
Loveta dan Liam berjalan memasuki pesta. Pesta digelar di taman depan rumah Liam. Dipilih outdoor agar lebih santai.
Semua mata tertuju pada sepasang suami-istri ini. Tampak terpesona dengan mereka.
Loveta tersenyum pada semua tamu undangan. Loveta ingat jika yang diundang hanya sekitar tiga puluh orang saja. Jadi tentu tidak terlalu banyak orang.
Alunan musik mengalun mengiringi mereka yang datang.
Loveta dan Liam berjalan bersama menuju pelaminan yang sudah disiapkan. Rona kebahagiaan terpancar dari keduanya. Menggambarkan jika mereka bahagia sekali.
Liam dan Loveta berdiri menghadap ke para tamu undangan. Menyapa mereka dengan tersenyum.
Saat tepat di pelaminan. Tiba-tiba Liam berlutut. Loveta cukup terkejut. Dia pikir jika tidak akan ada acara apa pun.
Liam memberikan bunga pada Loveta. Hal itu membuat Loveta bingung. Seingatnya suaminya tidak membawa bunga, lalu datang dari mana bunga itu.
“Untuk wanita cantik.” Liam menyerahkan bunga itu.
Tadi saat Loveta menghadap ke arah pada tamu, seseorang memberikan bunga di tangan Liam yang berada di belakang. Jadi jelas Loveta tidak sadar.
“Terima kasih.” Loveta tersenyum. Langsung menerima bunga yang diberikan Liam.
Liam langsung berdiri ketika Loveta menerima bunga itu.
“Aku punya hadiah untukmu.” Liam tersenyum.
__ADS_1
Tepat saat itu Evelyn datang dengan membawa satu set perhiasan. Liam segera memakaikan itu pada Loveta.
Perhiasan itu keluaran brand ternama dunia. Sebagai desainer perhiasan, dia tahu persis.
Liam memakaikan kalung, anting, dan juga gelang untuk Loveta. Mengganti perhiasan yang dipakai Loveta.
Kali ini perhiasan dari Liam pas dengan gaun yang dipakainya. Tadi memang Loveta memakai perhiasan biasa yang sering dipakainya. Memang tidak terpikir olehnya membawa perhiasan. Karena tidak berpikir ada pasta.
Tepuk tangan meriah diberikan para tamu undangan ketika semua perhiasan dipakai. Semua melihat penampilan Loveta yang begitu sempurna.
“Terima kasih.” Loveta tersenyum.
“Sama-sama.” Sebuah kecupan mendarat di dahi Loveta.
Di depan pelaminan Liam meminta mix. Karena memang bukan pesta pernikaan resmi, memang tidak ada acara apa pun yang formal.
Para tamu undangan akhirnya tahu siapa Loveta. Mereka ikut senang ketika Liam akhirnya menikah.
Tepat saat itu juga, sebuah layar menampilkan perjalanan cinta Loveta dan Liam dalam sebuah foto.
Foto-foto itu berawal dari pertama kali Loveta datang ke panti asuhan, dan beberapa foto masa kecil mereka. Sampai beberapa foto pertama kali mereka bertemu lagi hingga pernikahan mereka yang diadakan di Indonesia. Semua tergambar indah.
Loveta menatap sang suami. Dia tidak memberitahunya sama sekali. Jadi tentu saja dia merasa terkejut.
Kisah perjalanan itu membuat Loveta terharu. Suaminya benar-benar mencintai sejak kecil dan selalu menunggunya datang padanya.
__ADS_1
“Aku mencintamu.” Satu kata yang diucapkan Loveta.
“Aku juga mencintaimu.” Liam mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Memberikan sebuah kecupan.
Semua tamu bersorak bahagia melihat pasangan pengantin baru itu.
Acara berlanjut lagi dengan pesta santai. Liam memperkenalkan Loveta pada teman dan saudaranya.
Bibi Anne menangis ketika melihat Loveta. Dia langsung memeluk Loveta. Meluapkan kebahagiaannya itu.
“Maaf aku benar-benar terharu sekali. Aku seperti melihat Marlene kembali ketika melihat kamu memakai gaun ini.” Bibi Anne menjelaskan ketika pelukannya dilepas.
Loveta baru ingat jika Bibi Anne adalah teman mama Liam. Pastinya dia dulu turut hadir di pernikahan mama Liam.
“Dulu aku yang menemani Marlene membeli gaun ini. Dia mengumpulkan uang demi membeli gaun dari brand ternama di negeri ini. Ternyata toko itu tidak hanya menjual nama brand saja, tetapi menjual kualitas. Karena ternyata gaun masih cantik sekali sampai sekarang.” Bibi Anne memuji gaun yang dipakai Loveta.
Loveta memang tahu jika ini adalah gaun keluaran brand ternama. Jadi wajar jika kualitasnya bagus.
“Gaun ini pas sekali kamu pakai. Cantik.” Bibi Anne kembali memuji.
“Terima kasih, Bi.” Loveta mengangguk.
“Aku berdoa, kalian akan hidup bahagia.” Bibi Anne memegangi pipi Liam dan Loveta.
Liam sudah takut sekali akan dicubit. Namun, Bibi Anne hanya membelainya.
__ADS_1
“Terima kasih banyak, Bi.” Liam tersenyum.
Pesta begitu meriah. Semua menikmati pesta. Liam dan Loveta berdansa dengan riangnya. Tawa bahagia mereka benar-benar menggambarkan kebahagiaan mereka.