
“Perut aku tiba-tiba mulas.” Loveta merasakan perutnya yang tidak nyaman.
“Apa kamu akan melahirkan?” tanya Liam.
“Aku belum yakin, kita tanya mami dulu saja.” Loveta belum yakin dengan hal itu.
“Kalau begitu ayo kita tanya.” Liam bergegas berdiri.
Loveta dan Liam keluar untuk mencari Mami Neta. Menanyakan apakah benar mulas yang dirasakan Loveta tanda-tanda kehamilan.
“Mi ….” Liam memanggil mertuanya itu.
Mami Neta yang berada di dapur, langsung bergegas untuk menghampiri. Papi Dathan yang berada di taman belakang pun segera masuk. Ingin tahu kenapa menantunya memanggil istrinya. Danish dan Nessia yang sedang di depan main basket pun langsung bergegas ikut menghampiri. Memeriksa apa yang terjadi pada kakaknya.
“Ada apa?” tanya Mami Neta.
“Loveta mulai merasa mulas, Mi.” Liam menjelaskan pada mertuanya itu.
Mendengar hal itu Mami Neta langsung beralih pada anaknya. “Apa mulasnya sudah terasa sekali? Sudah terasa berapa kali?” Mami Neta memastikan lebih dulu.
“Baru sekali terasa, Mi. Belum terasa lagi.” Loveta memegangi perutnya.
Mami Neta mengerti yang dijelaskan sang anak. “Itu baru kontraksi awal. Jarak kontraksi awal bisa jauh. Jadi kita tunggu saja.” Dia mencoba menjelaskan pada anaknya. “Kita tunggu saja sampai kontraksinya semakin intens. Jika sudah intens baru kita ke rumah sakit.”
Mendengar itu Liam dan Loveta memilih menunggu. Liam segera membawa Loveta duduk di sofa. Meminta sang istri untuk beristirahat.
“Apa tidak kita bawa ke rumah sakit saja?” Papi Dathan menatap sang istri. Dia sedikit panik. Setelah sekian puluh tahun, akhirnya dia merasakan juga berdebar-debar menunggu kehamilan.
Mami Neta tersenyum ketika sang suami juga ikut panik. “Tenanglah, jangan membuat Liam ikut panik. Kontraksi baru awal. Jaraknya akan lama nanti.” Dia mencoba menenangkan sang suami.
Papi Dathan berusaha untuk tetap tenang. Tidak mau membuat menantunya ikut panik.
“Aku akan kabari Arriel.” Mami Neta bergegas mengambil ponselnya. Memberitahu jika Loveta kini sudah mengalami kontraksi. Bersiap untuk melahirkan.
...****************...
Keluarga lengkap berada di rumah Loveta dan Liam. Mama Arriel datang tepat setelah makan siang. Mereka menunggu Loveta yang sudah mulai kontraksi. Sayangnya, kontraksi yang terjadi pada Loveta tidak terjadi peningkatan sama sekali.
“Apa seperti ini, Ma? Aku merasa kontraksinya tidak terlalu intens.” Loveta menatap Mama Arriel.
“Mama tidak mengalami kontraksi karena melahirkan melalui operasi. Mamimu yang justru melahirkan normal.” Mama Arriel melempar pada Mami Neta.
__ADS_1
“Memang begitu. Kontraksi awal kadang bisa berjarak lama. Intensitas setiap ibu hamil yang mengalami kontraksi juga berbeda-beda. Jadi sabarlah. Nanti, pasti akan bertambah.” Mami Neta menenangkan sang anak.
Loveta berusaha untuk tetap tenang. Tak mau panik.
“Sebaiknya kamu gunakan untuk tetap bergerak seperti biasa. Jalan-jalan ke sekitar sini saja. Itu akan membuat proses melahirkan akan lebih mudah.” Mami Neta kembali menyarankan anaknya. Agar tidak tinggal diam saja.
Loveta mengangguk. Dia akan mencoba untuk berjalan-jalan saja di sekitar rumah. Liam segera membantu Loveta. Menemani berjalan-jalan di sekitar rumah. Mereka memilih ke taman belakang. Cuaca masih sangat panas sekali. Jadi mereka tidak bisa keluar rumah.
“Aku benar-benar berdebar-debar.” Sekuat tenaga Liam berusaha tenang, tetap saja dia tidak bisa. Dia memikirkan kapan kontraksi Loveta akan lebih intens lagi.
“Aku juga sama, Kak. Aku benar-benar takut. Apalagi mendengar cerita perjuangan saat melahirkan. Aku benar-benar takut sekali.” Loveta sudah mendengar banyak cerita. Perjuangan melahirkan adalah pertaruhan hidup dan mati.
“Semua akan baik-baik saja.” Saat sang istri ketakutan, justru membuat Liam tidak memperlihatkan ketakutannya juga. Karena dia tidak bisa memberikan dukungan pada sang istri jika dirinya sendiri saja takut.
Loveta mengangguk. Dia tentu akan berpikir positif.
...****************...
Kontraksi yang dirasakan Loveta muali intens. Sudah mulai satu jam sekali. Liam yang melihat hal itu merasa tidak tega sama sekali. Hingga akhirnya memutuskan membawa Loveta untuk rumah sakit. Tak mau menunggu di rumah dan berdebar-debar.
Saat sampai di rumah sakit, dokter langsung memeriksa keadaan Loveta. Ternyata Loveta masih pembukaan dua. Dokter meminta Loveta untuk pulang dulu. Sampai pembukaan empat untuk datang lagi. Namun, Liam tidak mau. Menunggu di rumah akan membuatnya lebih berdebar-debar. Jadi dia memilih untuk tetap tinggal. Tak mau pulang. Akhirnya Liam memesan satu kamar VVIP.
“Kamu juga ikut saja pulang saja.” Mama Arriel juga meminta Alca untuk pulang. Biar para orang tua yang menjaga Loveta.
“Baiklah.” Danish, Nessia, dan Alca menjawab bersamaan. Mereka akan pulang ke rumah kakak mereka untuk menunggu kabar dari orang tua mereka.
Kini di ruang perawatan tinggal Loveta, Liam, dan orang tua. Mereka menunggu Loveta yang masih merasa mulas. Walaupun masih satu jam sekali, membuatnya tetap tidak tahan.
“Pakailah jalan di sini saja.” Mami Neta memberikan saran. Berjalan-jalan katanya dapat membantu mempercepat kontraksi. Jadi dia meminta putrinya melakukannya.
“Iya, Mi.” Loveta menurut saja.
Dibantu oleh Liam, Loveta berjalan ke sekeliling kamar. Liam senantiasa menemani. Tak melepaskan pandangan sama sekali. Tak mau sampai istrinya sendiri.
“Apa sakit sekali?” Liam menatap Loveta tidak tega sama sekali.
“Iya, sakit.” Loveta merasakan sakit sekali. Namun, berusaha untuk tetap ditahan.
“Andai aku bisa menggantikanmu.” Liam hanya bisa pasrah. Karena memang tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin menggantikan pun juga tidak bisa.
“Kamu memberikan aku semangat saja aku sudah sangat senang.” Loveta tersenyum.
__ADS_1
Liam mengangguk. Tentu saja dia akan memberikan semangat untuk sang istri. Karena memang itu yang hanya bisa dilakukan saat ini.
“Biar papi yang temani Cinta.” Papi Dathan menatap menantunya. Dia ingin ikut bagian dalam proses ini. Menunggu cucu pertamanya lahir.
“Silakan.” Liam memberikan ruang pada mertuanya untuk menemani sang istri.
Papi Dathan menemani Loveta. Menemani berjalan-jalan di sekitar kamar. Kebetulan ukuran kamar cukup luas. Jadi mereka bisa leluasa berjalan-jalan.
“Papi merasa baru kemarin membawa kamu ke kantor. Menemani kamu bermain sambil bekerja. Sekarang kamu akan melahirkan. Akan menjadi seorang ibu.” Papi Dathan tersenyum ketika mengingat masa-masa itu. Di mana saat istrinya memilih untuk meninggalkan, dan membuatnya harus mengurus anak sendiri.
Loveta menatap papinya. Rasanya bangga memiliki seorang ayah yang begitu menyayanginya. Selalu ada untuknya. Sejak kecil walaupun dulu tidak ada mamanya, Loveta tidak kekurangan kasih sayang.
“Terima kasih papi selalu ada untuk aku.” Sampai sebesar ini pun papinya masih menemaninya. Tentu saja itu adalah anugerah terindah untuknya.
“Papi akan selalu menemanimu. Papi juga mau melihat cucu-cucu papi tubuh. Bermain dengan mereka.” Papi Dathan menggenggam erat tangan anaknya. “Jadi lahirkan anak-anak yang lucu untuk menemani masa tua papi.”
Mendapatkan dukungan dari papinya tentu membuatnya bersemangat. Dia akan kuat berjuang untuk melahirkan anaknya. Agar dapat memberikan kebahagiaan untuk keluarganya juga.
Mereka semua menunggu Loveta sampai jam sepuluh malam. Kontraksi Loveta belum ada perubahan. Jadi masih berusaha untuk menunggu kontraksi bertambah.
“Mama, papa, mami, papi, istirahat saja. Aku sudah pesankan kamar hotel. Aku akan menunggu Cinta. Jika ada apa-apa aku akan menghubungi.” Liam tidak tega melihat mertuanya kelelahan. Apalagi mereka bukan anak muda lagi.
“Baiklah, kami akan istirahat dulu, tapi kabari jika terjadi apa-apa.” Mami Neta menepuk bahu Liam.
Kini tinggal Liam dan Loveta yang berada di kamar. Loveta yang sudah lelah memilih untuk merebahkan tubuhnya. Liam membelai lembut punggung sang istri yang katanya sakit. Berharap dapat meredakan sakit yang dirasakan.
Liam meminta sang istri untuk tidur. Karena agar tidak lemas jika nanti menjalani proses melahirkan. Loveta pun menuruti apa yang dikatakan sang suami. Dia memilih untuk tidur agar bisa memiliki tenaga saat melahirkan. Di saat Loveta tidur, Liam terus mengusap punggung Loveta yang panas. Tak tidur demi sang istri yang sesekali terdengar merintih kesakitan.
Tepat jam tiga pagi, tiba-tiba Loveta merasakan kontraksinya semakin terasa. Liam yang baru saja tertidur, langsung terbangun ketika mendengar suara sang istri.
“Sayang, kenapa?” tanya Liam.
“Perutku sakit. Mulasnya terasa sekali.” Loveta merasa jika sakitnya tak tertahankan. Tidak hanya itu, ketuban Loveta juga sudah pecah. Membasahi baju yang dipakai Loveta.
Liam melihat tubuh Loveta juga basah. Artinya ketuban sang istri sudah pecah. “Aku akan panggil dokter.” Liam segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Dengan cepat dia juga menghubungi orang tuanya.
Perawat datang. Mengecek keadaan Loveta. Saat melihat hal itu, dia segera menghubungi dokter yang berjaga. Dokter segera mengecek keadaan Loveta. Ternyata Loveta sudah pembukaan empat dan ketubuhannya sudah pecah. Artinya, Loveta harus segera menjalani persalinan.
“Bawa pasien ke ruang persalinan. Kita lakukan persalinan.” Dokter memberikan perintah.
Perawat langsung mengerjakan apa yang diminta sang dokter. Mereka memindahkan Loveta dengan brankar. Membawa Loveta ke ruang persalinan.
Liam senantiasa menemani sang istri. Memegang erat tangan sang istri sepanjang perjalanan ke ruang persalinan. Dia hanya berharap persalinan istrinya akan berjalan dengan lancar.
__ADS_1