Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 109


__ADS_3

Hari ini Liam akan melihat gedung dengan Kean. Tadi mereka sudah berkomunikasi untuk bertemu langsung ke lokasi. Namun, sebelum ke lokasi, Liam mengantarkan Loveta untuk ke toko.


Dari toko Malya, Liam langsung melajukan mobilnya ke gedung yang akan disewanya.


Saat sampai di gedung tersebut, ternyata sudah ada Kean di sana. Tampak Kean berada di depan gedung. Tak hanya sendiri, Kean tampak beberapa orang. Liam berpikir mungkin itu adalah orang-orang Adion.q


“Maaf aku terlambat datang.” Liam yang baru datang langsung mengulurkan tangan.


“Tidak apa-apa. Aku juga baru datang.” Kean menerima uluran tangan Liam. “Mari.” Kean mempersilakan Liam untuk masuk ke gedung.


Liam mengikuti Kean untuk masuk ke gedung tersebut. Saat masuk ke lobi, tampak lobi memiliki tampilan estetik sekali.


“Gedung ini adalah gedung pertama milik Adion. Beberapa kali dirobohkan karena pembangunan ulang. Gedung ini memang sengaja tidak dibuat tinggi untuk menyesuaikan jumlah lantai awal gedung yang ada.” Kean menceritakan sedikit tentang riwayat gedung tersebut.


Liam memahami cerita dari Kean.  Jika dilihat dari kondisi gedung memang masih bagus. Liam yakin memang pihak Adion menjaga kualitas dari gedung dengan baik.


“Di sini ada lima lantai, mari aku tunjukan.” Kean mengajak Liam untuk bersama ke lantai atas.


Liam ikut juga untuk ke lantai atas dengan menaiki lift. Lift pun tampak sekali terawat. Membuat Liam sangat yakin jika memang gedung ini pas untuknya.


Liam melihat setiap ruangan. Lima lantai membuat Liam merasa gedung in pas untuknya. Karyawannya belum banyak. Jadi belum butuh gedung besar.


“Aku suka sekali. Gedung ini sangat terawat sekali.” Liam mengedarkan pandangan ke gedung.


“Syukurlah jika kamu suka. Lokasi ini cukup strategis. Jadi kamu pasti dimudahkan sekali beroperasi.” Kean kembali memberikan gambaran untuk gedung yang ditawarkan.

__ADS_1


Liam mengangguk. Dia merasa memang gedung ini pas sekali. Sesuai dengan yang dicarinya.


“Aku sepertinya suka. Kapan kita bisa membuat surat perjanjiannya.” Liam tak mau membuang waktu lama. Apalagi dia sudah butuh  gedung itu.


“Baiklah, aku akan meminta Lean menyiapkan besok.” Kean dan Lean memang sudah membagi tugas. Mereka memang belum secara resmi bekerja di kantor. Karena mereka masih memilih kantor mana yang akan mereka pilih. Jadi ini hanya proyek awal yang diberikan oleh kakeknya.


“Baiklah, aku akan menunggu.”


Seusai mengecek gedung, mereka melanjutkan untuk makan siang. Kebetulan sudah masuk waktu makan siang. Mereka memilih restoran dekat gedung tersebut.


“Aku dengar kalian baru akan bekerja?” Di tengah-tengah makan Liam bertanya pada Kean.


“Iya, kami sedang memilih akan bekerja di mana.”


“Iya, Adion Company adalah punya grandpa Bryan, sedangkan JA Company adalah milik kakek Felix dan daddy-ku. Jadi aku dan Lean sedang memikirkan ke mana kami akan bekerja.” Kean menjelaskan sedikit dengan apa yang akan dilalukannya.


“Apa kalian langsung jadi CEO?” tanya Liam.


“Tentu saja tidak. Aku dan Lean mau dari bawah dulu.” Kean merasa jika dia harus banyak belajar. Jadi tidak main mengambil posisi tinggi.


Liam tidak menyangka jika ternyata Kean dan Lean mau belajar dari bawah. Padahal mereka anak pemilik perusahaan.


“Tapi, sepertinya aku harus belajar banyak juga darimu.” Kean tentu tidak mau kehilangan kesempatan berharga.


“Tentu saja. Kamu bisa tanya banyak hal padaku.” Liam membuka tangan lebar ketika Kean mau bertanya.

__ADS_1


“Tentu saja.” Liam mengangguk.


Mereka berdua berbicara tentang bisnis. Liam bercerita tentang bisnisnya. Kean begitu antusias sekali karena ada hal-hal menarik yang didapatkannya.


 


...****************...


“Kamu jadi bertemu dengan Kean?” tanya Loveta ketika sedang dalam perjalanan ke apartemen.


“Sudah, besok aku akan bertemu Lean mengurus kontrak kerja sama.” Liam menoleh sejenak pada istrinya yang duduk manis di sebelahnya.


“Sebenarnya aku ingin ikut sekalian bertanya tentang perumahan, tapi nanti saja jika urusanmu sudah selesai.” Loveta ingin mencari rumah untuk mereka. Namun, tidak mau mengganggu Liam.


“Kita akan tanya jika semua urusanku selesai.” Liam setuju dengan ide sang istri. Dia memang masih ingin fokus pada pekerjaannya dulu. Sebelum mengurus urusan pribadi. Lagi pula tinggal di apartemen masih cukup aman.


Loveta mengangguk. Mereka menikmati perjalanan pulang. Jalanan cukup macet. Jadi mereka punya waktu untuk mengobrol.


“Hari ini biarkan aku yang masak.” Loveta mengajak Liam mengobrol. Menunggu kemacetan yang belum terurai.


“Memang kamu mau masak apa?” Liam penasaran.


“Emm ... kita lihat saja.” Loveta tersenyum. Dia juga ingin menunjukkan keahliannya memasak. Apalagi mami dan papinya adalah guru terbaiknya.


“Baiklah.” Liam mengangguk. Dia penasaran juga apa yang akan dimasak oleh sang istri.

__ADS_1


__ADS_2