Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 96


__ADS_3

Loveta dan Liam kembali ke hotel. Loveta tak hentinya mengulas senyuman. Karena memang Loveta sangat bahagia sekali.


“Jalannya pelan-pelan.” Loveta berbisik pada Liam. Area intimnya masih terasa perih. Jadi harus pelan-pelan.


“Maaf-maaf, aku lupa.” Liam merasa tidak enak ketika ternyata istrinya sedang merasa sakit. “Apa masih sakit sekali?” tanya Liam memastikan.


“Iya.” Loveta mengangguk.


Liam tidak tega. Akhirnya dia memilih langsung menangkup tubuh sang istri.


“Kak.” Loveta berteriak. Liam membuatnya begitu terkejut sekali. Namun, buru-buru dia membungkam mulutnya. Tak mau membuat sampai orang-orang mendengarnya. “Kenapa menggendongku?” Loveta melemparkan protes.


“Agar kamu tidak kesakitan.” Liam tidak mau sampai sang istri kesakitan.


“Tapi, malu dilihat orang.” Loveta melihat ke arah kanan dan kiri. Memerhatikan orang sekitar. Benar saja, orang-orang yang berada di lobi hotel memerhatikannya.  


“Biarkan saja mereka melihat. Mereka punya mata.” Liam mengabaikan protes Loveta. Tetap membawa sang istri dengan menggendongnya.


Loveta hanya bisa pasrah. Sang suami tampak tidak peduli dengan protesnya. Jadi memilih mengabaikannya saja.


Saat di depan pintu kamar, Liam meminta membuka pintu dengan access card yang berada di saku bajunya. Dengan begitu mereka bisa masuk.


Di dalam kamar, Liam langsung menurunkan tubuh sang istri. Kemudian menyibak dress panjang yang dipakai Loveta.


“Kak Liam mau apa?” Seketika Loveta panik ketika Liam hendak membuka dress-nya. Baru juga sampai, suaminya sudah mau mengajak berhubungan intim lagi.


“Aku mau cek apakah luka.” Liam dengan polosnya mengangkat dress yang dipakai sang istri lagi.

__ADS_1


Lovea yang melihat itu langsung mencegah. “Tidak perlu dicek, Kak.” Loveta jelas malu ketika area intimnya ingin dilihat. Tentu saja dia tidak akan mengizinkannya.


“Memang tidak sakit?” tanya Liam memastikan.


Loveta berpikir jika lebih baik dia berbohong saja. Dari pada Liam melihat ke area intimnya.


“Sudah tidak sakit, Kak.” Loveta dengan percaya dirinya menjelaskan.


Liam terdiam sejenak. Memikirkan ucapan sang istri. Kemudian mengangkat dress Loveta kembali.


Alangkah terkejutnya Loveta ketika suaminya tetap ingin membuka dress yang dipakai.


“Kenapa dibuka?” Loveta mencegah Liam lagi.


Liam menyeringai. “Apa lagi jika bukan bercinta lagi.”


Liam menarik dress Loveta ke atas sambil mendaratkan ciuman. Kegiatan baru bersama sang istri membuat candu baru baginya. Rasanya, ingin melakukan lagi dan lagi.


Loveta hanya pasrah. Lagi pula dia juga suka kegiatan baru ini. Walaupun sakit, tapi enak.


 


...****************...


Liam membuka matanya lebih dulu. Saat membuka mata pemandangan pertama yang diliatnya adalah sang istri. Pemandangan indah yang tak akan terkalahkan.


Tampak sang istri begitu kelelahan sekali. Wajar saja. Semalaman mereka menikmati kegiatan baru berkali-kali. Jadi wajar sang istri begitu lelah sekali.

__ADS_1


“Sayang, bangun.” Liam berbisik tepat di telinga sang istri.


Mendengar suara itu Loveta hanya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Aku masih mengantuk, Kak.” Loveta menolak ketika diminta bangun.


“Aku sudah bilang bukan panggil ‘sayang’.” Liam mengingatkan sang istri.


Semalam saat bercinta dengan sang istri. Istrinya itu memanggilnya ‘kak’, seketika Liam meminta memanggil ‘sayang’.


“Sayang, jika kamu memanggil ‘kak’, aku seperti sedang meniduri adikku. Rasanya aku seperti predator anak-anak.” Liam menekuk bibirnya kesal. Dia ingat sekali semalam saat mendesahh sang istri memanggilnya ‘kak’, jadi dia merasa canggung sekali.


Loveta yang masih memejamkan mata langsung tertawa. Kantuknya seketika hilang mendengar ucapan Liam. Merasa lucu dengan ucapan Liam. Mau tidak mau, akhirnya dia membuka matanya.


Saat membuka mata, dia melihat Liam yang menekuk bibirnya karena kesal. Tentu saja itu membuatnya gemas.


“Iya, Sayang.” Loveta langsung mendaratkan kecupan ketika mendengar suaminya merajuk.  


“Itu baru benar.” Liam senang mendengar itu. “Apalagi jika diucapkan dengan suara indahmu.” Liam mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri.


“Sa-yang.” Loveta tak menolak ciuman itu. Ciuman yang beralih ke bawah membuat panggilan itu terdengar lebih menggoda.


Liam semakin bergairah Dia merasa memang kegiatan baru ini tak akan ada habisnya untuk dijelajah. 


Lagi dan lagi kegiatan candu itu membuka pagi ini. Tak perlu matahari jika pasangan bisa memberikan sinar yang membuat wajah terus memancarkan kebahagiaan.


Liam berharap, setelah ini akan ada Liam junior. Untuk melengkapi hidup bahagia mereka. Yang jelas lebih dari satu, agar kelak tak sendirian seperti dirinya.

__ADS_1


 


__ADS_2