanti dia akan mengatakan pada sang istri.
“Tidak apa-apa. Lagi pula produk sudah jadi semua.” Mama Arriel merasa tidak akan banyak yang dikerjakan. Jadi dia bisa mengambil alih.
“Terima kasih, Ma.” Liam merasa lega karena akhirnya pekerjaan istrinya dapat berkurang.
__ADS_1
“Sama-sama.” Mama Arriel tersenyum.
Walaupun sudah jauh lebih tenang, tetapi ada yang dipikirkan Liam saat ini. Yaitu bagaimana istrinya saat ditinggal di apartemen sendiri. Dia juga harus membantu Mama Arriel. Saat memikirkan hal itu, dia teringat ada Mami Neta. Dengan segera mengalihkan pandangan pada mertuanya itu.
“Mi, karena toko akan soft launching produk baru, aku akan sangat sibuk juga. Bisakah aku menitipkan Loveta pada Mami?” Ragu-ragu Liam memberitahu sang mertua.
“Tentu saja tidak masalah. Mami akan jaga Loveta. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu selesaikan saja pekerjaanmu.” Mami Neta tersenyum. Tentu saja dia akan ada untuk anaknya.
Liam kini jauh lebih tenang. Keluarga Loveta memang begitu saling menyayangi. Jadi mereka akan selalu ada untuk satu sama lain.
Mereka melanjutkan kembali makan sambil mengobrol rencana mereka. Mami Neta akan datang ke apartemen untuk menemani Loveta selama Liam bekerja. Mama Arriel akan mengurus produk baru yang akan dirilis bersama Liam. Papi Dathan tentu saja akan bersama dengan istrinya menemani sang anak ketika tidak ada pekerjaan. Semua sudah terbagi dengan baik. Semua tentu saja demi kebaikan ibu hamil.
...****************...
Loveta yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum. Padahal perutnya belum kelihatan seperti ibu hamil. Namun, suaminya sudah menciumi.
“Perutku masih rata. Kenapa diciumi seperti itu?” tanya Loveta seraya membelai lembut kepala sang suami.
“Di perut rata ini ada anak kita. Jadi aku akan terus menciuminya.” Liam kembali mendaratkan kecupan di perut sang istri.
Loveta tersenyum. Dia merasa sang suami begitu menggemaskan sekali.
__ADS_1
Liam menatap sang istri. Kemudian menarik tangan sang istri. “Aku akan menjagamu dan anak kita.” Sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Loveta.
Loveta tersenyum. Dia merasa begitu dicintai oleh Liam. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
...****************...
Loveta memutahkan seluruh isi perutnya. Ternyata saat mengetahui dirinya hamil. Rasa mualnya berlipat-lipat kali. Tentu saja itu membuat Loveta merasa tidak nyaman. Namun, mau bagaimana lagi. Memang itu yang harus dilaluinya.
“Aku akan buatkan teh hangat.” Liam membawa Loveta untuk ke kamar lagi. Memintanya untuk beristirahat. Kemudian berlalu keluar untuk membuatkan teh. Beberapa saat kemudian, Liam membawa teh dan memberikannya pada sang istri.
Loveta langsung meminum teh hangat tersebut. Rasa mualnya perlahan berkurang. Walaupun tidak terlalu banyak.
“Aku benar-benar tidak tega meninggalkanmu.” Liam melihat sang istri benar-benar begitu lemas sekali.
Loveta tersenyum. Dia tahu jika sang suami sangat khawatir sekali. Namun, suaminya harus bekerja. Karena akan launching produk baru.
“Akan ada mami yang datang. Jadi kamu tidak perlu khawatir.” Loveta mencoba menenangkan sang suami.
Liam mengingat jika hari ini Mami Neta akan datang. Jadi dia bisa bekerja. Lagi pula Mami Neta yang akan menunggu, harusnya Liam tidak perlu khawatir. “Baiklah.” Liam mengangguk.
Setelah meminum teh hangat, Loveta memilih untuk beristirahat lebih dulu. Dia merasa tubuhnya begitu lemas untuk sekadar bangun.
__ADS_1
Di saat sang istri beristirahat, Liam menggunakan waktu untuk bersiap ke kantor. Kali ini dia harus bersiap sendiri. Padahal biasanya sang istri yang menemani. Liam harus bisa melakukan sendiri. Karena tidak mau mengganggu sang istri.