Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 139


__ADS_3

“Kak Liam dulu sangat pendiam. Dia jarang sekali bicara dengan yang lain. Dia hanya akan banyak bicara pada orang-orang terdekatnya saja.” Evelyn menceritakan hal itu pada Loveta.


“Lalu apa dia punya pacar?” Loveta langsung menyambar ucapan Evelyn begitu penasaran sekali.


“Dia tidak dekat dengan wanita mana pun di sini. Padahal banyak yang mendekatinya.” Evelyn tertawa.


Loveta yang mendengar cerita itu merasa senang sekali karena ternyata yang diceritakan Liam sama. Liam memang bercerita jika dia tidak punya kekasih sama sekali.


“Evan bilang  waktu kuliah banyak sekali yang mendekati Kak Liam, tapi dia selalu bilang jika mencintai satu orang, yaitu Kak Loveta.” Evelyn tersenyum menggoda Loveta.


Liam benar-benar menjaga dirinya hingga tidak berpacaran dengan wanita mana pun. Liam juga setia sekali dengannya.


“Lagi pula, Tante Marlene juga tidak mengizinkan Kak Liam berpacaran. Menurut Tante Marlene, Liam tidak akan fokus pada bisnis jika berpacaran. Jadi Kak Liam hanya fokus belajar dan setelah itu fokus bisnis.” Evelyn dulu merasa kasihan sekali pada Liam. Di saat Evan sudah pacaran dengannya, kakaknya itu tidak pacaran juga.


Mendengar itu Loveta merasa iba. Ternyata Liam berada di bawah kendali ibunya. Namun, jika melihat kesuksesan Liam sekarang. Artinya didikan sang ibu berhasil.


Loveta dan Evelyn bercerita masa kecil Liam dan Evelyn. Tawa sesekali menghiasi wajah mereka ketika sedang bercerita.


“Seru sekali kalian bercerita.” Liam datang langsung mendaratkan kecupan di dahi sang istri.


“Evelyn cerita jika kalian pernah membuat kue dan membuat seisi rumah dipenuhi dengan tepung.” Loveta menceritakan apa yang membuatnya tertawa.


“Waktu itu masih ada bibi. Jadi dia dimarahi oleh bibi.” Liam menambahi.


“Iya, mama marah, karena tahu pasti bukan Kak Liam yang ajak, melainkan aku.” Evelyn tertawa.


“Memang kenyataannya kamu yang mengajak.” Liam tertawa. “Waktu kecil Evelyn tidak bisa diam sama sekali. Membuat semua seisi rumah pusing.” Liam menambahkan.


“Aku tidak bisa bayangkan anak kami akan seperti itu.” Evan menggeleng. Tak kuasa membayangkan hal-hal tersebut.


“Yang terpenting nanti anak kita akan secantik aku.” Evelyn melingkarkan tangannya di lengan suaminya.


Liam dan Loveta tersenyum melihat aksi Evelyn.


Liam beralih pada sang istri. Meraih tangannya.

__ADS_1


“Kamu beli apa saja tadi?” tanya Liam.


Loveta langsung mengalihkan pandangannya. “Itu.” Dia menunjukkan satu paper bag pada Liam.


Dahi Liam berkerut dalam. “Kamu beli itu saja?” tanya Liam memastikan.


Loveta mendekatkan bibirnya ke telinga Liam. “Harganya mahal-mahal. Aku pusing. Harga satu baju bisa untuk beli cincin berlian. Sayang sekali.” Dia menjelaskan pada Liam. Karena Loveta bekerja di toko  perhiasan, jadi dia membandingkan pakaian dengan perhiasan. Menurutnya, meskipun dipakai, perhiasan masih ada nilainya. Berbeda dengan baju.


Liam sudah menduga jika istrinya akan berpikir seperti itu. Karena itu dia memilih untuk tidak berkomentar.  


“Ayo, pesan makanan.” Evely mengajak Liam dan Loveta memesan makanan.


Liam dan Loveta mengangguk. Kemudian memesan makanan. Menikmati makanan bersama.


Sepanjang makan mereka saling bercerita. Menceritakan bagaimana masa remaja Liam.


Puas menikmati makan bersama, mereka memilih untuk segera kembali pulang. Barang belanja milik Evelyn cukup banyak. Jadi mereka harus segera pulang. Lagi pula mereka sudah membuat rencana untuk makan malam bersama di luar.


Sesampainya di rumah, Loveta membawa belanjaannya masuk. Evelyn membawa belanjaannya dibantu oleh Evan. Karena memang belanjaan Evelyn cukup banyak.


“Ini, Kak.” Tiba-tiba saat di dalam rumah, Evelyn memberikan paper bag yang dia bawa. Ada sekitar lima paper bag yang dia berikan.


“Kenapa diberikan padaku?” tanya Loveta bingung.


“Karena ini punya Kak Loveta.”


Dahi Loveta berkerut dalam. Dia merasa bingung. Seingatnya, tadi barang-barang itu dibeli oleh Evelyn.


“Kak Liam yang meminta aku membelanjakan ini.” Evelyn menjelaskan ketika melihat wajah bingung Loveta.


Loveta langsung mengalihkan pandangan pada Liam.


Liam hanya tersenyum saja. Dia tadi memang sengaja meminta Evelyn membelikan beberapa baju. Karena dia yakin jika istrinya tidak akan beli banyak baju. Dan, dugaannya benar. Sang istri hanya membawa satu paper bag.


Dengan segera Liam meraih paper bag yang diberikan Evelyn.

__ADS_1


“Terima kasih, tagihannya bisa dikirimkan padaku.” Liam tersenyum pada Evelyn.


Loveta menatap Liam dengan tatapan tajam. Ternyata tanpa sepengetahuannya Liam membeli barang-barang itu.


“Sepertinya kami masuk kamar dulu.” Evelyn melihat Loveta yang tampak kesal dengan Liam. Karena itu dia memilih pergi. “Ayo, Sayang.” Evelyn menarik tangan Evan.


Evan pasrah saja. Mengikuti ke mana istrinya membawa.


Kini tinggal Liam dan Loveta saja. Loveta masih menatap kesal pada Liam. Dia kesal karena Liam beli tanpa memberitahu. Lagi pula, di saat dia berhemat suaminya justru menghabiskan banyak uang.


Loveta memilih segera ke kamarnya. Tak mau melihat wajah Liam.


Liam yang melihat hal itu langsung mengejar sang istri.


“Sayang,” panggil Liam saat masuk ke kamar.


Loveta langsung berbalik pada Liam. “Kenapa meminta Evelyn membelikan aku baju?” tanyanya ketika baru saja masuk kamar.


Liam tersenyum. “Karena aku tahu kamu tidak akan beli banyak.”


Loveta menghembuskan napasnya kesal. “Kalau sudah tahu jika aku tidak akan beli banyak, kenapa kamu beli. Sayang bukan jika uang dibuang sia-sia.” Loveta merasa suaminya terlalu menghamburkan uang.


“Bagaimana bisa sia-sia?” tanya Liam menghampiri sang istri.


“Kamu sudah susah payah bekerja keras, lalu membelikan aku barang-barang mewah. Bukankah itu sesuatu yang sia-sia?” Loveta sudah dengar dari Evelyn bagaimana Liam berjuang. Jadi dia tidak tega sama sekali.


Liam tersenyum. Menatap sang isti lekat. “Tidak ada yang sia-sia untuk membahagiakan istri. Aku bekerja keras untuk bisa membahagiakanmu. Jadi terimalah usahaku untuk membahagiakanmu. Jangan sia-siakan itu.”


Hati mana yang tidak luluh ketika seseorang begitu mencintainya.  Loveta tidak bisa marah sama sekali. Apalagi mendengar ucapan suaminya.


“Kamu tidak mau memelukku?” tanya Liam. Dia melihat jika sang istri sudah luluh. Dia merenggangkan tangannya agar memberikan ruang istrinya memeluk “Lihatlah, tanganku penuh. Jadi aku tidak bisa memelukmu.” Liam menunjukkan paper bag yang ada di tangannya. Dua tangannya penuh. Jadi kesulitan untuk memeluk.


Mendapati permintaan itu, Loveta langsung memeluk Liam. Dia merasa benar-benar dicintai oleh suaminya. Jadi tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakannya.


“Terima kasih.” Loveta mengeratkan pelukannya. Mendapatkan Liam adalah sebuah anugerah bagi Loveta.

__ADS_1


“Sama-sama.” Liam mendaratkan kecupan di dahi sang istri. Ungkapan rasa cinta.


 


__ADS_2