
“Leo?” tanya pengacara memastikan siapa orang yang dicari Liam.
“Iya, Leo. Saya ingin tahu di mana dia berada.” Liam mencoba menjelaskan pada pengacara.
“Saya tidak tahu keberadaan Leo, Pak,” jawab pengacara.
Liam membelalak kaget mendengar jawaban pengacara. Dia tidak menyangka jika pengacara menjawab hal itu.
“Jangan coba membohongi saya, Pak.” Liam tidak percaya dengan jawaban dari pengacara.
“Untuk apa saya membohongi. Saya mengatakan yang sejujurnya. Memang saya benar tidak tahu di mana keberadaan Leo. Sejak dia memutuskan pergi, dia tidak memberitahu di mana dia tinggal. Apalagi setelah rumah dan apartemen dijual.” Pengacara mencoba menjelaskan apa adanya.
Liam masih belum percaya apa yang dikatakan pengacara. Dia merasa pengacara sengaja tidak mengatakan padanya. Menyembunyikan keberadaan Leo.
“Saya harus menemukan Leo. Jadi saya mohon, Pak. Beritahu di mana Leo berada sekarang.” Liam masih mendesak. “Atau Anda bisa berikan nomor ponselnya. Saya akan menghubunginya.” Liam mencari cara lain.
“Jujur saya tidak bermaksud untuk membohongi Anda, Pak Liam. Namun, saya benar-benar tidak tahu di mana keberadaan Leo. Seperti halnya Anda, saya juga ingin tahu. Saat penjualan apartemen beberapa minggu yang lalu, dia juga tidak memberitahu di mana keberadaannya.” Pengacara mencoba mengatakan apa adanya. Tidak sama sekali berniat berbohong pada Liam. “Untuk nomor telepon. Saya tidak tahu mana yang dipakai Leo. Karena setiap menghubungi saya, dia menggunakan nomor yang berbeda.” Pengacara segera mengambil ponselnya. Menunjukkan nomor telepon pada Liam.
Liam melihat deretan nomor telepon yang ditunjukkan pengacara. Ada sekitar sepuluh nomor yang disimpan dengan nama ‘Leo 1’ sampai ‘Leo 10’. Tentu saja itu membuat Liam bingung. Nomor mana yang dihubunginya.
“Saya akan mengirim nomor ini jika Anda ingin mencoba menghubungi.” Pengacara merasa tidak perlu ada yang ditutupi. Jadi nomor itu diberikan saja pada Liam.
Liam memberikan nomor teleponnya agar pengacara mudah untuk mengirim nomor telepon Leo.
“Leo sudah menjual aset miliknya yang ditinggalkan oleh Pak Josep. Jadi ada kemungkinan dia tidak akan menghubungi saya. Terakhir saya tanyakan di mana dia tinggal, dia tetap tidak mau mengatakannya.” Pengacara mencoba menjelaskan pada Liam lagi.
Jika sudah begini, jelas Liam akan kesulitan mencari Leo. Apalagi Leo bukan anak kecil yang bisa dilaporkan hilang dan dicari oleh polisi.
Liam benar-benar bingung. Bagaimana dia bisa menjelaskan pada Lavelle jika dia tidak bisa menemukan Leo. Pasti Lavelle akan sedih. Dan lagi, anak yang dikandung Lavelle akan bingung karena tidak tahu siapa ayahnya.
“Kalau boleh tahu, apa yang membuat Pak Liam mencari Leo.” Pengacara pun begitu penasaran sekali.
“Ada urusan pribadi yang saya tidak bisa jelaskan.” Liam tidak bisa menceritakan aib adiknya itu.
__ADS_1
Pengacara hanya mengangguk saja. “Maaf saya tidak bisa membantu.”
“Tidak apa-apa, Pak. Tapi, jika tiba-tiba Leo menghubungi Anda. Tolong kabari saja. Karena ini penting sekali.” Liam berharap pengacara masih bisa membantunya.
“Tentu saja. Saya akan hubungi Pak Liam.” Pengacara Mengangguk.
Kini Liam tidak tahu harus bagaimana mencari Leo. Apalagi tidak ada petunjuk sama sekali.
...****************...
Loveta diantar Alca untuk ke rumah keluarga Fabrizio. Ternyata tidak hanya ada sang mami di rumah. Papi Dathan juga ada di rumah.
“Papi di rumah?” Loveta langsung menyalami papinya itu.
“Iya, Papi ingin istirahat.” Usia kadang membuat Papi Dathan lelah. Jadi dia memilih untuk banyak-banyak istirahat di rumah. Ke toko pun sekarang sudah mulai dikurangi.
“Papi jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah.” Loveta tak mau sang papi kenapa-kenapa. Jadi berharap jika sang papi sehat selalu.
Alca menyalami Papi Dathan. Dia yang mengantar kakaknya juga ikut turun. Karena nanti setelah ini, dia akan mengantarkan kakaknya pulang.
“Kamu kenapa bisa bersama Cinta?” Papi Dathan penasaran sekali.
“Tadi dari toko, Om. Antar mama. Dan sekarang antar Kak Lolo.” Alca menjelaskan kenapa bisa bersama Loveta.
Papi Dathan mengangguk, mengerti.
Loveta dan Alca beralih pada Mami Neta. Menyalami Mami Neta.
“Kalian sudah makan?” tanya Mami Neta.
“Sudah, Mi.” Loveta dan Alca menjawab secara bersamaan.
__ADS_1
“Aku mau ambil barang dulu. Tunggu di sini dulu.” Loveta meminta sang adik menunggu. Dia segera ke kamarnya. Mengambil beberapa barang yang akan dibawanya untuk pergi ke luar negeri.
Di saat Loveta sedang mengambil barang-barangnya, Alca memilih mengobrol dengan Papi Dathan dan juga Mami Neta. Menceritakan kuliahnya yang baru saja masuk. Kebetulan hari ini tidak ada kelas. Jadi dia bisa mengantarkan sang mama dan kakaknya.
Beberapa saat Loveta turun dari lantai atas dengan membawa satu tas kecil. Isi beberapa barang kebutuhannya.
“Kamu sudah selesai berkemas?” Mami Neta menanyakan kesiapan anaknya yang akan pergi ke luar negeri.
“Belum, setelah ini aku akan berkemas. Jika tidak selesai disambung besok.” Loveta menjelaskan sambil duduk di sebelah sang papi.
“Pesawatnya berangkat jam berapa?” tanya Papi Dathan menatap anaknya.
“Malam jam sembilan.”
“Nanti Papi akan antar ke bandara.” Melepas anaknya ke luar negeri membuat Papi Dathan was-was. Biasnya anak-anaknya selalu pergi bersamanya. Dan, ini pertama kali mereka pergi tanpanya.
“Iya.” Loveta mengangguk.
Mereka saling bercerita. Loveta menceritakan ke mana saja nanti dia akan pergi. Terutama apa saja yang akan dikerjakannya di luar negeri.
“Pi ....” Tiba-tiba di tengah obrolan-obrolan Loveta memanggil sang papi.
“Apa?” Papi Dathan selalu curiga jika anaknya memanggil seperti itu. Biasanya pasti anaknya itu ada maunya.
“Pi, Mama Arriel sudah memberikan Lolo uang saku. Apa Papi tidak memberikan?” Loveta menatap sang papi dengan senyuman terbaiknya. Merayu sang papi.
Papi Dathan sudah menebak jika Loveta pasti ada maunya.
“Mi, ambilkan ponselku.” Papi Dathan memberikan perintah istrinya.
Mami Neta tersenyum. Merasa lucu melihat aksi anaknya Kemudian mengambil ponsel sang suami.
Loveta tidak sabar menerima uang saku dari sang papi. Jika mamanya memberikan lima puluh juta, dia ingin tahu papinya akan memberikan berapa.
__ADS_1