
Suara bel apartemen terdengar. Loveta dan Liam yang sedang merapikan sisa sarapan mereka, merasa heran siapa gerangan yang datang pagi-pagi. Karena hari ini mereka tidak punya janji dengan siapa-siapa. Jadi bingung siapa yang datang. Mereka hanya saling pandang. Sorot mata mereka seolah menyiratkan siapa garangan yang datang.
“Aku akan buka.” Liam yang sudah selesai cuci piring segera melepas apronnya. Memberikan pada sang istri. Dengan segera dia mengayunkan langkahnya untuk membuka pintu.
“Pagi, Liam.” Mami Neta menyapa Liam yang membuka pintu.
“Mami, Papi.” Liam begitu terkejut ketika melihat mertuanya berada di depan pintu.
Loveta yang mendengar suara sang mami segera menghampiri sang mami. Bersamaan dengan itu Mami Neta dan Papi Dathan masuk ke apartemen. Dia segera menautkan pipi pada anaknya.
“Mami ada apa datang pagi-pagi ke sini?” Loveta merasa heran karena orang tua tidak memberitahu kedatangan mereka.
“Mamimu bilang mau belanja-belanja.” Papi Dathan yang menjawab pertanyaan anaknya. Pagi-pagi sekali dia sudah heboh mengajaknya untuk pergi ke rumah anaknya.
Mami Neta tersenyum. Memang itu niatnya. “Mami sudah janjian dengan Mama Arriel. Kami mau membeli peralatan untuk anakmu.” Mami Neta sudah berkomunikasi dengan Mami Arriel tadi pagi. Saat Mami Arriel mengabari, dia langsung meluncur ke apartemen anaknya.
“Tapi, Mi—” Baru saja Loveta ingin menolak ajakan Mami Neta, Liam langsung menyenggol sang istri. Dia merasa bingung kenapa sang suami tidak mengizinkan dirinya bicara.
“Kamu siap-siap dulu saja, Sayang.” Liam tersenyum pada sang istri.
__ADS_1
Loveta tidak bisa berkata apa-apa ketika sang suami mengatakan hal itu. Terpaksa dia segera ke kamarnya. Untuk mengganti baju dan bersiap untuk pergi.
Saat di kamar mengganti baju, suaminya masuk ke rumah. Hal itu membuat Loveta segera bertanya pada suaminya. Karena dia tidak mengerti kenapa suaminya melarangnya.
“Kenapa kamu tidak mengizinkan aku menolak mami? Kamu tahu bukan jika kita mau pindah. Artinya jika kita membeli barang, akan membuat kita akan kesulitan pindah.” Loveta merasa akan sulit jika banyak barang yang dibawa nanti. Jadi dia memilih membeli barang setelah pindah nanti saja.
Liam tersenyum. “Mami sangat antusias. Apa kamu mau mematahkan semangatnya itu. Lagi pula memindahkan barang tidak akan sesulit itu. Dari pada menyakiti hati mami.” Dia mencoba memberitahu sang istri.
Loveta tidak berpikir sampai sejauh itu. Pasti jika dirinya menolak pasti sang mama akan sangat kecewa sekali. Jadi alangkah baiknya dia tidak melakukan hal itu saja.
“Baiklah, aku akan pergi dengan mami dan mama.” Loveta akhirnya setuju. Tak mau mengecewakan orang tuanya.
Loveta pergi bersama dengan Mami Neta dan Mama Arriel. Tak hanya mereka. Liam, Papi Dathan, Papa Adriel juga ikut serta. Mereka ke salah satu mal untuk membeli peralatan bayi.
“Kita belum tahu jenis kelaminnya. Jadi kita cari barang-barang yang netral saja.” Mami Neta merasa jika alangkah baik jika memilih yang tidak merujuk pada anak laki-laki atau perempuan.
“Iya, kamu benar.” Mama Arriel membenarkan.
Dua ibu itu memilih-milih. Di saat itu Loveta melihat-lihat sendiri perlengkapan anak. Dia tertarik dengan jas kecil yang lucu.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Liam yang melihat sang istri tersebut.
“Lihatlah, jasnya lucu sekali ‘kan?” Loveta tersenyum.
“Iya.” Liam mengangguk.
“Sayang kita tidak tahu laki-laki atau perempuan.” Liam juga suka, tetapi dia tidak berani membeli itu. Takut anaknya perempuan jadi nanti tidak akan terpakai. “Kita tunggu saja, jika anak kita laki-laki, kita beli nanti.” Liam tersenyum.
“Iya.” Loveta mengangguk.
Mereka memilih beberapa baju yang warnanya netral. Namun, tetap saja Mami Neta dan Mama Arriel tak terkendali. Mereka memilih banyak sekali barang. Menyambut cucu pertama memang membuat mereka semua begitu senang sekali. Hingga lupa diri.
“Jangan beli terlalu banyak. Cinta dan Liam mau pindah rumah. Yang ada kalian akan mengerjai mereka untuk memindah barang terlalu banyak.” Papi Dathan tadi mendengar jika Liam dan Loveta sedang akan membeli rumah. Rencananya mereka akan pindah dua bulan lagi. Karena rumah masih direnovasi.
“Oh … iya, kalau begitu kita jangan beli banyak-banyak. Nanti saja jika mereka sudah pindah kita baru beli yang banyak.” Mami Neta memberikan saran pada Mami Arriel.
“Benar, jangan beli banyak. Nanti setelah mereka pindah saja kita beli lagi.” Mama Arriel setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mami Neta.
Liam dan Loveta hanya bisa tersenyum ketika melihat aksi calon nenek yang sibuk memilih perlengkapan anak itu. Namun, mereka maklum saja. Mengingat keduanya baru pertama kali menyambut cucu pertama.
__ADS_1