
Dua hari di kamar hotel membuat Liam dan Loveta merasa sudah cukup. Hari ini, mereka akan menikmati berkeliling kota.
Mereka memilih berkeliling di kota Roma. Menikmati bangunan-bangunan peninggalan bersejarah dan museum. Loveta begitu bersemangat mengunjungi tempat-tempat itu peninggalan romawi kuno. Setiap momen selalu bermakna. Selalu ada cerita menakjubkan yang jadi kenangan.
Loveta dan Liam berada dua hari di sana. Menikmati keindahan setiap sudut kota. Makan makanan enak, dan tentu menikmati waktu berdua.
Agenda mereka memang sangat padat. Liam sudah membuat jadwal, tetapi tidak memberitahu sang istri. Karena dia ingin memberikan kejutan-kejutan manis.
Tak lengkap jika e Italia tidak ke Napoli. Kota terbesar ketiga si Italia itu menyajikan pemandangan indah. Gunung berapi yang begitu menakjubkan, aneka kuliner, serta bangunan abad pertengahan yang sangat megah.
Loveta dan Liam menikmati pantai yang begitu indah. Angin sepoi-sepoi di pinggir pantai diiringi alunan musik menjadikan suasana semakin romantis.
“Buatlah jadwal lebih sering ke sini. Sepertinya waktu dua minggu kita akan kurang.” Sambil menikmati di pinggir pantai, Loveta mengatakan itu.
Liam hanya bisa tertawa. Ternyata istrinya suka dibawa ke negara asalnya.
“Baiklah, aku akan membawamu lebih sering ke sini.” Liam berjanji.
Di sini, mereka menghabiskan lebih banyak waktu. Pemandangan pantai memang membuat enggan pergi.
Loveta dan Liam pun memilih untuk menikmati waktu sebaik mungkin.
...****************...
“Sayang.” Liam membelai lembut wajah sang istri.
Loveta membuka matanya perlahan. “Jam berapa ini?” tanyanya.
“Jam lima.” Liam menjawab seraya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah sang istri.
Loveta masih sangat mengantuk sekali. Jika ini jam lima, artinya baru tiga jam yang lalu dirinya tidur.
“Ayo, bangun, katanya kamu ingin melihat matahari terbit.” Liam mencoba mengingatkan keinginan sang istri.
__ADS_1
Sejenak Loveta memaksa membuka matanya. Menatap sang suami. Wajah tampan sang suami menyambutnya.
“Apa belum terlambat untuk melihat matahari terbit?” Jika di Indonesia, dia akan bangun jam empat biasanya matahari terbit.
“Tentu saja tidak. Matahari terbit jam enam di sini.” Liam memberitahu sang istri.
“Baiklah.” Loveta mengangguk.
Liam bangun lebih dulu. Dia hanya memakai celana boxer saja. Kemudian membuka jendela kamar. Mereka memang hanya akan melihat matahari terbit dari kamar. Karena matahari terlihat dari kamar.
Loveta bangun dan bersandar ke headboad tempat tidur. Dia menarik selimutnya. Di dalam selimut itu jelas tak ada sehelai benang pun menempel di tubuhnya.
Liam mendekat ke arah sang istri. Sang istri langsung menyambutnya dengan membuka selimut. Meminta Liam bergabung di dalamnya. Tentu saja itu dimanfaatkan Liam dengan baik.
Di dalam selimut mereka merasakan kehangatan ketika tubuh mereka bertemu. Kehangatan yang hanya bisa dimiliki oleh mereka.
Matahari perlahan menampakkan sinarnya. Keluar dari balik gunung dengan malu-malu. Memperlihatkan sinarnya perlahan. Warna jingga yang keluar tentu saja sangat cantik berpadu dengan langit hitam yang perlahan membiru.
Pemandangan semakin indah dengan garis pantai yang berada di depannya. Lukisan nyata yang begitu menakjubkan.
“Iya, cantik.”
Loveta melihat ke arah Liam. Sayangnya, bukan pemandangan itu yang dilihatnya. Melainkan dirinya. Tentu saja itu membuat Loveta aneh.
“Yang cantik pemandangan di sana, bukan di sini.” Loveta menegur sang suami.
“Tapi, yang di sini lebih cantik.” Liam menarik tubuh sang istri. Tangannya mulai bergerilya di dalam sana. Menjangkau tempat-tempat favoritnya.
“Sa-yang, a-ku ingin me-lihat ma-ta-hari terbit.” Suara yang terbata itu tercipta karena sentuhan Liam membuatnya tak kuasa menahan diri.
“Matahari tetap akan terbit.” Liam mendaratkan bibirnya di bibir sang istri.
Loveta menikmati ciuman itu. Larut dalam kenikmatan yang menjadi candu. Keduanya menikmati kegiatan ditemani dengan matahari yang terbit. Di dalam selimut keduanya larut dalam pertemuan untuk mencapai kenikmatan. Tak pernah ada habisnya untuk selalu digapai.
...****************...
__ADS_1
Dari Roma, Liam mengajak Loveta ke Milan. Milan adalah kota mode setelah New York dan Paris. Jadi tidak lengkap jika tidak ke sana. Di sana brand-brand ternama lengkap sekali. Jadi tinggal memilih saja.
Sisa hari dimanfaatkan Loveta dan Liam dengan baik. Hari ini, mereka akan beli beberapa hadiah untuk oleh-oleh.
Liam dan Loveta menuju kw butik terkenal. Membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarganya.
“Belilah apa yang kamu inginkan. Jangan pikirkan harganya. Kamu punya suami. Biarkan suamimu bekerja keras untuk memenuhi keinginanmu. “ Liam memberikan peringatan lebih dulu sebelum Loveta berbelanja.
“Baiklah, aku akan berbelanja sampai kamu yang akan menghentikan aku.” Loveta menggoda sang suami.
Liam hanya tertawa. Dia sadar jika istrinya tidak akan benar-benar melakukannya.
Loveta memilih-milih hadiah untuk keluarganya. Untuk Mami Neta dan Mama Arriel, Loveta membelikan tas. Untuk Nessia, Dannis, dan Alca, dia membelikan baju. Untuk Papi Dathan dan Papa Adriel, dia membelikan dompet.
Membelikan hadiah untuk orang-orang disayanginya, memang membuat Loveta senang. Paling tidak, dia bisa membahagiakan keluarganya.
“Kamu sudah dapat hadiahnya?” tanya Liam.
“Sudah.” Loveta memamerkan apa yang didapatkannya.
Liam melihat hadiah yang dibeli oleh Loveta. Dia merasa jika itu sudah pas untuknya.
“Jangan lupa beli untukmu juga.” Liam memperingatkan istrinya.
“Aku juga?” tanya Loveta.
“Iya, Sayang. Belilah lagi.” Liam membelai lembut rambut sang istri.
Loveta merasa jika barang-barang yang dibeli Evelyn waktu itu masih cukup banyak.
“Jika kamu tidak mau pilih, aku yang akan pilihkan.” Liam memberikan ancaman ketika melihat sang istri diam saja.
“Aku akan pilih.” Loveta langsung menjawab. Tak mau suaminya yang pilih lagi. Kali ini, harus dirinya yang memilih.
Loveta memilih beberapa baju dan tas. Tentu saja yang sesuai dengan keinginannya. Loveta membeli barang-barang itu sesuai kebutuhannya saja. Tidak berlebihan.
__ADS_1