Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 134


__ADS_3

Loveta dan Liam segera bangun untuk melihat siapa yang datang. Dari layar CCTV mereka melihat jika itu adalah Mami Neta, Nessi, dan Danish.


“Mau apa mereka?” tanya Loveta menatap Liam.


“Entah.” Liam sendiri tidak tahu apa yang membuat keluarganya datang.


Loveta segera membuka pintu. Untuk melihat untuk apa keluarganya datang.


“Kakak.” Saat membuka pintu, Nessia langsung menyambut Loveta.


Loveta melihat mami dan adik-adiknya. Tampak mereka membawa tote bag di tangan mereka. Loveta merasa heran. Untuk apa mereka membawa itu semua.


Loveta langsung menautkan pipi pada maminya. “Mami bawa apa?” tanya Loveta seraya melepaskan tautan pipi.


“Mami akan tunjukan.” Mami Neta menerobos masuk ke apartemen. Disusul adik-adik mereka.  


Loveta hanya menatap Liam bingung. Mereka langsung masuk karena penasaran apa yang dibawa oleh Mami Neta.


Mami Neta mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam tote bag.


Loveta dan Liam segera duduk di sofa. Mereka melihat apa yang dibawa Mami Neta.


“Mami buatkan dendeng daging.” Mami Neta mengeluarkan kotak yang berisi daging yang di dendeng. “Mami juga buatkan rendang.” Kembali sang mami mengeluarkan satu kotak lagi makanan untuk Loveta dan Liam. “Ini ada beberapa sambal, ada sambal terasi, sambal tomat, dan sambal hijau.” Mami Neta mengeluarkan satu per satu makanan.


Loveta dan Liam saling pandang. Ternyata Mami Neta membawakan makanan untuk mereka.

__ADS_1


“Ini juga Mami belikan abon. Kalian makan dengan nasi juga pasti bisa. Ini abon manis dan ini abon pedas.” Mami Neta memberitahu anak dan menantunya seraya mengeluarkan abon dari tote bag.


Liam dan Loveta hanya bisa menelan salivanya. Banyak sekali makanan bawaan yang harus mereka bawa.


“Mi, memang di Italia ada nasi?” tanya Nessia. Dia berpikir pasti akan sulit mendapatkan nasi karena biasanya mereka makan pasta atau roti.


“Oh ... iya.” Mami Neta mengingat jika pasti anak dan menantunya. Akan kesulitan mencari nasi. “Apa kalian bawa beras saja dari sini? Nanti kalian bisa masak di sana.” Mami Neta memberikan ide.


Lovet dan Liam membulatkan matanya. Mereka terkejut dengan ide konyol dari Mami Neta.


“Mi, di sana ada toko Asia. Jadi aku bisa mendapatkan beras pasti di sana.” Liam mencoba menjelaskan pada sang mami. Tidak mau jika sampai mertuanya itu membawakan beras juga.


Loveta menatap sang suami. Dengan segera dia ikut membantu sang suami. “Benar, Mi, tidak perlu bawa beras. Kami bisa membelinya.”


“Memang di sana hanya ada pasta saja, Kak?” Danish penasaran sekali. Dia menatap Liam. Ingin tahu.


“Makanan pokok di sana roti dan pasta.” Liam membenarkan ucapan sang adik.


“Berarti benar Mami membawakan kalian makanan seperti ini. Karena Cinta selalu makan nasi jadi pasti akan sulit mencari lauknya. Apalagi mencari sambal.” Mami Neta tersenyum puas karena bisa menyiapkan beberapa makanan untuk anaknya.


Loveta terharu sekali. Karena maminya menyiapkan semua untuknya. Sampai membuatkan sambal.


“Terima kasih, Mi.” Loveta berkaca-kaca. Merasa jika Mami Neta begitu menyayanginya. Meskipun dia bukan anak kandungnya. Mami Neta juga tidak pernah membedakan antara dirinya dan adik-adiknya.


“Sama-sama.” Mami Neta tersenyum. “Kamu harus rutin makan. Jangan sampai telat makan.” Mami Neta kembali mengingatkan.

__ADS_1


“Iya, Mi. Pasti.” Loveta mengangguk.


“Baiklah, kalian harus istirahat. Jadi Mami dan adik-adikmu akan pulang. Kita bertemu di bandara.” Mami Neta segera berdiri berpamitan dengan anak dan menantunya.


Nessia dan Danish melambaikan tangannya pada kakak-kakak mereka.


Sepulangnya Mami Neta dan adik-adiknya, Loveta melihat makanan yang dibawakan oleh maminya.


“Aku kadang lupa jika Mami Neta hanya mami sambung. Karena Mami Neta benar-benar tulus mencintai aku.” Loveta mengulas senyum.


“Mami Neta itu adalah orang yang baik yang aku pernah kenal.” Liam merengkuh pinggang sang istri. Ikut melihat makanan yang dibawakan Mami Neta.


“Mami Neta adalah ibu yang baik. Aku ingin kelak menjadi seperti mami.” Loveta menatap Liam.


“Tentu saja. Kita pasti akan menjadi orang tua yang baik.” Liam mengangguk. Dia mendaratkan kecupan di dahi sang istri.


Loveta memeluk sang suami dari samping. Berharap apa yang dikatakan Liam akan menjadi kenyataan. Kelak mereka akan menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak mereka.


“Ayo, kita kemasi makanan ini. Masukkan ke koper agar bisa dibawa. Setelah itu kita istirahat.” Liam mengajak sang istri untuk menyelesaikan semuanya.


Loveta mengangguk. Mereka harus segera menyelesaikan mengemas semua agar punya waktu istirahat.


 


 

__ADS_1


__ADS_2