Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 126


__ADS_3

“Pak Liam sudah kenal dengan Nona Lavelle sebelumnya?” bisik asisten Liam.


“Tidak.” Liam menggeleng.


“Lalu bagaimana bisa Anda tidur dengannya?” Asisten Liam juga turut penasaran


 “Mana aku tahu.” Liam sendiri tidak tahu.


Liam sendiri memang tidak tahu bagaimana bisa Lavelle menuduhnya seperti itu. Jelas ini adalah hal yang sangat-sangat di luar dugaannya.


“Apa maksud Anda Nona Lavelle? Bagaimana bisa saya tidur dengan Anda, sedangkan saya saja baru beberapa kali bertemu dengan Anda.” Liam menyangkal tuduhan itu.


“Coba kamu ingat-ingat. Kita pernah bertemu di restoran. Kemudian kita ke apartemenmu, dan di sana kita melakukannya.” Lavelle mencoba menjelaskan pada Liam.


“Apartemen?” tanya Liam memastikan.


“Iya, apartemen, lalu pagi hari ada seorang gadis datang ke apartemenmu menangis.” Lavelle mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kala itu.


Saat mendengar cerita Lavelle, akhirnya Liam teringat sesuatu. Teringat bagaimana sang istri menangis karena Leo tidur dengan wanita lain.


“Sepertinya kamu salah orang.” Liam merasa jika bukan dirinya yang dimaksud Lavelle. Karena Lavelle berbicara santai, akhirnya Liam terbawa.


“Salah orang?” Sejak awal Lavelle memang merasa ada yang salah. Namun, banyaknya kesamaan membuatnya yakin jika Liam adalah pria yang tidur dengannya.


“Iya, kamu sepertinya salah orang. Yang kamu maksud mungkin adalah Leo-adik tiriku.” Liam mencoba menebak siapa pria yang dimaksud Liam.

__ADS_1


“Leo?” Lavelle begitu terkejut. Sudah dengan percaya dirinya menebak jika Liam yang tidur dengannya, tetapi ternyata dia salah.


“Aku dengar jika Leo tidur dengan wanita lain di apartemen, jadi mungkin yang tidur denganmu itu bukan aku, melainkan Leo.” Liam begitu yakin jika Lavelle adalah wanita yang tidur dengan Leo.


“Tapi, info yang aku dapat pria yang tidur denganku adalah pemilik Marlene Resto.” Lavelle masih menyangkal yang diucapkan Liam.


Liam merasa jika informasi yang didapat Lavelle hanya setengah saja. Karena itu jadi salah sasaran.


“Begini, restoran ini memang awalnya milik papaku dan mulai dikelola adik tiriku. Karena ada hal yang terjadi, akhirnya restoran ini jatuh ke tanganku.” Liam mencoba menjelaskan pada Lavelle.


“Jadi yang tidur denganku bukan kamu? Lavelle masih belum terlalu yakin.


“Iya, bukan aku. Karena aku hanya tidur dengan istriku saja. Tidak pernah dengan wanita lain.” Dengan tegas Liam memberikan pernyataan.


Lavelle masih bingung dengan situasi ini. Masih belum bisa percaya.


“Begini saja jika kamu tidak percaya. Kita bertemu dengan istriku. Karena waktu itu dia sempat melihatmu. Jadi dia bisa jelaskan jika itu bukan aku “ Liam tidak punya pilihan lain selain mempertemukan Lavelle. Agar dia lepas dari tuduhan meniduri wanita lain.


Lavelle menimbang yang diucapkan Liam. Dia harus tahu siapa yang menidurinya malam itu. Jadi dia harus bertemu dengan istri Liam.


“Baiklah, aku akan menemuinya.” Lavelle setuju dengan ajakan Liam.


“Baiklah, kita bertemu di restoran. Karena urusan kita juga sudah selesai, sebaiknya kita ke sana.” Liam tidak mau menunda pertemuan ini. Karena takut menjadi masalah besar nanti.


“Baiklah, kita ke restoran. Aku akan bawa mobil sendiri.” Lavelle tidak terbiasa untuk menyetir sendiri. Lagi pula dia baru saja menuduh Liam. Pasti tidak akan nyaman jika dia berada dalam satu mobil dengan Liam.

__ADS_1


“Baiklah.” Liam mengangguk.


Liam dan Lavelle segera pergi ke restoran milik Liam. Mereka menggunakan mobil masing-masing.


Liam duduk manis di kursi penumpang. Sambil menunggu perjalanan ke restoran, dia menghubungi sang istri.


“Halo, Sayang.” Suara Loveta di seberang sana terdengar.


“Halo, Sayang.” Liam membalas sapaan sang istri. “Sayang, bisakah kamu ke restoran sekarang. Naiklah taksi ke sana. Aku menunggu di sana.” Tanpa basa-basi Liam langsung meminta sang istri.


Apa yang diminta Liam jelas membuat Loveta bingung. “Kenapa kamu meminta bertemu tiba-tiba? Ini belum jam pulang kerja ‘kan?”


“Sayang, aku tahu ini belum jam pulang, tapi ini sangat penting sekali.” Liam merasa jika sang istri harus datang. Jika tidak, masalahnya tidak akan selesai.


“Sebenarnya ada apa?” Loveta di seberang sana jadi panik ketika sang suami memaksa bertemu.


“Aku tidak bisa jelaskan di sambungan telepon. Aku akan jelaskan nanti.” Masalah ini memang tidak pas dijelaskan tanpa bertatap muka. Karena takut ada kesalahpahaman.


“Baiklah-baiklah, aku akan ke sana.” Loveta langsung mengiyakan. Merasa jika sang suami ingin bertemu karena ada urusan penting.


“Baiklah, aku akan menunggumu.” Liam segera mematikan sambungan telepon setelah berbicara.


Liam memasukkan ponsel ke saku celananya. Dia masih tidak percaya punya masalah seperti ini. Dituduh meniduri seorang wanita. Padahal seumur hidup Liam, hanya Loveta wanita pertama yang disentuhnya.


Liam berharap setelah pertemuan Loveta dan Lavelle semua akan terurai. Tidak ada kesalahpahaman lagi.

__ADS_1


 


__ADS_2