
Loveta dan Liam menunggu dengan cemas. Mereka benar-benar penasaran sekali dengan hasilnya dari pemeriksaan urine. Berharap yang terbaik.
Dokter kembali datang ke bilik di mana Loveta berada. Dia membawa selembar hasil pemeriksaan.
“Selamat, Bu Dannesia Loveta, Anda hamil.” Dokter membacakan hasil pemeriksaan.
Loveta dan Liam begitu terkejut sekali. Mereka tidak percaya jika akhirnya Loveta hamil juga. Ternyata pusing, mual, dan lemas diakibatkan karena awal kehamilan.
“Sayang.” Liam menatap sang istri.
Loveta berkaca-kaca. Perlahan bulir air mata menetes. Tak kuasa menahan kebahagiaan. Akhirnya anak yang ditunggu-tunggu hadir jua di rahimnya.
“Kamu hamil, Sayang.” Liam mendaratkan kecupan di punggung tangan sang istri.
Loveta hanya bisa menangis sambil melihat ke arah perutnya.
“Bapak dan Ibu bisa melakukan pemeriksaan lanjutan. Apa mau melakukan pemeriksaan di rumah sakit di sini?” tanya dokter.
Loveta mengingat jika keluarganya selalu ke Maxton Hospital. Jadi dia akan ke sana sana.
Loveta menghentikan tangisnya. Harus menjawab pertanyaan dokter lebih dulu. “Maaf, Dok. Kami akan ke rumah sakit keluarga saja.”
“Baiklah, jika ibu sudah lebih kuat, kami akan izinkan Ibu untuk pulang.” Dokter memberitahu Loveta.
“Baik, Dok.” Loveta mengangguk
Dokter akhirnya memilih untuk pergi. Meninggalkan Loveta dan Liam. Menyiapkan surat kepulangan pasien dan menyiapkan administrasi.
“Kenapa tidak di sini saja, Sayang?” tanya Liam setelah dokter.
“Mami dan papi biasanya di Maxton Hospital. Jadi aku mau ke sana.” Loveta mencoba menjelaskan pada sang suaminya.
Liam mengangguk. Dia pasrah saja. Di mana pun yang penting sang istri nyaman.
__ADS_1
Liam terus mendaratkan kecupan di punggung tangan sang istri. Dia bahagia sekali sang istri akhirnya hamil. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan mereka saat ini.
Setelah Liam menyelesaikan administrasi, akhirnya Liam membawa Loveta untuk pulang. Mereka langsung pergi ke Maxton Hospital.
Saat perjalanan ke rumah sakit, ponsel Liam berdering. Liam segera melihat ponselnya. Mencari tahu siapa yang menghubunginya.
“Mama.” Liam memberitahu pada istrinya seraya menunjukkan.
Loveta tahu jika pasti mamanya tahu dari karyawan. “Angkat saja,” pintanya.
Liam segera mengangkat dari sambungan telepon. “Halo, Ma.”
“Liam, katanya Lolo pingsan di tokomu, sekarang di mana Lolo?” tanya Mama Arriel tanpa basa-basi.
“Kami sedangkan ke Maxton Hospital, Ma.”
“Baiklah.” Mama Arriel langsung mematikan sambungan telepon.
“Dimatikan.” Liam memberitahu istrinya.
“Biarkan saja.” Loveta membiarkan akan hal itu.
Liam segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantung celananya.
Letak Maxton Hospital lebih dekat jika dari rumah Mami Neta dan Papi Dathan. Jika dari apartemen atau rumah sakit dekat mal, jaraknya cukup jauh. Jadi mereka cukup lama untuk mencapai rumah sakit.
Sekitar satu jam barulah mereka sampai. Liam dan Loveta turun di lobi rumah sakit. Agar tidak berjalan terlalu jauh.
Ponsel Liam kembali berdering ketika mereka sedang berjalan. Saat melihat ponselnya, kali ini telepon berasal dari Mami Neta.
“Mami.” Liam kembali memperlihatkan.
“Angkat saja.” Loveta memberikan perintah.
__ADS_1
Liam segera mengangkat sambungan telepon. “Halo, Mi.”
“Kamu di Maxton Hospital sebelah mana. Di UGD tidak ada?” tanya Mami Neta.
Mami Neta tadi dikabari oleh Mama Arriel karena itu dia langsung menuju ke sana. Apalagi rumahnya jauh lebih dekat. Jadi sampai lebih cepat. Saat sampai Mami Neta dan Papi Dathan langsung ke UGD. Sayangnya tidak menemukan anaknya di sana.
“Kami baru sampai dan sekarang di lobi.” Liam memberitahu
Mami Neta langsung mematikan sambungan telepon.
Liam heran sekali. Dua mertuanya itu sama saja. Suka mematikan sambungan telepon begitu saja tampa mendengarkan penjelasannya.
“Mama ada di UGD sepertinya.” Liam memberitahu sang istri.
“Biarkan, nanti pasti mereka ke sini.” Loveta tahu mami dan papinya selalu gerak cepat. Apalagi tahu dirinya pingsan.
“Baiklah, tunggu di sini dulu.” Liam meminta Loveta. Dia akan mendaftarkan sang istri lebih dulu. Saat di pendaftaran Liam memilih dr. Lyra. Dari penjelasan dari karyawan di bagian pendaftaran dia adalah dokter senior. Dari penjelasan itulah akhirnya Liam memilih dr. Lyra.
“Ayo, Sayang.” Liam mengajak Loveta untuk ke ruang pemeriksaan setelah mendaftarkan diri.
Lovea mengangguk. Kemudian berdiri. Namun, baru saja hendak berjalan, tiba-tiba Papi Dathan dan Mami Neta datang.
“Cinta, kamu tidak apa-apa?” tanya Mami Neta.
“Aku baik, Ma. Ini kami akan melakukan pemeriksaan.” Loveta mencoba menjelaskan.
“Baiklah, ayo.” Mami Neta tidak banyak bertanya karena itu dapat menghambat. Dia langsung ikut memegangi tangan Loveta membawa ke ruang pemeriksaan.
Papi Dathan juga ikut. Mereka bersama-sama pergi ke ruang pemeriksaan.
“Kenapa ke dokter kandungan?” Pertanyaan itu langsung meluncur dari mulut Papi Dathan ketika melihat langkah mereka ke bagian dokter kandungan.
__ADS_1