Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 71


__ADS_3

Papi Dathan dan Liam sampai di rumah sakit. Saat hendak masuk mereka mendengar isak tangis. Ternyata suara itu berasal  dari ruangan Josep.


Benar saja. Saat mereka berdua masuk, tampak Leo dan mamanya menangis.


Liam dan Papi Dathan tidak menyangka jika ternyata Josep meninggal dunia.


Tubuh Liam lemas. Seketika dadanya terasa sesak. Meskipun papanya begitu jahat pada dirinya dan sang mama, tetapi bukan begini juga yang diharapkannya.


Air mata Liam tak tertahan lagi. Dia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya. Andai sang papa memberikan haknya sedikit saja. Mungkin dia tidak sampai hati merebut semua ini.


Liam yang tak kuasa melihat hal itu langsung memilih pergi. Dia menangis di sudut ruang tunggu.


Papi Dathan yang melihat hal itu langsung menyusul Liam. Dia paham betul jika pastinya Liam sangat terpukul sekali dengan kematian papanya.


“Tenanglah.” Papi Dathan menepuk bahu Liam.


“Apa semua salahku, Pak? Apa aku salah jika meminta hakku?” Liam menangis. Dia jelas menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.


“Ini takdir. Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi.” Papi Dathan berusaha untuk menenangkan Liam. Dia tahu pasti Liam sangat menyalahkan dirinya.


Liam masih terus menangis. Dia tidak berharap sejauh ini. Mau tidak menyalahkan dirinya, tetapi tetap saja Liam tidak bisa.


...****************...


Saat jenazah suaminya dikebumikan,  Bella terus meraung. Memanggil-manggil sang suami. Dia merasa tidak bisa hidup tanpa sang suami. Bertahun-tahun bersama sang suami, kini di harus kehilangan suaminya itu.


Leo memeluk sang mama. Berusaha untuk menenangkan sang mama. Dia tahu jika sang mama pastinya sangat terluka atas meninggalnya sang papa. Leo pun juga terpukul dengan kematian sang papa. Rasanya tidak terima papanya meninggal secepat ini.

__ADS_1


Di pemakaman keluarga Fabrizio turut hadir. Loveta pun tampak hadir di antara para pelayat. Sekali pun dia masih sangat kecewa dengan Leo, tetapi dia tetap mau datang.


Bersama sang mami dan papinya, Loveta mengikuti prosesi pemakaman.


Liam berada di barisan belakang pelayat. Melihat dari kejauhan prosesi pemakaman. Liam begitu ikut terpukul dengan kematian papanya.


Prosesi pemakanan yang selesai, tidak membuat Bella berhenti menangis. Dia berada di pusara sang suami sambil memegangi foto sang suami yang terpajang di pemakaman. Leo terus menenangkan sang mama. Berusaha untuk meminta mamanya mengikhlaskan semuanya.


“Ma, biarkan papa pergi dengan tenang.” Leo berusaha untuk menangkan sang mama.


Bella masih terus menangis. Tak berhenti sama sekali.


Pelayat satu per satu mulai pergi. Menyisakan beberapa orang saja. Termasuk keluarga Fabrizio dan Liam.


Saat sedang menangis, Bella melihat Liam yang berada di dekat pemakaman. Darahnya mendidih ketika melihat pria itu.


“Ini semua gara-gara kamu!” Bella menunjuk Liam yang berdiri di belakang keluarga Fabrizio.


Semua orang yang ada di sana pun mengalihkan pandangan pada Liam.


Bella langsung berdiri dan menghampiri. “Jika kamu tidak datang ke kehidupan kami. Semua tidak akan terjadi.” Bella menarik kerah baju Liam. Dia meluapkan kekesalannya ada Liam. Baginya Liam adalah penyebab kematian suaminya.


“Ma, tenanglah.” Leo berusaha untuk menenangkan sang mama. Tanah makam masih basah, tetapi sang mama membuat keributan di dekat makam.


“Jangan halangi Mama, Leo. Mama mau berikan pelajaran pada pria ini.” Bella memukul Liam. Meluapkan kekesalannya.


Liam membiarkan Bella memukulnya. Tidak melakukan perlawanan sama sekali.

__ADS_1


“Ma, hentikan ini. Biarkan papa pergi dengan tenang. Jangan seperti ini.” Leo merasa mamanya akan percuma marah pada Liam karena papanya sudah tidak ada.


Bella yang dihentikan oleh anaknya justru menangis. Leo langsung memeluk sang mama dan berusaha untuk menenangkannya.


“Pergilah dari sini!” usir Leo. Dia tak mau mamanya histeris karena melihat Liam. Bagi mamanya Liam adalah penyebab meninggalnya sang papa.


Liam tak mau membuat keributan. Karena itu dia memilih untuk segera pergi.


Kini tertinggal keluarga Fabrizio, pengacara, dan juga keluarga Smith. Mereka masih berada di makam Josep Smith.


“Kami permisi dulu. Semoga Bu Bella dan Leo bisa diberikan ketenangan.” Papi Dathan berpamitan pada Leo dan mamanya.


“Terima kasih sudah mau datang ke sini.” Leo menyalami Papi Dathan.


“Sama-sama.” Papi Dathan mengangguk.


“Yang sabar Jeng Bella.” Mami Neta membelai bahu Bella yang masih menangis di pelukan sang anak. “Jaga mammu,” ucapnya beralih pada Leo.


“Iya, Tante.” Leo mengangguk.


Loveta yang berada di belakang orang tuanya hanya diam saja. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia memilih melewati Leo begitu saja.


Sakit sebenarnya mendapatkan sikap seperti itu dari Loveta, tetapi Leo sadar jika Loveta sedang sangat marah padanya.


Pengacara menghampiri Leo dan mamanya. “Ada beberapa pesan yang ingin dititipkan pada saya.” Dia memberitahu Leo dan mamanya.


Leo penasaran apa yang ingin disampaikan oleh pengacara. Menurut maman sebelum meninggal papanya sempat bertemu pengacara.

__ADS_1


“Kita bicara di rumah.” Leo mengajak pengacara untuk ke rumahnya.


 


__ADS_2