Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 122


__ADS_3

“Saya sudah menyiapkan meja untuk makan siang di restoran sekalian bertemu dengan pihak Fresh-Fresh Shop.” Asisten Liam memberitahu.


“Baiklah, kita pergi.” Liam segera berdiri untuk bersiap pergi.


Liam berjalan bersama dengan asistennya. Di tengah-tengah perjalanan suara ponsel Liam berdering. Liam segera merogoh kantungnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.


Saat melihat layar ponselnya, Liam melihat ‘my wife’ tertera di layar. Senyum Liam merekah ketika melihat jika sang istri yang menghubunginya.


“Halo, Sayang.” Liam langsung mengangkat sambungan telepon tersebut.


“Halo, Sayang. Apa kamu jadi pergi untuk bertemu klien?” tanya Loveta di seberang sana.


“Iya, jadi. Ini aku sedang akan ke sana.” Liam menjelaskan. “Dengan siapa kamu akan makan siang hari ini?” tanya Liam pada sang istri.


“Dengan mama. Aku makan di restoran dekat sini.” Loveta memang sudah berencana untuk makan bersama mamanya.


“Baiklah, sampaikan salam pada mama.”


“Aku akan sampaikan.”


Liam segera mematikan sambungan telepon. Fokus pada langkahnya ke lobi kantor. Mobilnya sudah terparkir di sana. Jadi tinggal naik saja.


Perjalanan tiga puluh menit dilalui Liam untuk mencapai restoran.


Liam datang lebih awal. Jadi dia menunggu pemilik Fresh-Fresh Shop di meja yang sudah dipesan.


Seorang wanita menghampiri Liam dan asistennya. Dia adalah anak pemilik Fresh-fresh shop.


“Permisi, dari Smith Restoran?” Wanita itu bertanya ketika menghampiri Liam.


“Iya.” Liam segera mengalihkan pandangan. Dia tidak menyangka ternyata pemilik Fresh-Fresh Shop adalah wanita.


“Saya Jason Wiliam, pemilik Smith Restoran yang sekarang menjadi Marlene restoran.” Liam mengulurkan tangan pada wanita di depannya.

__ADS_1


“Saya Lavelle Aleyah, manajer pemasaran dari Fresh-Fresh Shop.” Lavelle menerima uluran tangan dari Liam.


“Silakan duduk.” Liam mempersilakan Lavelle untuk duduk. Dari wajah yang dilihatnya, wanita di depannya itu memiliki garis keturunan asing. Liam yakin Lavelle pasti memiliki orang tua dari luar negeri.


“Terima kasih.” Lavelle segera duduk.


Sepanjang duduk dia memerhatikan Liam. Melihat Liam dengan saksama.


“Terima kasih sudah mengajak kerja sama restoran kami. Senang sekali saat mendapatkan kabar kerja sama ini. Karena restoran kami memang butuh bahan-bahan kualitas bagus.” Liam tersenyum menatap Lavelle.


Liam memang sangat senang sekali. Sebelum bertemu dengan pihak Fresh-Fresh Shop memang Liam sudah membaca profil perusahaan ini.


Fresh-Fresh Shop adalah distributor bahan impor, seperti sayur, buah, daging, dan beberapa kebutuhan memasak. Mereka mengimpor bahan makanan dan menjualnya di supermarket milik mereka. Tidak hanya itu beberapa restoran besar juga bekerja sama untuk mendapatkan bahan berkualitas tinggi. Termasuk daging.


“Senang juga bisa bekerja sama dengan Marlene restoran. Karena memang kami ingin membantu restoran-restoran mendapatkan bahan-bahan segar dan berkualitas bagus.” Lavelle tersenyum.


“Baiklah, saya akan minta asisten saya untuk menyiapkan kerja sama ini.” Liam menatap asistennya itu.


Makanan yang dipesan datang. Liam, Lavelle, dan asisten Liam menikmati makan siang bersama, sambil mengobrol.


“Biasanya dari mana saja Fresh-Fresh Shop mengimpor bahan-bahan yang dijual. ” Sambil makan, Liam bertanya.


“Dari berbagai negara. Australia, Japan, Korea, Cina, dan banyak lagi. Tergantung apa yang terbaik dari negera itu hasilkan. Kami juga memastikan barang yang dijual segar.” Lavelle menjelaskan pada Liam.


Liam mengakui jika bisnis impor bahan-bahan berkualitas itu memang menjanjikan. Tapi, masih sedikit yang mau terjun ke bisnis itu. Apalagi mereka harus punya koneksi luas di luar negeri.


“Apa Anda sudah lama di bisnis restoran?” Lavelle begitu penasaran.


“Tidak, saya baru. Sebelumnya papa yang mengurus bisnis ini.” Liam mencoba menjelaskan.


Lavelle mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengerti yang dijelaskan oleh Liam. Mereka bertiga menikmati makan bersama. Liam dan Lavelle memang yang lebih banyak bicara. Membicarakan bahan-bahan yang akan dikirim pihak perusahan Lavelle.


“Apa Pak Wiliam sudah menikah?” Di tengah-tengah makan, Lavelle kembali bertanya. Kali ini lebih pribadi.

__ADS_1


Liam sebenarnya agak canggung ketika membahas masalah pribadi. Namun, saat pertanyaannya masih bisa dijawab kenapa tidak.


“Iya, saya sudah menikah.” Liam mengangguk.


Jadi dia sudah menikah.


Lavelle tampak kecewa saat mendengar Liam sudah menikah.


“Apa Anda juga sudah menikah?” Untuk mengimbangi obrolan, tentu saja Liam balik bertanya.


“Belum, saya baru bekerja. Jadi saya ingin mengejar karier dulu.” Lavelle menggeleng seraya menjelaskan yang diinginkannya.


“Memang harus begitu. Anak muda memang harus mengejar karier. Agar punya banyak pengalaman hidup.” Liam menambahkan. Berbagi sedikit pengalaman.


“Apa istri Anda juga bekerja?” tanya Lavelle.


“Iya, kebetulan istri saya masih bekerja.” Liam mengangguk.


“Apa istrimu wanita yang –“  Lavelle langsung menghentikan pertanyaannya . Mengurungkan niatnya bertanya.


Liam merasa aneh dengan pertanyaan Lavelle. Masih belum bisa menemukan inti pertanyaan itu.


“Maksud saya, apakah istri Anda juga mengejar karier?” Lavelle membenarkan pertanyaannya


“Iya, dia ingin jadi desainer perhiasan. Jadi dia sedang mengejar karier juga.” Liam menjawab pertanyaan Lavelle.


“Sepertinya Anda tipe yang mengizinkan wanita berkarier.” Lavelle melihat bagaimana cara menjawab.


“Tentu saja. Wanita juga punya hak untuk sukses ‘kan?” Liam tersenyum.


Dia pria yang baik. Sayang sekali dia sudah menikah.   


 

__ADS_1


__ADS_2