
Sesuai dengan rencana, hari ini Liam dan Loveta menemui Lavelle untuk membicarakan masalah Leo. Liam dan Loveta sengaja mengajak bertemu pagi hari. Karena siang mereka akan beristirahat sebelum perjalanan ke luar negeri.
Liam dan Loveta mengajak Lavelle bertemu di restoran. Mereka datang lebih awal. Karena itu mereka menunggu Lavelle.
“Maaf, aku terlambat.” Lavelle yang datang benar-benar merasa tidak enak dengan Liam dan Loveta.
Lavelle yang mulai mual-mual memang mulai kesulitan untuk beraktivitas. Namun, dia sadar jika dia sedang hamil, dan hal itu wajar untuk ibu hamil.
“Tidak apa-apa. Kami juga baru datang.” Loveta mencoba menenangkan Lavelle.
Lavelle segera duduk.
“Mau minum apa?” Liam langsung bertanya.
“Berikan aku lemon tea.” Lavelle merasa jika pastinya akan enak jika minum lemon tea. Paling tidak rasa mualnya akan berkurang.
Liam langsung memesankan minuman tersebut untuk Lavelle.
Loveta memerhatikan Lavelle yang sedikit pucat. Tampak wanita di depannya itu kewalahan di kehamilan trimester pertama.
“Apa mual dan muntahnya mulai parah?” Loveta memastikan keadaan Lavelle.
“Iya, sejak kemarin mual dan muntah yang aku rasakan semakin parah.” Lavelle memaksakan senyumnya. Dia berada di fase tidak nyaman dengan tubuhnya itu.
Mendengar cerita Lavelle membuat Loveta iba. Dia memikirkan bagaimana jika Lavelle menjalani kehamilannya sendiri. Pasti itu akan sangat berat sekali.
Akhirnya minuman miliki Lavelle datang juga. Dia segera meminum minumannya. Mual yang dirasakannya perlahan reda. Jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
“Apa kalian dapat informasi?” Lavalle langsung bertanya setelah meminum lemon tea pesanannya itu.
Liam dan Loveta saling pandang. Walaupun sudah menyusun kata untuk memberitahu Lavelle. Tetap saja semua buyar saat ditanya Lavelle.
“Maafkan kami. Kami tidak menemukan Leo.” Akhirnya Liam memberanikan diri untuk mengatakannya. “Aku sudah menanyakan pada pengacara Leo, tetapi sepertinya Leo sengaja menyembunyikan keberadaannya.” Liam kembali menjelaskan semua yang sebenarnya.
Lavelle terdiam. Ternyata Liam juga tidak dapat menemukan Leo. Entah pergi ke mana pria itu. Sudah seperti bak di telan bumi.
“Kami akan mencarinya lagi nanti setelah pulang dari luar negeri. Kamu jangan khawatir.” Loveta langsung menyambung ucapan suaminya.
Lavelle melihat jelas jika Liam dan Loveta tulus sekali membantunya. Terutama Loveta yang tampak mengkhawatirkannya. Padahal, harusnya Loveta benci padanya. Karena sudah membuat pernikahannya gagal, dan juga menuduh suaminya yang menidurinya.
“Tenanglah, aku tidak masalah jika kalian tidak menemukannya.” Lavelle mencoba memaksakan senyumnya.
Sebenarnya, Lavelle tidak bisa menyalahkan Leo seutuhnya. Karena malam itu dirinya yang menghampiri Leo. Harusnya dirinya sadar ketika mabuk dengan orang tidak dikenalnya. Namun, mau menyesali dan merutuki kebodohannya juga percuma. Karena semua sudah terjadi. Terlebih lagi ada janin yang hadir di rahimnya.
“Kami berjanji akan mencari Leo setelah kami pulang. Jadi aku harap kamu tidak akan melakukan hal-hal aneh.” Liam benar-benar takut sekali Lavelle memilih menggugurkan kandungan.
Liam dan Loveta merasa tenang karena ternyata Lavelle tidak akan melakukan hal buruk.
“Kapan kalian akan pergi ke luar negeri?” Lavelle mengalihkan pembicaraan.
“Kami akan pergi nanti malam.” Loveta yang menjawab pertanyaan Lavelle.
Lavelle cukup terkejut karena ternyata Liam dan Loveta akan pergi malam ini.
“Kalian meluangkan waktu di saat kalian sibuk hanya bertemu denganku? Kenapa tidak menghubungi aku saja.” Padahal jika Liam dan Loveta menghubunginya, pasti di akan mengerti.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Kami sudah selesai berkemas. Jadi tidak masalah.” Loveta tersenyum.
Lavelle mengangguk.
Selang beberapa saat setelah urusannya selesai, Liam dan Loveta berpamitan. Mereka harus segera pulang untuk istirahat sebelum berangkat ke Italia.
...****************...
Di rumah, Loveta memastikan lagi barang-barang yang harus dibawa. Memastikan jika semua barang telah dibawa.
“Semua sudah. Aku rasa semua sudah aman.” Loveta merasa jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena semua sudah dibawa.
“Kalau sudah ayo istirahat.” Liam tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Jadi dia mengajak sang istri beristirahat. Karena jarang di pesawat dia bisa tidur nyenyak.
Liam langsung naik ke atas tempat tidur. Disusul Loveta yang naik ke atas tempat tidur.
Loveta masuk ke dalam pelukan Liam. Pelukan hangat sang suami memang selalu menenangkan.
“Bagaimana jika Leo benar-benar tidak ditemukan?” Sebagai sesama wanita Loveta memikirkan hal itu dia merasa jika pasti akan sulit sekali untuk Lavelle menjalani hidupnya.
“Kita akan bantu mencari Leo dulu. Jika sampai Leo tidak ditemukan, biarkan Lavelle menemukan jalan keluar sendiri. Kita tidak bisa terlalu dalam ikut campur.” Liam membelai lembut kepala sang istri. Kapasitasnya hanya membantu mencari Leo. Jika tidak ditemukan mau apa lagi.
Loveta membenarkan. Bukan tanggung jawab mereka untuk memikirkan apa yang harus dilakukan jika Leo tidak ditemukan.
Suara bel yang terdengar di tengah-tengah obrolan mereka membuat keduanya langsung pandang.
“Siapa itu?”
__ADS_1
Seingat mereka berdua, tidak ada pesanan makanan atau janji dengan orang hari ini. Jadi mereka penasaran siapa gerangan yang datang siang-siang ketika mereka sedang akan di rumah.