Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 144


__ADS_3

“Kalian sedang makan apa?” tanya Evan.


Loveta dan Evelyn menoleh ketika pertanyaan itu terdengar.


Tadi, Loveta memberitahu jika dia ke toko Asia. Jadi dia meminta Liam untuk pulang makan. Liam bilang akan sedikit terlambat. Jadi meminta Loveta untuk makan lebih dulu saja.


Evan menghampiri istrinya. Dilihatnya sang istri makan dengan tangan. Hal itu membuatnya merasa heran. Kenapa bisa sang istri seperti itu.


“Sayang, kamu jorok sekali. Kenapa makan dengan tangan?” Evan tak tahan untuk mengomentari apa yang dilakukan oleh istrinya.


“Sayang, ini enak sekali. Kamu harus ikut makan.” Evelyn menyuap makanan dengan tangannya.


Evan masih tidak percaya. Bisa-bisanya istrinya makan seperti itu.


“Sudah cepat cuci tanganmu dan ayo bergabung di sini.” Evelyn pun memberikan perintah pada sang suami.


Evan selalu saja tidak bisa menolak apa yang diperintahkan istrinya. Karena jika dia menolak yang ada akan panjang urusannya.


“Sayang, cucilah tanganmu.” Loveta dengan lembut memberikan perintah pada Liam.


Liam mengangguk. Dengan segera dia mencuci tangannya.


Liam dan Evan kembali ke meja makan setelah mencuci tangan. Mereka ikut makan dengan Loveta dan Evelyn.


Liam dengan semangatnya makan. Sudah seminggu dia makan pasta dan roti. Jadi dia rindu makanan Indonesia. Benar saja, saat makanan dimasukkan. Rasanya nikmat sekali.


Evan melihat tiga orang di depannya makan dengan lahapnya. Hal itu membuatnya merasa aneh. Kenapa mereka makna senikmat itu.


Akhirnya, karena rasa penasaran, Evan memutuskan untuk makan juga. Menggunakan tangannya meski dia ragu.


Saat makanan masuk ke mulut, dia merasakan hal berbeda dengan yang dipikirkan. Ternyata makanan itu enak.  


“Enak bukan?” tanya Evelyn.


“Enak.” Evan lahap sekali makan. Ternyata daging dimasak seperti yang dibawa Loveta dan Liam cukup enak.

__ADS_1


Mereka berempat makan begitu lahapnya. Evan sampai lupa jika ternyata dia juga makan dengan tangan. Tidak merasa jijik sama sekali.


...****************...


Suara telepon berdering. Baru saja Loveta mengantarkan suaminya berangkat ke kantor lagi setelah makan siang, saat di kamar sudah disambut suara telepon.


Belum sempat Loveta angkat, ternyata suara telepon itu sudah berhenti. Dengan segera Loveta meraih ponselnya di atas nakas. Melihat siapa yang menghubunginya. Saat dilihat ternyata ada lima panggilan tak terjawab, dan itu dari mami dan papinya.


Tak membuang waktu, Loveta langsung menghubungi kembali.


“Cinta.” Suara Mami Neta begitu senang sekali ketika mendapat telepon dari anaknya.


“Mami, aku rindu.” Loveta juga tidak kalah dengan sang mami.


“Mami juga rindu. Kamu apa kabar? Apa saja yang kamu lakukan di sana? Apa kamu makan dengan baik?” Mami Neta melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.


“Sayang, tanya satu-satu. Cinta pasti bingung dengan pertanyaanmu.” Suara Papi Dathan terdengar menegur sang istri.


Loveta senang sekali mendengar pertengkaran mami dan papinya. Dia rindu akan hal itu.


“Aku baik, Mi. Apa Mami dan Papi baik-baik saja di sana?” Loveta tentu ingin tahu kabar keluarganya.


“Kami baik-baik saja, Cinta.” Papi Dathan yang menjawab. Dia ingin bicara dengan anaknya.


“Apa kamu maka dengan baik di sana? Apa kamu makan makanan yang Mami bawa?” Mami Neta benar-benar tidak sabar sekali. Padahal sudah ditegur oleh suaminya.


“Aku makan dengan baik, Mi. Aku juga makan masakan Mami. Apa Mami tahu, adik sepupu Liam suka dengan masakan Mami.”


“Wah ... kalau dia suka, nanti Mami akan buatkan dan kirim.”


Loveta tertawa. Maminya sangat bersemangat sekali membuatkannya.


Loveta bercerita jika dia akan mengadakan pesta. Pesta akan diadakan di rumah.


Mama Neta dan Papi Dathan mendoakan semoga pestanya berlangsung lancar. Berharap anak-anaknya bersenang-senang di pesta.

__ADS_1


 


...****************...


Liam mencari istrinya. Sayangnya, dia tidak menemukan sang istri di kamarnya.


Setelah bertanya pada asisten rumah tangga, dia mendapatkan informasi jika sang istri berada di taman.


Liam segera mencari sang istri. Ternyata sang istri sedang melihat-melihat bunga di taman belakang.


Liam menghampiri Loveta dengan perlahan. Kemudian memeluk sang istri pelan-pelan.


Loveta begitu terkejut ketika mendapatkan pelukan dari belakang. Saat melihat ke belakang, ternyata suaminyalah yang memeluk.


“Kamu sudah pulang?” tanya Loveta tersenyum.


“Iya, aku sudah pulang dan mencarimu di kamar. Ternyata kamu tidak ada.” Liam menjelaskan apa yang dilakukannya tadi.


“Aku melihat-lihat bunga sambil menunggu Evelyn mandi.” Loveta tadi selesai mandi lebih dulu. Jadi dia harus menunggu adik iparnya itu keluar.


Liam mengangguk. Dia mengeratkan pelukannya. Mereka berdua menikmati memandangi bunga-bunga di taman.


“Bunganya cantik-cantik.” Loveta memuji bunga-bunga yang sedang dilihatnya.


“Dulu bunga-bunga ini mama yang tanam. Sejak aku yang ambil alih perusahaan, mama lebih banyak menghabiskan waktu menanam bunga.” Liam menceritakan sedikit tentang bunga-bunga yang sedang mereka lihat.


“Pasti sangat menyenangkan bisa menanam bunga dengan mama.” Loveta membayangkan hal indah itu.


“Andai mama di sini. Pasti dia senang ketika ditemani menanam bunga.” Liam terkadang membayangkan bahagia sang mama jika memiliki menantu.


Loveta memegangi tangan Liam yang memeluknya. Menenangkan sang suami.


Liam mengeratkan pelukannya. Walaupun sudah tidak ada mamanya. Dia punya istri dan keluarga yang menyayanginya.


“Ayo aku tunjukan sesuatu.” Tiba-tiba Liam teringat dengan apa yang ingin dilakukannya.   

__ADS_1


__ADS_2