
Tidak ada jawaban sama sekali. Hal itu membuat Loveta takut. Namun, dia langsung berinisiatif menyalakan lampu ponselnya. Kemudian menyoroti jalanan agar dapat segera keluar dari ruangan ini. Seingat Loveta ruangan tadi benar-benar kosong. Hanya ada dirinya. Jadi tentu saja membuatnya takut.
Loveta menyorot jalanan yang dilalui. Dia hanya fokus ke jalanan yang tersorot oleh lampu ponselnya.
Pandangan Loveta yang fokus pada jalanan membuatnya tidak menyadari apa yang ada di depannya. Dia menabarak tubuh seseorang yang berdiri di depannya.
Dari aroma parfumnya Loveta sudah tahu siapa itu.
“Kak Liam.” Loveta mengarahkan sorot lampu ponselnya ke wajah Liam.
Benar saja. Pria di depannya itu adalah Liam. Saat lampu menyorot wajah Liam, pria itu tersenyum.
“Kak Liam.” Refleks Loveta memeluk Liam. Dia sempat takut tadi. Jadi saat melihat Liam, dia lega sekali.
“Ada aku. Jangan takut lagi.” Liam membelai lembut rambut Loveta.
Ditenangkan seperti itu jelas membuat Loveta jauh lebih tenang. Namun, sesaat kemudian dia melepaskan pelukannya. Takut calon istri Liam melihatnya.
“Kenapa?” tanya Liam yang merasakan Loveta melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Aku takut calon istri Kak Liam melihat.” Loveta mengatakan apa adanya.
Liam tersenyum. Ternyata itu yang membuat Loveta takut.
“Aku mau turun ke lantai bawah.” Loveta tidak mau berlama-lama dalam kegelapan.
“Baiklah, kita turun, tapi aku harus mengambil cincin yang kamu taruh di meja tadi.” Liam menggenggam tangan Loveta. Memberikan isyarat jika dia mau mengajak Loveta untuk mengambil cincin bersama.
Loveta langsung mengerti. Dia segera mengayunkan langkah, mengikuti Liam yang mengambil cincin.
Bukannya langsung mengambil cincin, Liam justru menyalakan lilin-lilin yang berada di meja makan. Membuat ruangan yang tadinya gelap, seketika terdapat cahaya.
Di saat sedang memandangi lilin tersebut, tiba-tiba Loveta dikejutkan dengan Liam yang tiba-tiba berlutut.
“Kak Liam.” Loveta bingung dengan yang dilakukan Liam.
“Kamu tahu, siapa calon istri yang aku maksud selama ini?” tanya Liam seraya menatap Loveta.
Sorot lilin membuat wajah Liam terlihat jelas sedang menatapnya. Hal itu membuat Loveta berdebar begitu kencang.
__ADS_1
“Wanita itu adalah kamu.” Liam melanjutkan ucapannya.
Loveta membulatkan matanya. Masih tidak percaya jika dirinya adalah orang yang dimaksud oleh Liam.
“Sejak kecil aku mencintaimu. Tak pernah satu wanita pun menggantikan dirimu di hatiku.” Akhirnya Liam memberanikan diri mengungkakan isi hatinya.
“Kak Liam mencintai aku dari dulu?” tanya Loveta tidak percaya.
“Iya, aku mencintaimu sejak kita masih kecil.” Liam tersenyum sambil mengingat bagaimana kisah cintanya dimulai.
Loveta tidak menyangka Liam menyimpan rasa cintanya sejak lama. Perasaan yang sama yang dirasakannya sewaktu kecil.
“Saat aku kembali, aku pikir aku bisa bersamamu, tapi ternyata aku harus kecewa. Aku mencoba ikhlas menerima kamu bersama pria lain, tetapi tetap saja tidak bisa.” Liam mengingat bagaimana dia terluka melihat Loveta bersama pria lain.
Rasanya Loveta malu saat Liam masih setia mencintainya, tetapi dirinya justru menerima pria lain untuk mengisi hari-harinya.
“Namun, sekarang takdir membawamu kembali padaku. Jadi aku tidak akan melepaskanmu lagi.” Liam meraih tangan Loveta dan menggenggamnya erat. Seolah tak mau melepaskan Loveta lagi. “Jika dulu kamu yang sering bertanya, apakah aku mau menikah denganmu, kini izinkan aku yang bertanya hal itu.” Liam tersenyum ketika mengingat celoteh Loveta sewaktu kecil. “Danissia Loveta maukah kamu menikah denganku dan menghabiskan seumur hidupmu bersamaku, serta menjadi ibu untuk anak-anakku?” Liam menatap Loveta lekat. Tatapannya penuh damba pada wanita yang dicintainya itu.
__ADS_1