Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 60


__ADS_3

Seminggu sudah pertunangan Leo dan Loveta dilaksanakan. Tidak ada hal menarik yang terjadi. Hubungan Leo dan Loveta berjalan apa adanya. Belum ada persiapan pernikahan sama sekali mengingat pernikahan masih akan diadakan tiga bulan dari bulan ini.


“Hari ini Liam akan ke panti asuhan. Jadi aku akan membantunya.” Di saat sarapan Mami Neta memberitahu suaminya.


“Bantulah.” Papi Dathan mengangguk.


“Aku ikut, Mi.” Nessia begitu bersemangat sekali. Tak sabar ke panti asuhan. Sejak sering ikut maminya ke panti asuhan, Nessia jadi suka sekali dengan panti asuhan. Terutama anak-anak. “Kamu ikut juga.” Nessia menyenggol Danish.


“Aku akan ikut juga, Mi.” Danish ikut juga karena Nessia. Lagi pula dia sudah janji pada Liam akan ikut membantu membagikan hadiah untuk anak-anak panti.


Mendengar keluarganya akan ke panti asuhan membuat Loveta terdiam. Sudah sejak pertunangannya itu dia tidak berkomunikasi dengan Liam. Pria itu juga seolah menghilang dari kehidupannya.


“Cinta, kamu ikut ‘kan?” tanya Mami Neta.


Mendapati pertanyaan itu membuat Loveta langsung tersadar dari pikirannya itu. Beralih menatap sang mami.


“Ikut saja, Kak. Pasti akan seru jika Kak Cinta ikut.” Nessia ikut membujuk sang kakak.


“Aku akan ikut.” Loveta mengangguk. Dia memilih untuk ikut saja. Lagi pula dia ingin bertemu Liam setelah sekian lama.


“Baiklah, kita bawa satu mobil saja. Mobil Cinta.” Mami Neta memberikan ide.

__ADS_1


Akhirnya setelah sarapan selesai, mereka semua pergi ke panti asuhan. Loveta yang menyetir mobil menuju ke panti asuhan.


Sampai di panti asuhan ternyata Liam sudah sampai di sana. Loveta begitu berdebar-debar ketika melihat Liam. Entah perasaan apa dia sendiri bingung.


“Hai, Kak Liam.” Nessia menyapa Liam.


“Hai, Nessia.” Liam tersenyum pada Nessia. Kemudian beralih pada Loveta. “Hai, Cinta.” Dia menyapa Loveta. Sudah cukup lama dia tidak bertemu Loveta. Terakhir kali adalah saat pertunangan dengan Leo.


“Mana Kak hadiahnya?” Nessia langsung bersemangat.


Liam langsung mengalihkan pandangan pada  Nessia.


“Ayo, kita ambil.” Liam segera menuju ke mobilnya. Kemudian membuka bagasi belakang.


Loveta yang melihat hal itu segera ikut mengambil hadiah itu. Tepat saat meraih beberapa tas, tanpa sengaja Liam juga mengambil tas yang sama. Membuat mereka sama-sama memegang tas yang sama. Keduanya saling pandang ketika tangan saling menyentuh.


Hati Loveta begitu berdebar. Dia sadar jika perasaan ini semakin tidak menentu. Dia yakin jika ternyata dia benar-benar sudah jatuh hati pada Liam.


Hal yang sama juga terjadi pada Liam. Sekali pun berusaha merelakan, tetapi hatinya tidak bisa dipungkiri. Dia masih sangat mencintai Loveta 


Beberapa saat kemudian Loveta tersadar. Karena itu dia langsung menarik tangannya.

__ADS_1


“Maaf, Kak.” Loveta segera mengambil tas yang lain dan segera pergi.


Liam hanya terdiam di tempatnya. Rasanya dia berharap waktu dapat diputar dan bisa mengungkapkan cinta sebelum Loveta bertunangan. Namun, sepertinya memang itu tidak akan terjadi.


Liam segera melanjutkan membawa hadiah ke dalam panti. Semua bahu membahu membawa hadiah tersebut. Dibantu Loveta, Nessia, Danish, dan Mami Neta, Liam membagikan hadiah itu. Semua anak begitu bahagia. Sesederhana itu anak-anak bahagia.


Akhirnya semua selesai juga. Tak hanya membawa hadiah, ternyata Liam memesan makanan yang langsung dikirim ke panti asuhan. Jadi anak-anak panti bisa makan bersama juga.


“Jika semua anak muda seperti kalian mau membantu dan berbagi anak panti. Pastinya akan ada banyak anak-anak yang bahagia.” Mami Neta begitu senang.


“Nessia mau selalu ada untuk mereka, Mi. Mau selalu berbagi. Nanti kalau Nessia lulus sekolah, Nessia mau membantu di panti juga.” Nessia begitu bersemangat.


“Kuliah juga perlu. Jika kamu tidak kuliah dengan benar. Bagaimana bisa mengajari mereka.” Danish mencela ucapan kembarannya itu.


“Iya, aku akan kuliah dengan benar.” Nessia bersemangat menjawab.


Mami Neta ikut senang anak-anaknya peduli dengan anak-anak panti.


Loveta dan Liam memilih diam. Sesekali mencuri pandang. Mereka berdua memang sedang berada dalam pikiran masing-masing. Apa lagi tadi mereka sempat bersentuhan. Membuat jantung mereka berdebar-debar.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2