Pesona Sang Pewaris

Pesona Sang Pewaris
Bab 156


__ADS_3

Mereka semua sampai di bagian dokter kandungan. Loveta harus mengikuti prosedur awal pemeriksaan tekanan darah, berat badan, dan suhu tubuh sebelum masuk ke ruangan dokter kandungan.


Setelah namanya dipanggil, Loveta segera masuk ke dalam ruangan dokter kandungan. Semua keluarga ikut masuk dengannya.


Saat masuk tampak seorang dokter yang sudah cukup tua duduk di kursi. Walaupun sudah tua, tetapi wanita itu masih tampak cantik.


“Selamat siang, Dok.” Mami Neta menyapa dokter yang bernama Lyra Maxton. Itu tertulis di papan yang ada di atas meja. Sewaktu hamil si kembar dulu juga ditangani oleh dr. Lyra. Mami Neta tidak menyangka jika dr. Lyra masih bertugas.


“Maaf semuanya ikut masuk.” Mama Arriel menambahkan. Merasa tidak enak ketika semua keluarga ikut masuk.


Dr. Lyra tersenyum. Didatangi rombongan sudah biasa baginya. Karena keluarganya seperti itu.


“Tidak masalah. Silakan duduk.” Dr. Lyra mempersilakan Loveta untuk duduk.


Ada dua kursi di depan meja dr. Lyra. Karena itu Loveta dan Liam duduk di sana. Kebetulan di belakang mereka ada kursi juga. Menempel di tembok dan sedikit berjarak dengan Liam dan Loveta. Namun, karena masih berada dalam ruangan, pastinya akan terdengar suara dokter.

__ADS_1


Dokter Lyra membaca berkas pemeriksaan miliki Loveta. Ternyata dia adalah pasien baru. Jadi tentu saja ada banyak hal yang ingin diberitahu lebih dulu.


“Halo, perkenalkan dulu nama saya Lyra. Karena Bu Dannessia Loveta adalah pasien baru, ada beberapa hal yang saya harus beritahu sebelumnya sebelum melanjutkan pemeriksaan lebih lanjut. Saya adalah dokter senior di sini. Sayangnya, saya sudah tidak menangani proses melahirkan baik itu secara normal atau pun operasi. Jadi Bu Dannesia hanya dapat melakukan pemeriksaan saja pada saya. Selebihnya jika ada proses melahirkan akan ada dokter yang menangani. Apa Bu Dannesia bersedia?” Dr. Lyra menatap Loveta.


Loveta bingung. Dia merasa aneh jika dokter yang menangani akan berbeda dengan yang membantu melahirkan. Karena tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya Loveta menoleh ke belakang. Meminta bantuan mami dan mamanya.


Mami Neta langsung mengangguk. Dr. Lyra sangat terpercaya. Jadi mendapatkan kesempatan pemeriksaan sudah bagus. Mama Arriel yang di sebelahnya juga ikutan mengangguk. Merasa dr. Lyra adalah dokter kompeten. Selama masa kehamilan itu perlu untuk Loveta.


Mendapati jawaban anggukan dari mami dan mamanya, Loveta akhirnya mendapatkan keputusan.


“Baiklah jika sudah setuju. Saya akan lanjutkan pemeriksaan.” Dr. Lyra langsung melihat berkas. Membaca catatan yang diberikan perawat. Tadi pasti perawat sudah melakukan pengecekan.


Loveta dan Liam menunggu.


“Jadi tadi sudah ada pemeriksaan di rumah sakit lama dan hasilnya positif?” Dr. Lrya memastikan.

__ADS_1


“Iya, Dok.” Loveta mengangguk.


“Silakan naik ke ranjang pemeriksaan.” Dr. Lyra meminta Loveta untuk naik ke ranjang pemeriksaan. Dr. Lyra berdiri menuju ke kursi di depan monitor USG.


Loveta segera ikut berdiri. Kemudian naik ranjang pemeriksaan dibantu oleh suaminya.


Mama Arriel, Mami Neta, dan Papi Dathan berdiri. Ingin melihat cucu mereka di layar USG.


Perawat langsung menuang gel di perut Loveta, agar mudah untuk dokter menggunakan alat USG.


Dokter segera mengarahkan alat USG ke perut Loveta. Mencari janin yang berada di kandungan Loveta.


“Benar jika Bu Dannesia hamil. Ada embrio yang menempel di dinding rahim.” Dr. Lyra menunjukkan bintik hitam di layar USG.


Liam dan Loveta mengarahkan pandangan pada layar. Diikuti juga dengan Papi Dathan, Mami Neta, dan Mama Arriel.  

__ADS_1


 


__ADS_2