Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 136


__ADS_3

“Kak Liam.” Gadis itu langsung memeluk Liam.


Loveta yang melihat hal itu hanya terperangah ketika suaminya dipeluk seorang wanita. Dia masih bertanya-tanya siapa gerangan gadis yang memeluk suaminya itu.


“Apa kabarmu?” tanya Liam.


“Aku baik-baik saja.” Gadis itu menjawab pertanyaan Liam seraya melepaskan pelukannya.


Loveta masih seperti orang bodoh. Dia masih tidak tahu siapa gadis yang tiba-tiba memeluk suaminya itu


“Hai.” Gadis itu beralih pada Loveta dan menyapa.


Loveta menatap Liam. Tatapan yang mengisyaratkan pertanyaan siapa gerangan gadis itu. Karena Liam tidak pernah bercerita tentang gadis itu padanya.


“Kenalkan, dia Evelyn, sepupuku. Dia yang tinggal di sini selama aku tidak ada.” Liam memberitahu Loveta siapa gerangan gadis cantik itu.


“Hai, aku Evelyn.” Evelyn mengulurkan tangan pada Loveta.


“Loveta.” Dengan segera dia menerima uluran tangan Evelyn.


“Ternyata Kak Loveta lebih cantik dari foto yang dikirim Kak Liam.” Evelyn tampak terpukau dengan Loveta.


Loveta tersenyum. “Terima kasih.” Dia malu ketika dipuji.


“Sebaiknya, Kak Liam dan Kak Loveta beristirahat. Nanti kita akan makan malam bersama.” Evelyn melihat wajah kakak-kakaknya yang tampak lelah sekali.


“Baiklah, kami istirahat dulu.” Liam mengangguk. “Ayo, Sayang.” Liam menautkan tangan pada istrinya.

__ADS_1


Liam tersenyum pada Evelyn. Kemudian ikut sang suami untuk pergi. Liam mengajak sang istri ke lantai atas. Di mana kamarnya berada. Sepanjang jalan menuju ke kamar, Loveta masih memerhatikan detail bangunan. Desain yang cantik benar-benar membuatnya merasa senang.  


Liam membawa Loveta ke kamarnya. Pemandangan pertama yang dilihat Loveta adalah kamar mewah dengan desain klasik. Tampak mewah sekali. Kamar juga berukuran besar.


“Selamat datang.” Liam menyambut Lovata saat di kamarnya.


“Kamarmu mewah sekali.” Alih-alih menjawab sambutan suaminya, Loveta justru mengomentari kamar suaminya.


“Tapi, aku tidak suka.” Liam menekuk bibirnya.


“Kenapa?” Loveta menatap sang suami heran. Padahal kamar tampak bagus sekali. Namun, sang suami justru tidak suka.


“Aku suka desain simple. Ini semua desain kesukaan mamaku.” Liam merasa memang rumah ini tidak sesuai dengan seleranya. Namun, dia tetap mempertahankan rumah ini karena ini adalah peninggalan mamanya.    


Loveta mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun, sejenak dia mengingat tentang Evelyn.


“Kenapa kamu tida cerita tentang Evelyn padaku?” Loveta menatap Liam sedikit kesal.


“Lihatlah, aku seperti orang bodoh karena tidak kenal dia.” Loveta menekuk bibirnya. Sedikit kesal pada sang suami.


“Baiklah, maaf. Sekarang aku akan ceritakan tentang siapa dia.” Liam pun akhirnya buru-buru menceritakan tentang adik sepupunya itu.


“Bagus, kamu harus cerita. Jangan sampai aku seperti orang bodoh lagi.” Loveta menatap masih kesal suaminya.


“Jadi Evelyn adalah adik dari ibu. Ibunya meninggal saat dia berusia delapan tahun. Tepatnya setahun aku di sini. Kemudian dia tinggal bersama mama dan aku. Dia kini bekerja di kantor Marlene.” Liam menceritakan bagaimana keluarganya.


Loveta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengerti yang diceritakan Liam.

__ADS_1


“Dia baru menikah beberapa bulan lalu. Tepatnya sebulan sebelum aku ke Indonesia.” Liam kembali menceritakan.


“Jadi dia sudah menikah?” tanya Loveta terkejut. Dia pikir Evelyn masih single.


“Sudah, dengan temanku. Namanya Evan. Evan juga bekerja di Marlene. Aku mempercayakan pada mereka berdua. Karena itu aku bisa tenang di Indonesia.” Liam tentu tidak akan bisa berlama-lama tinggal bersama Loveta jika tidak ada orang yang membantunya. Pastinya dia harus bolak-balik mengurus semuanya.


Akhirnya terjawab sudah pertanyaan Loveta selama ini. Sebagai seorang pengusaha, Liam tidak sibuk kembali. Padahal mungkin banyak hal yang harus dikerjakan.


“Sepertinya semua sudah aku ceritakan. Apa ada yang ingin kamu tahu lagi?” Liam menatap sang istri lekat.


Loveta tampak berpikir. Namun, sejauh ini belum ada yang ingin dia tahu.


“Tidak ada.” Loveta menggeleng.


“Baiklah, sekarang ayo kita membersihkan diri. Kemudian beristirahat sebentar sambil menunggu makan malam.” Liam mendaratkan kecupan di dahi sang istri.


Loveta mengangguk. Tubuhnya sudah lengket dan ingin mandi.


Tepat saat mereka bersiap untuk mandi asisten rumah tangga datang membawakan koper mereka.


Loveta yang harus membuka koper dulu sebelum mandi, meminta sang suami untuk mandi lebih dulu.


Liam menurti perintah sang istri. Dia mandi lebih dulu.


Loveta mengambil bajunya untuk dipakai. Kemudian meletakkan di atas tempat tidur.


Sambil menunggu sang suami mandi, Loveta mengirim pesan pada keluarganya. Memberitahu jika dirinya sudah sampai. Dia mengirim pesan pada Mami Neta dam Mami Arriel. Di sini sekarang jam lima sore. Selisih lima jam dengan di Indonesia, di sana masih jam jam sepuluh malam.

__ADS_1


Usai mengirim pesan, Loveta meletakan ponselnya di atas nakas. Pandangannya teralih dengan foto yang terpanjang di atas nakas.


 


__ADS_2