Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 168


__ADS_3

Mami Neta datang ke apartemen pagi ini. Padahal kemarin, Loveta sudah mengatakan jika dia akan pergi bekerja. Namun, tiba-tiba anaknya itu tidak bekerja lagi.


“Kenapa kamu tidak bekerja?” tanya Mami Neta ketika baru saja datang


“Liam melarang aku, Mi.” Loveta mencoba menjelaskan pada maminya. Liam sedang mandi. Jadi dia bisa mengeluhkan hal itu pada maminya.


Dahi Mami Neta berkerut dalam. Merasa heran kenapa menantunya melarang. Padahal kemarin tampak menantunya sudah mengizinkan sang anak untuk bekerja.


“Memang kenapa Liam melarangmu?” Mama Neta begitu penasaran sekali.


“Kemarin, aku flek, Mi.” Loveta mencoba menjelaskan pada sang mami.


“Apa? Kamu flek? Kapan? Lalu bagaimana keadaan anakmu?” Mami Neta melempar pertanyaan bertubi-tubi. Benar-benar merasa khawatir pada cucunya.


“Semua baik, Mi. Kata dokter hanya embrio yang menempel saja. Jadi terjadi flek. Dokter bilang jika darah yang keluar banyak, diminta untuk ke rumah sakit. Tapi, tidak ada darah lagi yang keluar. Jadi aku rasa memang baik-baik saja, Mi.” Loveta sudah mengecek keadaannya, dan memang tidak mendapati darah yang keluar lagi. Mungkin flek yang terjadi seperti yang dijelaskan oleh dokter.


Mami Neta bernapas lega. Ternyata cucunya tidak kenapa-kenapa. Jika begini, jelas dia tenang sekali.


“Tapi, Liam tidak mengizinkan aku pergi ke toko.” Loveta sedikit merengek pada sang mami. Barang kali maminya akan membelanya.


“Bagus yang dilakukan Liam. Memang kamu tidak perlu ke toko. Istirahat saja.” Mami Neta setuju dengan yang dilakukan oleh menantunya.


Loveta pikir maminya akan berpihak padanya. Namun, ternyata tidak. Jika seperti ini, jelas dia akan tetap tinggal di apartemen. Menikmati waktu untuk beristirahat.


 


...****************...

__ADS_1


 


Suara ketukan pintu terdengar. Liam baru saja hendak pulang, tetapi tiba-tiba ada yang datang. Dia segera mempersilakan orang yang berada di balik pintu untuk masuk.


“Permisi, Pak.” Asisten Liam membuka pintu.


“Masuklah.” Liam berdiri seraya meraih tasnya. Bersiap untuk sekalian pulang. “Ada apa?” tanyanya.


“Tadi saya sudah ke Fresh-Fresh Market. Mereka bilang jika Nona Lavelle ke luar negeri.” Asisten menjelaskan hasil pencarian yang dilakukannya.


Dahi Liam berkerut dalam. Dia cukup terkejut dengan apa yang didengarnya itu. “Ke luar negeri untuk kunjungan kerja?” tanya Liam memastikan.


“Sepertinya tidak, Pak. Karena saat saya tanya kapan kembalinya Nona Lavelle, mereka tidak bisa memberikan jawaban pasti.”


Liam terkesiap. Memikirkan untuk apa Lavalle sampai ke luar negeri.  Namun, dia tidak mendapatkan alasan tepat mengapa Lavelle pergi ke luar negeri.


“Baiklah, kamu bisa pulang.” Liam sudah mendapatkan informasi. Jadi kini dia tinggal memberitahu istrinya. Entah apa reaksi sang istri mendengar hal itu.


Liam udah membawa tasnya bersiap untuk pulang. Jadi dia melanjutkan niatnya itu. Keluar dari ruangannya. Untuk segera pulang.


 


...****************...


“Jaga diri baik-baik.” Mami Neta memberitahu anaknya. Dia sedikit khawatir dengan anaknya. Apalagi baru saja anaknya mengalami flek. Mami Neta pulang setelah Liam pulang. Dia dijemput oleh Danish karena sang suami tadi ada rapat di kantor.


“Iya, Mi.” Loveta mengangguk.

__ADS_1


“Da … Kak Cinta. Da … Kak Liam.” Danish melambaikan tangan pada kakak dan kakak iparnya.


Liam dan Loveta melambaikan tangan. Melepas kepulangan Mami Neta dan Danish. Saat Mami Neta dan Danish sudah masuk ke dalam lift, Liam dan Loveta segera masuk ke apartemen.


Liam berjalan sambil melepaskan dasi yang melingkar di kerah kemejanya. Hari ini pekerjaanya cukup banyak. Apalagi produk baru, terjual cukup banyak. Liam duduk di sofa sambil mengistirahatkan tubuhnya.


Loveta mengambilkan minum untuk sang suami. Kemudian kembali dengan segelas air dingin untuk sang suami.


“Ini,” ucap Loveta seraya memberikan segelas air putih dingin untuk Liam.


“Terima kasih, Sayang.” Liam menerima gelas yang diberikan sang istri. Meminumnya dengan segera. Melegakan tenggorokannya.


Segelas air putih habis dalam sekali tengak. Hal itu membuat Liam merasa lega. Rasa hausnya sirna begitu saja.


“Aku sudah dapat informasi tentang Lavelle.” Sambil meletakkan gelas yang berada di tangannya, Liam memberitahu.


Loveta berbinar. Akhirnya sang suami mendapatkan informasi itu. “Bagaimana? Apa keadaanya baik-baik saja?” tanyanya.


Liam melihat jika sang istri tampak berbinar. Seolah menunggu informasi itu. “Dia ke luar negeri.” Akhirnya Liam memberitahu sang istri.


Loveta mencoba mencerna ucapan Liam. “Dia sedang ada tugas ke luar negeri?” tanyanya memastikan.


“Sepertinya tidak.” Liam menggeleng. “Asistenku bilang, orang kantornya tidak bisa memberikan kepastian kapan Lavelle pulang. Artinya Lavelle tidak akan pulang.” Dia menjelaskan informasi yang didapatkannya.


Loveta cukup terkejut, karena ternyata Lavelle memilih ke luar negeri. “Apa mungkin karena tidak menemukan Leo, dia memilih untuk ke luar negeri. Menyembunyikan kehamilannya? Atau orang tuanya tidak mengizinkan?” Dia berusaha menebak.


Liam berpikir keras. Apa yang dikatakan sang istri ada benarnya. Mungkin alasan itu digunakan Lavelle untuk keluar negeri.

__ADS_1


“Mungkin saja salah satu alasan yang kamu berikan, salah satunya.” Liam merasa bisa saja salah satu alasan yang diberikan sang istri adalah benar adanya.


Loveta tidak bisa berbuat apa-apa. Berharap Lavelle bisa merawat anaknya dengan baik, meskipun ada suami di sisinya. Loveta yakin itu akan sangat berat. Berharap Lavelle kuat menghadapi semuanya.


__ADS_2