
Loveta memiringkan tubuhnya. Ingin mencari posisi nyaman. Namun, saat memiringkan tubuhnya, embusan napas menerpanya. Hal itu membuat Loveta merasa aneh. Dia pun segera membuka matanya. Alangkah terkejut ketika melihat Liam berada di depannya.
Sejenak Loveta bertanya-tanya. Kenapa Liam ada di depannya? Akhirnya dia mengingat jika mereka sudah menikah. Jadi wajar saja jika Liam berada di depannya dan satu tempat tidur dengannya.
Saat mendapati Liam di tempat tidur yang sama dengannya, seketika Loveta mengingat sesuatu. Setelah pernikahan pastinya semua pasangan akan menikmati malam pertama. Jadi Loveta memikirkan apakah semalam dia melakukan malam pertama dengan Liam.
Loveta mencoba meraba tubuhnya. Alangkah terkejut ketika mendapati jika gaun pesta yang melekat di tubuhnya semalam, sudah tidak ada.
Rasa penasarannya membuat Loveta mengintip ke balik selimut. Memastikan jika gaun pestanya benar-benar sudah terlepas.
Saat melihat ke dalam selimut, Loveta mendapati jika dia hanya memakai pakaian dalam saja.
“Apa semalam aku melakukannya?” Loveta bertanya pada dirinya sendiri tanpa suara. Tak mau suara.
Loveta mencoba merasakan bagian intimnya. Merasakan apakah terasa perih. Sayangnya, tidak terasa apa pun. Loveta ragu Liam melakukannya semalam.
Sebelum Liam bangun, Loveta memutuskan untuk bangun. Ingin segera memakai baju.
Dengan gerakkan lembut, Loveta bangun. Menyingkap selimut dengan perlahan juga. Gerakkan itu dibuat sepelan mungkin agar Liam tidak bangun. ÝDia harus segera bergegas sebelum Liam bangun.
__ADS_1
“Kamu sudah bangun?”
Baru saja hendak bangkit, tiba-tiba suara Liam terdengar. Hal itu membuat Loveta mengurungkan niatnya.
“Iya, Kak.” Loveta berbalik kembali dan menatap Liam. Selimut yang sempat disingkapnya segera ditarik kembali. Menutup kembali tubuhnya.
“Kak Liam sudah bangun?” Dengan polosnya Loveta bertanya.
“Apa kamu melihatku masih tidur?” Liam justru merasa lucu dengan pertanyaan wanita yang kini jadi istrinya itu.
Loveta tersenyum. “Iya, Kak Liam sudah bangun.” Dia dengan polosnya mengatakan hal itu.
Liam mengangsur tubuhnya mendekat ke arah Loveta. Hal itu membuat Loveta berdebar-debar. Dia memikirkan, jika semalam gagal, apakah mungkin pagi ini malam pertama mereka akan terlaksana.
Loveta yang tidak memakai baju, merasakan sentuhan Liam tepat di kulitnya. Itu membuat desiran aneh yang dirasakannya.
“Iya, semalam aku mengantuk sekali.” Loveta sedikit gugup sekali.
“Iya, sampai-sampai aku membersihkan wajahmu saja, kamu tidak bangun sama sekali.” Liam tertawa.
__ADS_1
Mendengar ucapan Liam itu, membuat Loveta langsung memegangi wajahnya. “Kak Liam membersihkan wajahku?” tanya Loveta penasaran.
“Iya, aku membersihkan wajahmu semalam.” Liam mengangguk.
Loveta memegangi wajahnya. Wajahnya terasa ringan. Tidak berat sekali. Sayangnya, bulu mata yang pasang masih ada. Namun, tetap saja Loveta harus bersyukur karena wajahnya sebelum tidur dibersihkan. Jika tidak, pasti jerawat-jerawat akan barang di wajahnya.
Liam kembali mengikis jarang lebih dekat lagi dengan sang istri. “Semalam karena mengantuknya, kamu sampai tidur dengan gaun pengantin.” Liam menatap lekat wajah sang istri.
“Kak Liam yang membuka gaun yang aku pakai?” Ragu-ragu Loveta bertanya, karena kini gaun pengantin itu sudah tidak ada.
“Iya, aku yang buka gaunmu.” Liam kembali menarik tubuh Loveta. Membuatnya lebih menempel padanya.
“Jadi Kak Liam lihat tubuhku?” tanya Loveta lagi.
“Iya.” Liam tersenyum puas.
“Tapi, tidak melakukan apa-apa?” Loveta menerawang ke dalam mata Liam.
“Memang apa yang kamu harap setelah aku melihat tubuhmu?” Liam kembali menyeringai.
__ADS_1