Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 121


__ADS_3

Sebelum ke rumah Mama Arriel, Liam dan Loveta pergi ke supermarket. Membeli buah untuk buah tangan.


“Aku akan ambil jeruk, kamu tolong ambilkan anggur. ” Loveta meminta tolong pada sang suami.


“Baiklah.” Liam mengangguk.


Liam segera mencari anggur yang bagus. Walaupun anggur tidak sebagus di Italia, tapi anggur-anggur di depannya cukup bagus. Apalagi sebagian diimpor dari luar negeri.


Saat sedang sibuk   memilih anggur, ponsel Liam berdering. Hal itu membuatnya segera mengangkatnya. Ternyata ponsel itu berasal dari asistennya.


“Maaf, Pak mengangguk waktu libur Anda. Tadi ada dari pihak fresh fresh shop ingin mengajak kerja sama restoran kita, tapi dia ingin bertemu Anda secara langsung.” Asisten Liam memberitahu Liam.


“Baiklah, aku akan menemuinya. Buatkan jadwal bersamanya.”


“Baik, Pak.”


Liam segera mematikan sambungan telepon. Kemudian memilih kembali anggur yang diminta sang istri.


Seusai mendapatkan buah yang dicari, Liam dan Loveta segera menuju ke rumah Mama Arriel.


Tiba di rumah Mama Arriel, Liam dan Loveta disambut oleh Alca. Adik tiri Loveta itu yang membuka pintu.


“Kamu sedang ada di rumah? Tidak pergi pacaran?” Loveta menggoda adiknya. Dia sudah dengar jika sang adik punya kekasih.


“Tidak, aku sedang malas. Jadi mau di rumah saja.” Alca menjawab datar. Dia memang orang yang jarang bicara.


“Memang Alca sudah punya pacar?” Liam menatap sang istri. Ingin tahu kisah Alca.

__ADS_1


“Sudah, kata Mama anak kecil itu sudah memiliki pacar.” Lovea tertawa. Meledek adiknya yang sudah memiliki kekasih.  


“Kak, aku bukan anak kecil. Aku sudah delapan belas tahun.” Alca melemparkan protesnya pada sang kakak.


Loveta tertawa. “Iya, kamu sudah dewasa. Sampai-sampai sekarang tinggimu melebihi aku.” Loveta merasa adik-adiknya sudah tumbuh besar. Sebentar lagi mereka akan masuk perguruan tinggi.


Alca hanya menatap malas pada sang kakak.


“Kalian sudah datang.” Mama Arriel menghampiri ketika mendengar suara anak dan menantunya. Menyapa mereka yang baru datang.


“Iya, Ma. Kami baru saja sampai.” Loveta menautkan pipinya pada pipi sang mama.


Liam juga menyalami mama mertuanya itu. Tak lupa juga papa mertuanya.  


...****************...


Sebelum makan malam Liam dan Loveta mengobrol di ruang keluarga bersama Mama Arriel, Papa Adriel, dan Alca Mereka bercerita tentang masa kecil Liam dan Loveta.


“Jadi Papa menggunakan anak-anak untuk mendekati mama?” Alca mencibir apa yang dilakukan papanya.


“Tapi, pada akhirnya mamamu luluh juga ‘kan.” Papa Adriel tertawa.


Mereka bercerita pengalaman-pengalaman mendekati satu dengan yang lain. Membuat tawa sesekali terdengar.


“Apa berkas keberangkatan kalian sudah selesai?” Di tengah-tengah obrolan, Mama Arriel bertanya.


“Sudah, Ma. Tinggal menunggu Kak Liam menyelesaikan pekerjaannya, setelah itu baru kami akan pergi.” Loveta menjelaskan rencananya itu pada mamanya.

__ADS_1


“Baiklah, kabari jika kamu sudah akan berangkat.”


“Tentu saja, Ma. Aku pasti akan memberitahu.”  Loveta mengangguk.


 


...****************...


Seharian kemarin Liam dan Loveta berada di rumah Mama Arriel dan Papa Adriel. Waktu libur berlalu begitu cepatnya. Hingga membuat mereka merasa kurang.


“Bisakah aku tidak bekerja hari ini?” Liam memeluk sang istri yang sedang menyiapkan sarapan. Dia masih ingin bermalas-malasan di rumah dengan sang istri.


“Jangan malas. Kamu harus segera menyelesaikan pekerjaanmu agar kita bisa pergi ke Italia dengan tenang.” Loveta memberikan semangat pada sang suami.


Mengingat jika akan pergi ke Italia, Liam begitu bersemangat sekali. Karena selain bekerja, dia akan bulan madu di sana.


“Baiklah, aku akan semangat.” Seperti baterai yang baru diisi, Liam langsung bersemangat sekali. Dia segera menegakkan tubuhnya, dan memperlihatkan jika dirinya sangat bersemangat.


Loveta hanya bisa tersenyum. Ternyata suaminya sangat bersemangat sekali ketika membahas hal itu.


“Ayo, cepat makan.” Loveta mengajak Liam untuk segera sarapan.


“Baiklah.” Liam segera duduk manis di kursi. Menikmati sarapan yang disajikan oleh sang istri.


Mereka berdua menikmati sarapan bersama. Liam tampak bersemangat sekali. Apalagi membayangkan akan segera pergi ke Italia.


“Aku siang ini tidak bisa makan siang denganmu, karena aku ada makan siang dengan klien yang ingin mengajak kerja sama dengan restoran.” Di tengah-tengah sarapan Liam menjelaskan apa yang akan dilakukannya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Nanti aku bisa makan dengan mama atau pesan makanan jika mama tidak bisa.” Loveta mengulas senyumnya. Dia memang bukan wanita manja. Jadi dia tidak masalah jika Liam tidak bisa makan siang bersamanya.


Liam senang sang istri mengerti pekerjaannya. Jika begini, pekerjaannya pasti tidak akan kendala.


__ADS_2