Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 86


__ADS_3

“Ini sepatunya.” Liam menujukan sepatu yang sudah dibuatnya itu pada Loveta.


“Aku akan coba.” Loveta begitu bersemangat sekali mencoba sepatu tersebut.


Saat dicoba, ternyata sepatu itu pas sekali di kakinya.


“Astaga, nyaman sekali. Ini jika aku memakainya seharian, aku rasa tidak akan sakit.” Loveta begitu girang mencoba sepatu buatan Liam. Dia berjalan bak foto model ketika memakainya. “Belum dihias saja sudah secantik ini. Bagaimana jika dihias?” Loveta mengangkat kakinya. Melihat sepatu buatan Liam.


“Pastinya akan semakin cantik.” Liam tersenyum melihat Loveta yang terpesona sepatu buatnya.


Loveta tersipu malu. Liam selalu saja menghujani pujian untuknya.


“Aku akan menghiasnya.” Loveta langsung melepas sepatu tersebut. Kemudian meletakkannya di atas meja.


“Sekarang gantian kamu.” Liam akhirnya menyerahkan tongkat estafet pembuatan sepatu pada Loveta.  


“Baiklah.” Loveta langsung membuka permata-permata yang dibawanya. Permata itu dipesan Liam untuknya. Dengan alat-alat yang sudah dibawanya, Loveta segera mengerjakannya. Menempelkan permata-permata di sepatu. Permata itu sangat mahal. Jadi Loveta harus berhati-hati sekali.


Liam memerhatikan Loveta. Sambil menunggu sang calon istri bekerja, dia mengirim pesan pada asistennya. Hari ini dia mengirim baju-baju untuk anak-anak panti asuhan. Rencananya di hari pernikahannya, Liam akan mengundang semua anak panti. Liam berkaca pada kakak-kakaknya yang sekarang jadi mertuanya. Dulu mereka mengundang anak-anak panti termasuk dirinya. Jadi kini giliran Liam melakukannya.


Setelah menyelesaikan urusannya, akhirnya Liam kembali pada Loveta yang sedang sibuk menghiasi sepatunya. Loveta memakai kacamata dan tampak menggemaskan sekali.


Liam yang gemas mendekat ke arah Loveta. Berada tepat di samping kepala Loveta.


“Kenapa kamu cantik sekali saat sedang fokus?” Liam merasa gemas sekali.


Loveta langsung menghentikan gerakannya. “Jangan membuat aku tidak fokus.” Dia merengek karena kesal sekali Liam menggodanya.


Liam yang gemas mendaratkan kecupan di pipi Loveta. Dia terlalu gemas dengan Loveta. “Baiklah, aku tidak akan mengganggu.” Liam langsung menjauh dari Loveta. Dia tahu seperti itu butuh konsentrasi.


Sambil menunggu Loveta, Liam memilih untuk mengerjakan pekerjaannya. Namun, saat pekerjaannya sudah selesai, Loveta belum selesai juga. Akhirnya, Liam memilih untuk tidur.


Loveta terus mengerjakan sepatunya itu. Butuh ketelitian dan konsentrasi penuh. Sekitar empat jam Loveta mengerjakan itu. Pinggangnya sampai benar-benar pegal sekali. Namun, akhirnya setelah perjuangan panjang, sepatu itu selesai.

__ADS_1


“Selesai.” Loveta bersorak sambil menoleh ke arah belakang. Namun, seketika dia membungkam mulutnya karena ternyata Liam sedang tertidur pulas. Tentu saja dia tidak mau mengganggu Liam.


Loveta memutar tubuhnya. Dia melihat Liam begitu pulas tidur. Jika dilihat dari dekat, Liam benar-benar tampan. Loveta suka sekali jambang halus yang menghiasi rahang Liam. Tampak menggoda.


Rasa penasaran dengan rahang menggoda Liam, Loveta membelai lembut rahang itu.


Apa yang dilakukan Loveta itu membuat Liam menggerakkan kepalanya. Seolah sedang menghindar sesuatu. Mungkin yang dipikir Liam adalah nyamuk yang hinggap di rahangnya.


Loveta semakin gemas ketika Liam merasa terganggu. Apalagi saat berusa mengusir nyamuk di rahangnya, dia menggelengkan kepalanya. Dahinya pun berkerut dalam.


Loveta membelai lembut rahang Liam lagi, dan lagi Liam merasa tidak nyaman.


Akhirnya Liam memutar tubuhnya. Karena tidak mau diganggu lagi. Sayangnya, Loveta terlalu gemas. Dia pun berdiri. Kemudian membungkuk agar dapat meraih wajah Liam.


Tanpa Loveta sadari, ternyata Liam sudah bangun. Dalam sekali gerakan Liam langsung menarik Loveta. Membuat Loveta jatuh ke sofa dan terimpit tubuh Liam.


“Sedang apa kamu?” tanya Liam mengintimidasi.


“Jadi yang aku pikir nyamuk tadi kamu.” Liam tidak menyangka jika Loveta menggodanya.


Loveta langsung tertawa.


Liam yang gemas menggelitik calon istrinya itu. Membuat Loveta semakin tertawa terbahak-bahak.


“Ampun, Kak.” Loveta meminta Liam untuk berhenti.


Sayangnya, Liam tidak mau berhenti.


“Kak.” Loveta tertawa. Namun, berusaha menggelitik.


Melihat Loveta yang tidak kuat, Liam langsung menghentikan aksinya.


Napas Loveta sampai terengah ketika berhenti tertawa. Dia menatap kesal pada Liam.

__ADS_1


Liam meraih tangan Loveta. Mengarahkan tangannya ke rahangnya. Membuat Loveta merasakan bulu halus di tangannya.


“Geli.” Loveta tertawa.


“Itu baru di tangan.” Liam menyeringai.


Pipi Loveta langsung merona ketika Liam mengatakan itu. Dia cukup dewasa untuk mengerti ke mana arah pembicaraan Liam.


“Sepatunya sudah jadi. Kak Liam mau lihat?” Loveta segera bangkit. Dia mencoba menghindari pembicaraan itu.


Liam hanya tersenyum. Baru membahasnya saja Loveta sudah malu. Apa lagi melakukannya. Jelas bisa dibayangkan akan seperti apa.


Liam ikut bangun. Dia tidak melanjutkan pembahasan tadi. Memilih untuk membiarkan Loveta agar nyaman. Liam memilih meliat sepatu yang dibuat Loveta.


“Cantik sekali.” Liam langsung terpukau melihat sepatu yang dibuat Loveta. Batu permata yang menghiasi sepatu tampak berkilau sekali.


“Bagus ‘kan?” tanya Loveta.


“Ini menakjubkan. Jika dijual pasti akan laku keras.” Otak bisnis Liam langsung bekerja. Dapat celah sedikit saja dia langsung terpikir bisnis.


“Kak, kenapa dijual?” Loveta kesal. Sepatu susah payah dibuatnya mau dijual.


“Maksudku bukan yang ini mau dijual, tapi model seperti ini dijual.” Liam mencoba menjelaskan.


Loveta mengerti yang dimaksud Liam. “Ini jadi kolaborasi Malya Jawerly dan Marlene shoe.” Dia langsung memikirkan ide itu.


“Wah ... kita memang sehati. Jika begini kita bisa cepat kaya.” Liam langsung tertawa. Merasa otak mereka sama isinya memikirkan bisnis.


Loveta juga langsung tertawa. Ternyata mereka tidak hanya sehati masalah cinta, tetapi bisnis.


 


 

__ADS_1


__ADS_2