Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 123


__ADS_3

“Terima kasih untuk makan siangnya. Saya tunggu untuk pertemuan kedua untuk penandatanganan kerja sama.” Lavelle mengulurkan tangan sebelum pergi.


“Tentu saja. Saya akan segera buatkan surat kerja sama kita.” Liam menjabat tangan Lavelle.


Lavelle segera pergi meninggalkan restoran. Liam masih tetap di restoran karena harus mengecek restoran terlebih dahulu.


“Apa tidak apa-apa, Pak. Anda memberikan nomor pribadi?” Asisten Liam bertanya pada atasannya itu. Tadi dia melihat Liam memberikan nomornya pada Lavelle. Sebagai seorang pria, dia melihat ada ketertarikan dari sorot mata Lavelle. Apalagi sepanjang berbincang, dia melihat Lavelle memerhatikan Liam dengan saksama.


“Aku rasa tidak masalah. Lagi pula itu masih masalah pekerjaan.” Liam merasa tidak ada masalah.


Asisten Liam tidak bisa bicara apa-apa. Dia tidak bisa melarang sang atasan jika seperti itu.


 


...****************...


“Aku punya hadiah untukmu.” Liam menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya. Membuat sang istri penasaran.


Loveta mencoba mengintip apa yang dibawa Liam. Melihat ke arah kanan dan kiri tubuh sang suami. Sayangnya, Liam berusaha untuk menyembunyikan apa yang dibawanya.


“Kamu bawa apa?” tanya Loveta.


“Tutup matamu dulu.” Liam meminta sang istri untuk menutup mata agar dapat memberikan kejutan.


Loveta tidak punya pilihan. Jadi dia mencoba untuk tutup mata. Dia penasaran sekali. Apa yang akan ditunjukkan oleh Liam. Pasti sesuatu yang spesial.


Liam segera membawa apa yang disembunyikan dibalik tubuhnya. Meletakkan tepat di depan dadanya.

__ADS_1


“Sekarang buka matamu.” Liam meminta Loveta untuk melihat kejutan apa yang akan diberikan.


Loveta segera membuka matanya. Ingin melihat apa yang akan ditunjukkan Liam.


“Kejutan.” Liam langsung menyambut Loveta yang membuka mata.  


Loveta melihat visa dan juga tiket berlogo pesawat. Dia merasa jika itu pasti tiket ke Italia.


“Apa itu tiket ke Italia?” Loveta berbinar.


“Menurutmu?” Liam tersenyum menggoda.


Loveta langsung meraih tiket tersebut. Membacanya dan mendapati jika itu adalah tiket ke Italia. Tertulis jika minggu depan mereka akan pergi.


“Kita akan pergi minggu depan?” tanya Loveta memastikan.


“Ye ....” Loveta bersorak. Senang akhirnya akan pergi ke Italia. Sudah cukup lama dia menunggu hari ini. Loveta langsung memeluk sang suami, meluapkan kebahagiaanya.


Liam merasa ikut senang karena istrinya begitu senang. Bahagia sang istri adalah bahagianya.


“Apa yang harus aku siapkan? Berapa baju yang aku harus bawa?” Loveta begitu semangat sekali. Karena ini pertama kalinya pergi ke luar negeri bersama Liam.


“Tidak perlu bawa apa-apa. Bawa diri saja.” Liam tersenyum.


Dahi Loveta berkerut dalam. Bagaimana bisa suaminya mengatakan untuk tidak membawa apa pun. Padahal dia mau berfoto-foto dengan baju bagus di sana.


“Kamu lupa jika Italia pusat mode? Kamu bisa beli baju di sana. Untuk apa kamu membawa dari sini.” Liam mencubit pipi sang istri.

__ADS_1


Loveta membenarkan ucapan sang suami. Pastinya di sana akan ada pakaian dari brand-brand ternama. Jadi dia bisa membelinya. Namun, ada satu hal yang dipikirkan Loveta.


“Aku tetap akan membawa baju dari sini.” Loveta menekuk bibirnya.


“Kenapa begitu?” Liam begitu penasaran sekali dengan keinginan sang istri.


“Karena aku tidak punya cukup uang untuk membeli.” Loveta dengan lirih menjawab.


Untuk sejenak Liam termangu. Dia teringat jika belum memberikan uang pada Loveta. Istrinya pun tidak pernah meminta. Jadi dia tidak ingat.


“Astaga, Sayang. Aku benar-benar berdosa sekali. Sudah menikah denganmu hampir dua bulan, tapi belum memberimu uang.” Liam segera merogoh kantung celananya. Mengambil dompetnya. “Jangan ceraikan aku karena belum memberikan nafkah. Aku mohon.” Dia langsung memberikan kartu berwarna hitam. Kartu yang dapat dipakai di semua negara.


Loveta tertawa melihat aksi panik sang suami. Benar-benar lucu sekali. Padahal ia tidak berpikir minta uang pada Liam.


“Aku saja tidak tahu jika kamu harus memberikan aku uang. Aku pikir aku cari uang sendiri. Jadi tidak perlu meminta padamu.” Pikiran polos Loveta sesederhana itu. Dia segera menerima kartu yang diberikan Liam.


“Aku wajib menafkahimu. Nafkah lahir dan nafkah batin.” Liam mendaratkan kecupan di pipi Loveta.


Loveta tampak berpikir. “Ini nafkah apa?” tanyanya sambil menunjukkan kartu yang diberikan Liam.


“Ini namanya nafkah lahir.” Liam mencoba menjelaskan.


Loveta mengangguk mengerti. “Kalau nafkah batin seperti apa?” tanya Loveta polos.


Liam menyeringai. “Nafkah batin seperti ini.” Liam membenamkan bibirnya ke ceruk leher sang istri.


“Ach ....” Loveta tertawa karena merasa geli. Apalagi bulu halus di wajah Liam menggelitik kulitnya.

__ADS_1


Akhirnya Loveta tahu mana nafkah lahir dan nafkah batin. Walaupun sedikit terlambat tahu.


__ADS_2